Terjajah di Negeri Sendiri.. (part 1)
Oke, jadi beberapa hari terakhir ramai banget tentang kasus bule Bali imigran yang tinggal di Bali dan ngajakin turis asing buat ke Bali di masa Pandemi, dan dengan visa turis dia buka bisnis wisata menetap di Indo tanpa bayar pajak. Anehnya ketika orang-orang Indo mengkritik keras tindakan dia, justru si dia ini playing victim bahwa kita mendiskriminasi dia karena warna kulit dan orientasi seksual. Kurang lebih gitu ya
Next, ada yang aneh lagi menurut gue, gimana liat trending youtube yang kelihatan seperti video anak-anak tapi terusmenerus trending beberapa waktu, videonya berganti-ganti tapi dengan konsep yang sama, sebelumnya gue gak tertarik dan gak pernah untuk nonton,tapi akhirnya gue buka video coklat asli dan palsu dll itu yang seketika bikin gue agak kaget, dimana channel go go Indonesia, dengan narator berbahasa Indonesia , dan target penonton jelas orang Indonesia tapi di video itu jelas bule bule asing yang berperan. dan setelah gue buka, ternyata ada banyak banget channel berbeda dengan nama yang mirip-mirip dengan design konten yang sama. Narasi, pemain dan target pasar. well ini sangat mengejutkan sih buat gue.
Lompat sedikit, gue dari dulu ngikutin gita savitri, syarif zapata dan beberapa diaspora lain yang punya konten pengetahuan yang menarik, ya ambil yang baik buang yang buruk aja sih. Banyak banget pendapat mereka yang gue gak setuju, tapi cara mereka mengulik isu, daya analisa, nalar kritis, wawancara orang as neutral person itu yang bisa dipelajari. Karena manusia pasti berubah. Dan gue memperhatikan semakin banyak influencer asing yang menetap di Indo, dan para WNI yang menetap dan bekerja di luar negeri, menjadi diaspora. dan menjadikan perbandingan budaya dan agama sebagai konten dan jelas lagi lagi Indonesia sebagai target utama pasar penonton.
Dan lagi ketika gue nonton beberapa video syarif apakah para diaspora ini ingin menghabiskan masa tua di Indonesia atau di Eropa, mereka jelas memilih di Indonesia, karena para lansia di Eropa terlihat sangat menyedihkan disana, tapi ketika ditanya untuk saat ini alias masa muda dan bekerja, mereka tetap ingin menghabiskan di Eropa, karena fasilitas yang bisa dinikmati dan gaji tunjangan yang besar.
Bisa kebayang gak apa korelasi dari semua fenomena-fenomena sosial media ini? Semua ini terasa sangat berkaitan sama pelajaran yang gue pelajari di mata kuliah manajemen lintas budaya dan manajemen internasional. Ini bener-bener yang dinamakan ancaman globalisasi dan kembali terjajah di negeri sendiri.
next part 2..
Bandarlampung | sarabita





















