Hari ini keliling seperti biasa. Jalan ditutup namun tetap saja tidak rapat, atau mungkin jalan memang sengaja ditutup ketika rapat akan dimulai saja. Tiga puluh dua derajat merupakan sore yang esensial bagi orang yang akan mengamati bintang kejora. Tanggal tiga belas sampai tanggal lima belas adalah waktu yang tepat untuk memanjakan jiwa. Matahari, rembulan, siluet tumpukan gunung yang melingkar membentuk ruang yang menggembirakan. Bulan ini ditengarai sebagai masa-masa pengorbanan. Lurus, memanjang, dan hal-hal yang tak menggembirakan. Tegak, menantang, dan hal-hal yang tak meyedihkan. Sesekali melihat garis pembatas yang memang menjadi pedoman agar tidak jatuh dari lintasan, paling tidak semoga tidak terlempar jauh dari orbit yang sudah ditetapkan. Mau menetap atau hengkang begitu saja, pergi memang selalu bersanding dengan peristiwa kehilangan. Pergi juga selalu menjadi orbit bagi segala sesuatu yang bersiap untuk pulang.
Berpetualang hingga ke Roannapur, meninggalkan jejak langkah di Baghdad, menyelam di antara gang para penyamun Tijuana. Kecoa yang terbang ke Jupiter, doa yang melayang ke sabuk Orion, kutub paling dingin dari debu-debu Andromeda. Melaju menyusuri kotak-kotak harapan yang disimpan rapi, membuka satu-satu kenyataan yang tak pernah diraih. Menghambur-hamburkan kepedihan sewaktu remaja, menyia-nyiakan kebahagiaan sewaktu dewasa. Terkadang menjadi kecil dengan merengek dan sulit tidur pulas. Terkadang menjadi besar dengan memantapkan keragu-raguan. Hari ini keliling seperti biasa. Kematian digantung sebagai ketakutan orang-orang di perempatan. Kematian tergeletak di lorong-lorong yang dipenuhi reaksi kimia. Kematian hadir sebagai langit-langit kamar, terkadang juga sebagai bantal yang mau mendengarkan keluh kesah. Menuju puncak tertinggi adalah kiasan-kiasan yang selalu punya pengampunan.