Foto2 ada di http://hannysanjs.multiply.com/photos/album/226
(* Maaf ceritanya mulai dari Day 12, karena Day 1-11 *filmnya* masih hilang, lagi dicari, nampaknya ketinggalan di Jakarta [DOH!], nanti kalau filmnya sudah ketemu saya *afdruk* dulu, *scan* terus upload ya =)). Jadi sementara ceritanya mulai dari DAY 12 - DAY 35 saja dulu ya bo hehehe *)
Apa yang terbersit di benak Anda kalau diminta menyebutkan 3 makanan khas Pekalongan?
Megono, Megono, Megono.
Halah! Kalau diperluas jadi 10 magnificient foods from Pekalongan barulah yang lain muncul:
Garang Asem (yang paling aneh karena melanggar pakem Garang Asem daerah lain), Cumi Item, Tauto Pekalongan, Sambel Tauco, Sego Uwet, Ayam Opor (stuffed chicken lho bukan berkuah), Kepiting Gemes.
Kenapa Megono disebut tiga kali? ya karena saking populernya. Kota yang penuh dengan warung megono dari ujung ke ujung ini memang pemakai Nangka Muda terbesar di dunia tentunya.
Pekalongan, sebagaimana kita ketahui secara umum dikenal sebagai kota Batik, sebenarnya menyimpan rahasia yang tak banyak orang tahu, yaitu adalah kota kelahiran Batman sebelum hijrah jadi TKI ke Gotham City, secara waktu kecil Batman disebut Kalong. Ternyata sejak dulu Indonesia sudah terkena imbas brain drain. Kalau tahun 2000-an yang hijrah adalah Professional IT, di tahun 40-50an superhero2 kitalah yang hijrah keluar negeri. Di kala itu potensi2 terbaik bangsa akhirnya pindah ke US menyusul Godam karena Bruce Wayne merasa potensinya tidak disupport PSSI (Persatuan Superhero Seluruh Indonesia) dengan baik. Karena nasionalis banget ya bo, tadinya Bruce Wayne masih ingin pakai nama Kalong dengan mengenakan kostum Batik, sekalian untuk mempromosikan Indonesia. Tapi lagi2 pada masa itu KADIN Indonesia kerjanya kurang begitu bagus sehingga supply Batik ke US agak seret. Akhirnya dengan semangat untuk mempromosikan Indonesia, Bruce ganti nama menjadi BATman untuk mengingatkan kota BATik Pekalongan hometownnya dan pas banget secara BAT = Kalong. Superhero lokal lain misalnya, Godam, jauh hari sebelumnya sudah pindah juga ke US dan diabadikan namanya jadi Gotham City itchu, D-nya lebih disesuaikan selera US karena sesampai di sana ia selalu mendapat HAM dan waktu datang ke sana ia sangat senang makan Ham, maka jadilah ia berganti nama jadi Got-Ham. Gundala juga pindah serta ganti nama jadi Flash. Gina pindah juga berganti nama jadi Wonder Woman.
Acara pulang kampung kali ini diawali dengan mengunjungi RM TJUKUP ini. Dari Pemalang ingin menuju ke Semarang berangkat sekitar jam 10 pagi, mau nggak mau harus mampirnya di Pekalongan kali ya bo secara banyak pilihan dan banyak makanan yang mantep2 unik khas Pekalongan sarapan kedua. Tadinya mau makan di RM Nasi Uwet Zarkasih yang di Jalan Irian, tapi gak yakin karena bawa anak2 nanti mereka makan apa, masa berat banget pagi2 sudah Kambing2an secara akyu juga nggak ngefans banget makan Kambing2an terkecuali masakan Kambing dari Semarang (di Semarang Gule Kambing tidak pakai santan jadi guilty feelingnya gak gede2 amat) dan Solo.
Kita mampir di RM TJUKUP karena spektrum pilihan makanannya luas. Yak, dari ejaan namanya saja soedah djelas toh kalau ini rumah makan soedah tjukup toea, ya ndak nip? Resto2 tua selalu menjadi tempat yang menarik dan asik untuk melakukan petualangan rasa atau sekedar ingin menemukan mazhab makanan yang otentik pada jamannja atau sekedar menambah pengetahuan kuliner (jangan diterjemahkan jadi "kuli-nari" ya bo).
