K-drama review: My Liberation Notes
Mulai nonton ini ngga sengaja karena start-nya barengan sama Our Blues. Muncul di home Netflix, terus tertarik aja untuk nonton. Nggak ada ekspektasi apapun, dan nggak tau jalan ceritanya sama sekali.
Judulnya My Liberation Notes, dan sepanjang 16 episode ini kita akan diperkenalkan sama tokoh-tokoh yang begitu riil, dengan permasalahannya masing-masing, bagaimana mereka terkungkung di dalamnya, dan juga bagaimana masing-masing mencari cara untuk bisa ‘terbebaskan’.
Pas nonton episode pertama, first impression-ku adalah: kok realistis banget ya. Haha. Begitu bleak. Mundane. Agak depressing. Hidup masyarakat perkotaan yang emang begini-begini aja agak statis: kerja 9 to 5 dan waktu yang habis di jalan untuk commuting karena rumah di area suburban. Mijeong si anak bungsu yang masih pegawai temporer, diperlakukan kayak keset sama atasan super rese-nya di kantor. Changhee si anak tengah, dengan kolega mengesalkan dan pekerjaan yang cukup menyedot energi karena harus ngurusin store owner satu persatu. Gijeong si anak sulung yang dramatis, punya pemikiran yang aneh, dan juga bertekad untuk mencintai siapapun di musim dingin tahun itu.
Yang terakhir adalah Gu-ssi, atau Mr. Gu. Orang asing yang juga merupakan tetangga dari ketiga Yeom bersaudara. Pas awal-awal aku gak paham ini Gu-ssi siapa sih, gaada penjelasan siapa-siapa. Oh karena semua tokoh utama + ayah-ibu juga nggak tau orang ini siapa 🤣 Hanya orang asing dengan vibe super gloomy, gak punya semangat hidup, minum alkohol dari pagi sampai pagi lagi, yang mungkin bikin sepasang suami-istri yang sudah tua ini jadi merasa simpatik dan secara insting memutuskan untuk ‘looking after’ him.
Skripnya bener-bener juara. Banyak monolog dan juga dialog yang bikin mikir - tentang hidup nih sebenernya ngapain sih, kenapa rasanya melelahkan? Mijeong ini super awkward dan jarang banget berpartisipasi aktif kalau lagi kumpul sama teman-teman kantornya, tapi kalau lagi sama Mr. Gu - wah - semua omongan dia bisa jadi #QuoteoftheDay. Omongan Changhee juga banyak yang ‘ngena’, suprisingly sangat dewasa dan bijak, dan dia juga punya peran yang penting banget di 1/3 akhir series. Kalo Gijeong? Jujur w merasa dia harus lebih banyak berpikir sebelum ngomong. Begitu banyak blunder🙂
Jujur adegan dimana para tiga bersaudara ini ada di frame yang sama dengan ayah dan ibu mereka itu bener-bener menyesakkan. Haha. Sad but true. Nggak paham kenapa ada keluarga yang se-senyap itu, yang nggak berkomunikasi dengan baik antara satu sama lainnya, dengan ayah yang begitu irit bicara, pasif, dan terlihat begitu ‘kosong’. Di sisi lain, hari-hari si ibu juga diisi dengan ‘kelelahan’ dan omongan yang keluar dari mulut beliau mayoritas berupa keluhan. Bikin stress.
Agak sedih juga sih bahwa dinamika mereka sebagai sebuah keluarga harus dimulai dengan kematian seseorang yang begitu tiba-tiba. Episode 14 was so difficult to watch because my eyes were filled with tears. Kayak.... tragis aja gitu. Sesek. Tapi ya, hidup emang gitu gak sih. Diterima aja. Yang penting adalah bagaimana yang masih hidup berusaha untuk terus melanjutkan hidup. Dan untungnya hubungan mereka memang jadi lebih baik sih. Cuma, ya, kenapa harus nunggu salah satu orang paling penting untuk pergi dulu :’(
DAN yang paling bikin aku betah nonton series ini tentu saja adalah loveline antara Mijeong dan Gu-ssi yang sungguh bikin gereget. Dimulai dengan proposal Mijeong yang absurd dan tidak disangka-sangka - untuk meminta Gu-ssi ‘memujanya’. Kayaknya itu titik awal dimana Gu-ssi mulai menemukan excitement di kehidupannya yang waktu itu nggak lebih dari sekedar fase limbo. Sungguh minim skinship (cuma ada 1 adegan ciuman dan itu pun zoom out 😭😭😭😭😭), tapi tiap kali mereka berdua ada di satu frame yang sama rasanya mau jerit.
Pengen banget sih beli versi bukunya atau printed script-nya gitu untuk baca ulang semua omongan para tokoh yang begitu cemerlang ini. Karena kalau nonton ulang jujur bikin hati terasa berat lagi. Haha.
PSA: kalau udah beres nonton My Liberation Notes, coba deh lanjut nonton Nothing Serious (2021). Film dimana Gu-ssi jadi laki-laki normal tanpa masalah besar dan juga dialog-dialog receh ala romcom!! Bayangin aja si tokoh utama ceweknya diganti jadi Mijeong.