Manusia sering kali lupa bahwa ada dan tiadanya dirinya tak merubah realitas yang ada. Kamu bisa renungkan sebagai ini: mati hari ini atau nanti, adakah yang menangis untukmu? Atau, adakah yang berhenti bergerak sepeninggalan dirimu di luasnya bumi ini? Tidak. Semua tetap bergerak, berjalan dan kembali pada porosnya masing-masing.
Anak-anakmu tetap tumbuh dan pergi ke sekolah seperti biasa. Padahal, dulu kau katakan, "anak-anak tak bisa makan dan sekolah kalau aku tak ada, aku harus berjuang untuk anak-anak tercinta."
Jika kau seorang karyawan, seseorang akan mengambil alih pekerjaanmu dan perusahan kembali bergerak. Atau, jika kau ahli di satu bidang tertentu, ada orang lain yang mengambil alih profesi sehebat dan semahir apa pun pekerjaanmu itu. Akan ada orang lain yang menggantikannya. Dunia tetap pada porosnya. Bergerak semestinya. Satu hilang seribu datang. Kosong akan terisi dan begitu seterusnya.
Orang tercinta yang paling kau sayangi, barangkali akan jadi orang yang sangat kehilangan dirimu. Tapi, perut yang lapar akan tetap disumpal makan dan leher yang dahaga akan tetap disiram minum. Sama seperti ada dan tiadanya dirimu. Boleh jadi tak ada dirimu yang menafkahi kehidupanmu. Tapi akan ada yang menggantikan peran-peran itu karena memang sesungguhnya, kamu-dia-saya dan kita semua memang hanya pemeran di panggung besar realitas kehidupan ini.
Sekali lagi, ada dan tiadanya dirimu dunia tetap bergerak dan bumi tetap berputar menuju penghabisan kepada Dzat Yang Maha Kekal. Oleh karenanya, jalani dan lakukan yang terbaik yang bisa kamu lakukan. Apa pun peran yang diberikan, terima dan lakukanlah dengan penuh lapang dada.
Orang kaya, orang miskin, pengangguran, orang kantoran, pedagang kecil, pebisnis besar; seorang ayah, seorang ibu, seorang anak, seorang kakak, seorang adik; menjadi tukang ojek online menjadi tengkulak saham, menjadi pengedar, pengajar, pendidik, perampok atau pun koruptor... Baik buruknya peran-peran yang ada telah teratur pada porosnya. Berani korupsi akan ada KPK yang membasmi. Berani mencuri, merampok atau membunuh dengan cara yang paling keji, akan ada polisi yang beraksi. Berani menipu dan memanipulasi, akan ada hukum yang selalu adil mengadili.
Seburuk-buruk hukum di lantai bumi ini, masih ada satu hukum yang tak mungkin bisa dihindari. Kuasa Sang Maha Adil dan Maha Bijaksana. Hari ini maling ayam lolos dari patroli hansip, esok lusa pasti digeruduk massa. Hari ini pengguna narkoba bebas tertawa seolah bisa membelakangi polisi, esok lusa mereka ada di balik jeruji. Hari ini ada hak dan milik orang lain yang kau manipulasi, esok lusa pasti merugi kehilangan sesuatu yang berarti.
Manusia kadang lupa dan memang tempatnya dosa. Itulah mengapa kita perlu beriman pada hari akhir, bukan? Karena baik-buruknya amal yang kita kerjakan hari ini, ada untung-rugi di kemudian hari. Hitung-hitung lah sendiri, sebelum kau diperhitungkan dan dituntut pertanggungjawaban.
Wahai pemuda murung yang masih menghisap narkoba, bersediakah kamu dipenjara? Tentu jawabanmu: Tidak! Lalu mengapa masih kamu menghisap kabar duka? Karena kamu terlalu kuat dan percaya diri bisa membelakangi hukum di suatu negeri. Wahai pemuda murung penghisap kabar duka, sungguh nelangsa dirimu menutup diri dari Sang Kuasa. Allah meliputi orang-orang yang menutup diri dari kehadiran Nya. Adakah hukum kuasa Nya yang mampu kamu belakangi? Jika iya, silakan cari tempat lain selain bumi yang kau singgahi.
Wahai suami dan istri yang masih sibuk mendebat ekonomi. Dengarlah hujan saat ia datang dan lihatlah tumbuhan serta buah-buahan yang ranum bermekaran. Kalian adalah pemeran utama, mengapa sibuk menulis ulang cerita? Bacalah skenario yang ada, terima dan rasakan betapa hidup ternyata sebegitu nikmatnya. Kemana kalian selama ini?
Wahai anak yang membenci ibu dan ayah, mengapa hidup terasa begitu payah? Tak Sudi hidup susah atau tak puas hidup berlimpah harta? Ingatlah, adanya dirimu saja di kolong langit saja sebuah nikmat yang selama ini... ke mana nurani hatimu? Terimalah dengan lapang dada dan mainkan peran kehidupan ini dengan cantik dan ciamik. Kenyataan memang menyakitkan, tapi menerima adalah pil pahit yang melegakan. Memangnya, kau bisa memilih untuk bisa dilahirkan? Kuasa kah kau memilih, siapa orang tua yang kau inginkan? Tidak. Kita semua sama. Tak bisa menentukan dari mana kita memulai kehidupan. Tapi satu hal yang pasti, kita semua sama bisa menentukan akhir kehidupan di dunia dan akhirat sejak saat ini. Sekarang juga. Kamu tidak sendirian. Selamat datang di pintu-pintu surga yang dijaga malaikat bernama kerelaan. Rida awal dan hingga akhir menjelang dan kita semua berpulang. Membawa sedikit banyaknya bekal, dari dunia yang sekarang ini kau sibukkan.
Wahai ibu dan ayah yang telah bercinta dan berhadiah anak, terimalah anak-anak kalian sebagaimana kalian menerima kenyataan atas kekurangan diri kalian. Sekuat apa pun memaksa dan melempar harapan dan cita-cita setinggi-tingginya pada anak-anak tercinta, yakinlah tak ada air yang tak jatuh kembali ke tanah bumi. Kalian mengerti gravitasi? Kenali potensi arahkan ke bumi. Langit bertabur bintang ada sebagai penunjuk arah di kala malam. Tunjuk dan pilih lah rasi bintang mana yang hendak dituju karena ke mana pun tujuan, kaki melangkah di atas tanah dan tubuh hancur dibaur bumi. Kalian yang sedang berhenti membaca dan meraba makna, betul? Itu anak, bukan punya kalian lalu mengapa begitu repot menentukan! Berilah pengetahuan dan pendidikan, itulah tugas dan peran mulia kalian. Syukur-syukur bisa mengenalkan kepada Tuhan. Amin.
Untuk saya yang sekarang sedang menulis, bacalah tulisanmu dari awal sampai titik terakhir setelah kalimat ini.
Pamulang, 4 Rabiul Awwal 1444H
















