" Kali ini apa?"Diam. Mulutnya mengatup. Jemari mengetuk- ketuk meja, dan raut muka aneh itu muncul lagi. Seperti minggu lalu, saat ia merengek meminta sepatu baru.
"Jika rautmu begitu aku harus apa?"Kini, giliran kopi yang diaduk- aduknya. Masih tanpa kata, bosan menunggu dan menanggapi tingkah mahluk satu ini, tapi apa daya? hati sudah tertambat!. Jika dipaksa tarik pun pasti ada bekas yang tertinggal. Seperti dua kertas yang saling direkatkan dengan lem yang sanagt kuat. Meski kau menariknya perlahan tetap saja ada bagian yang akan tertinggal dan membekas.
"Rey"Kuangkat wajahku, memandang wajah kecutnya itu. Sial. Tidak bisakah dia menghilangkan ekspresi menyebalkan itu dari wajah manisnya. Masih menunggu kalimatnya yang tak kunjung berlanjut. Sulit rasanya menerka apa maunya jika sudah begitu.
Aku sepertinya membutuhkan palu untuk memecah kebekuan ini. Kuletakkan telapak tangan di atas meja. Saling bertautan. Ibu jariku tak henti hentinya bersaling- silang. Gelisah!.Ada hangat yang tiba- tiba melindungi punggung tanganku dari dinginnya ruangan ber-AC ini.
Matanya dan mataku bertemu untuk sekian detik pada titik kehampaan. Dan lagi tak ada kata yang terucap dariku maupun darinya. Bisu!. Hanya saling pandang dengan ribuan terjemahan yang berbeda.
"Kumohon,..."Suaranya rendah, lirih mengiba. Seperti ada sesuatu yang fatal. Membingungkan, mengeja setiap gerak- geriknya juga percuma. Apa memang wanita, diciptakan untuk menjadi serumit ini?. Dan anehnya aku masih bertahan menikmati setipa kerumitan- kerumitan itu. Aku ini bodoh atau apa? ataukah memang pria tercipta sebodoh ini hanya untuk memahami kode- kode, tapi kurasa memecahkan kode biner lebih mudah dari ini.
"Jangan membuang waktu, kau tahu aku masih memiliki banyak hal yang harus dikerjakam" Ingin rasanya mengatakan hal itu, tapi lidahku tak sanggup. Apa ini tindakan pengecut ataukah memang pria selalu lemah di hadapan wanita?
"Maafkan aku,..."
Lagi- lagi tanpa alasan yang jelas, dan sangat sulit untuk kupahami.
"Maaf untuk apa?"
tak peduli itu pertanyaan bodoh yang bisa jadi memperburuk suasana. Nyatanya aku memang menjadi bodoh dengan segala kerumitan ini. Tanpa ada jawaban, untuk yang kesekian kali, kebosananku semakin bertumpuk tumpuk. Apa aku harus menubruk semua ini, tapi apakah itu bukan tindakan kasar dan semena mena?. Sial. Tangannya semakin erat menggenggam telapak tanganku. Tuahn apa yang harus aku lakukan? Ah kurasa Tuhan pun tak akan menjawab pertanyaan konyol ku ini. Bukannya aku tidak bersyukur sudah diberi akal sehat dan mampu menganalisis segalanya, tapi nyatanya semua ini tidak dapat aku cerna. Rumit!. "Kumohon Rey, maafkan aku!"
Permintaanmu membingungkan Diany, dan semakin sulit saja. Apakah memang perlu memaafkan tanpa tahu apa kesalahan itu. Sebegitu beratkah untuk mengungkap apa yang sedang terjadi padamu, padaku, pada kita?. Rasanya sungguh tak adil untuk memaafkan tanpa ada kesalahan.
Jika terus begini apa sebaiknya aku keluarkan saja cincin yang sudah kupersiapkan itu. Tapi aku sudah mengatur hari yang tepat untuk menyatakannya. Ah sebaiknya tak perlu lagi ditundan, toh sama saja, sekarang atau nanti, aku akan tetap melamarnya. Baiklah, aku sebagai lelaki memang harus lebih peka, lebih bertindak cepat.
"Baiklah, jika kamu hanya diam, aku ingin mengataka sesuatu lebih dulu padamu. Tapi, sebelum itu aku mau kamu tutup mata"
"Setelahnya, kamu boleh mengatakan apa yang kamu mau dan aku akan memaafkanmu apapun itu, meskipun kamu tak seharusnya meminta maaf karena aku sudah memaklumi segalannya darimu".
"Aku yakin, aku siap!" Intonasiku sedikit kutekan, menghilangkan kegugupan yang sebenarnya masih meremat remat jantungku.
"Tapi Rey?"Kugelengkan kepalaku, kuletakkan jari telunjukku tepat menyentuh bibir munglinya yang bergetar.
"Tutup mata!"
"Tapi Rey" Sekali lagi aku menggeleng.
"Maafkan aku, aku tak bisa melanjutkan hubungan kita ini. Kumohon jangan marah, segalanya berubah Rey, termasuk perasaanku padamu yang kini memudar. Maafkan aku, aku menyayangimu tapi bukan seperti itu lagi"
"Ta.."Aku bingung, marah tapi tak bisa, kesal menyulut degub ku yang semakin mengencang. Tanganku gemetar, telingaku panas, sepertinya aku salah dengar, atau akau yang pura- pura tak mendengar, apa ini yang namanya rasa takut akan kenyataan pahit.
"Maafkan aku, aku harus pergi!"
Jangan kau tanya kenapa bisa begini, aku saja tak mengerti. Bahkan Diany pun tak memberikan alasan, aku tak tahu bahkan kurasa hubungan ini baik- baik saja. Meski aku berhak mempertanyakan itu, tapi aku masih tak percaya satu tahun hanya berakhir dengan tanpa alasan. Apa memang wanita serumit itu, apa memang ada perubahan dalam diriku. Aku tak habis pikir, rasanya baru kemarin aku bertemu dengannya. Bahkan kehangatan tangannya masih tertinggal. Jika semua harus berakhir seperti ini untuk apa ada pertemuan. Bukankah dua kertas yang saling direkatkan bila dipsahkan kembali akan tetap ada bekas yang tertinggal, entah itu luka atau kenangan pahit yang mencekik. Aku tak mengerti dan benar- benar tak mengerti. Bodoh,
#Novembaper #FlashFiction #HariKe7