Ruangan tampak terang di depan jendela besar ruang depan yang sunyi. Dari belakang tampak wanita duduk menunduk, sesekali menatap hampa ke cahaya matahari yang menembus kaca. Di pangkuannya, ada pena yang sedang menari di atas kertas-kertas putih. Pena itu terus mengikuti gerak-gerik sang jari. Menit-menit telah berlalu. Terlihat tulisan tangan yang tersusun dari huruf-huruf yang menyatu mengungkapkan perasaan. Lembaran itu tidak bisa menampung lagi barisan kata yang sampai di akhir garis. Berjalan ke lembaran selanjutnya. Sang pena heran, tidak hanya garis-garis hitam kata yang terukir dari dirinya yang ada, titik-titik air jatuh membasahi tinta yang ada. Ia untungnya tidak memudarkan kalimat yang tertulis. Apa yang sedang sang pena lakukan? Sang pena sedang membantu pemiliknya menulis ekspresif rasa patah hatinya. Rasa yang membuatnya mempertanyakan kegelisahan hatinya. Rasa yang membuatnya menitikkan air mata. Hatinya patah mengingat kisah harapan yang terlanjur dilayangkan kepada ia yang tak berakhir bersama. Tidak cukuplah sang pena membantu mencoret cerita untuk menata hati dan menyuratkan rasa. Waktu dan ruang pun bahu membahu menjadi wadah untuknya memudarkan visual kenangan. Mengikhlaskan takdir yang memang tidak tertulis di tangan. Nantinya, sang diri membangun kembali konsep-konsep yang harus ditata ulang seperti hatinya. Mengapa harus ada dan mengapa harus tiada? Mengapa harus terjadi dan mengapa tidak bersama? Nanti akan ditemukannya mengapa bukan dia. Saat celah-celah jari yang memegang pena itu diisi oleh jari lain yang dihalalkan Sang Maha Cinta untuknya. Untuk melengkapi lika-liku cerita pelajaran mengapa harus patah hatinya. #writefromhome #day8 #ceritapatahhati #moveonshalihah #chansonslafrancaise Mengapa ini semua terjadi. (at Nice, France) https://www.instagram.com/p/B-ZldE9HVcZ/?igshid=cskdh25uskbq










