Matinya Perapian dan Cakrawala yang Menjauh
di sini dingin sekali, khas sebuah pergantian musim.
langit membentuk langit-langit dengan deburan debu
merah, kuning, biru, berkedip seperti kunang-kunang,
bergurau seperti kupu-kupu, malam pun enggan muram.
cakrawala menipis dan makin terasa menjauh saja.
sudah beruntung adiwarnanya memenuhi tepi bumi,
bola gelinding yang membuatku bertaruh pada mimpi
yang terkadang berhenti di tengah peristirahatan.
sedang angin lembah menjamah helai-helai rambut
menyadarkan bahwa yang sehat juga bisa keriput
sungguh menusuk, terkadang sakit, terkadang nikmat
bait-bait suci juga tak pernah memandang sekat
tak pernah sebelumnya kurasakan yang begitu beku
tubuh membiru dan muka begitu pucat, bibir yang
mengering karena tak mampu mengucap kalimatβ
syukur, minta ampun, memohon-mohon harapan
seolah-olah darah menggumpal dan terkadang sulit untuk
menyalakan korek api, atau mengetik curahan hati.
di kondisi sulit dan dingin inilah waktu terasa melambat,
tak ayal rasanya jika diri suka terbawa ke dalam sanubari:
kekecewaan dan roman semangat tentang masa lalu,
menertawai jerih payah yang payah hari ini, atau sekedar
mereka-reka pesimisme di kemudian minggu.
hari yang selalu baru dan gelak tawa yang bersahut-sahutan
adalah hal-hal magis yang kerap dirindukan
udara kamar tidur, sepeda doltrap merah muda,
atau aneka cerita kesedihan teman-teman.
di saat-saat penuh kagum seperti ini
lalu menepilah aroma bunga kenanga
seakan mengingatkan, bahwa beberapanya telah mati
dan mati adalah puncak kepergian, bukan?
sekali lagi di sini dingin sekali.
hanya sepi dan sebatang surya
hingga aku ingin bercerita secara langsung
dengan perhatian dan kehangatan
yang sungguh-sungguh hidup
yang tak mengenal mula ataupun akhir
yang tak mengenal cara-cara memurnikan cinta
bahkan untuk cita-cita yang mulia.
bintang memang bertaburan
berlinang di antara kabut lima derajat
terkadang menari, ada juga yang melesat
seperti adukan susu dengan rempah pilihan
sekejap membuatku mengerti dekapan hangat
karena penciptaan tak hanya tentang olah ragawi
kuyakin siapapun yang membaca ini juga merasakannya.
hidup, selagi redup dijadikan suatu bimbingan.
renung, sebelum terang berusaha membutakan.
kecurigaan datang dari jarak yang jauh
kecemburuan datang dari jarak yang dekat
menjenguk sunyi, mengetuknya, barangkali ia sudah avant-garde(?)
dan bersiap mencium kening yang berkeringat.
dan di sini dingin sekali.