Berbeda dengan resto2 baru upscale yang mengusung genre oldies di belahan Jakarta yang semuanya lalu menjadi amat artifisial (misalnya Dapoer Babah, Tiga Janda, Intan Berdoeri, eh yang terakhir gak ada ya), bila di kota ketjil menemukan nama RM dengan ejaan kuno begini, maka semuanya masih terasa nathlink (natural) gitu ya bo, tidak dibuat2, tempatnya walaupun agak dekil, dapur di belakangnya juga agak-agak eerie (sorry ya parikesit namamu dipinjem son), interiornya masih ala RM Jadoel, meja2 besar panjang tumpah ruah mengisi ruangan besar menyambut pelanggan dari segala macam lapisan yang datang dan pergi. Bisa saja kita duduk bersebalahan atau berseberangan dengan pelanggan lain yang tidak kita kenal. Percakapan antar pelanggan-pun menjadi hal yang biasa "Piye kabare son?", "Bleh ngana". Begitu dekat, begitu nyata, hehehe. Tidak seperti sekat2 2L2G (Lu Lu Gue Gue) yang sering ditemui di resto2 kota besar, di sini menerapkan 4L (Lu Lagi Lu Lagi) lha wong yang dateng ya itu-itu lagi everyday is eveready is an ordinary day. Rasanya jadi homy banget nih warung if not warungy gue bilang.
Sudah sejak lama ngincer RM ini tapi nggak pernah kebagian Megononya. Kalau siang menunya banyak yang sudah habis. Sorean dikit baru masak lagi. Walaupun mungkin Megononya tergolong biasa saja, tapi lauk2 lain RM ini lumayan lengkap dan selalu penuh dibanjiri pelanggan, jadi dulu pas kemari selalu kehabisan kalau terlalu siang mampirnya. Nemu RM ini nggak sengaja, pas dulu mampir ke RM Kepiting Gemes Bung Kombor (Penemu Kepiting Gemes yang pertama kali di belantara Pekalongan-Pemalang), beberapa tahun berselang, eh lihat RM Tjukup ini. Jadi jalan dimana RM Tjukup ini berada berpotongan secara "T" dengan jalan dimana RM Bung Kombor duduk. Tepat di depan RM Tjukup ini juga ada RM lain yang mantep dengan variasi makanan yang lengkap, tetapi tidak halal walaupun variasi masakannya nggak selengkap RM Tjukup, demikian juga ruangannya lebih kecil.
Saya pesan Nasi Megono+Cumi tinta hitam khas Pekalongan dan Ca Rebung. Sedangkan Anny Nasi Megono+Srimping Goreng dan Sambal Goreng Kentang yang dipotong kecil2. Megononya hadir dengan rasa asin malu2, rasa pedas semriwing yang jadi ciri khas Megono tidak menyembul sama sekali. Mungkin karena Megono yang kami makan adalah sebagai bahan pelengkap saja.
Adalah suatu hal yang amat sangat jamak sekali dong deh kalau makan di Pekalongan, mau lauknya apa saja, selalu dikasih Megono barang sesendok. Megono mungkin sudah menjadi staple food Pekalongan karena bisa dipadankan dengan lauk apa saja. Di Pemalang, yang juga terkena pengaruh Pekalongan, Megono dipadankan dengan Sambal Tauco yang pedes sumades, sambal tauco ini juga ala Pekalongan. Pairing yang amat dahsyat. Aneka cabe besar dan kecil ditumis bersama Tauco dan aneka bumbu lain dengan efek yang kental, dengan Megono yang sedikit asin manis semriwing. Bagi kami malah Megono paling enak dimakan dengan Nasi Putih hangat saja. Kesederhanaan yang justru mampu menampilkan richness dari parutan kelapa STW (Kelapa Setengah Tuwo), bumbu aneka rempah (daun salam, bunga kecombrang, daun melinjo, laos, lengkuas, sereh, cabe, kacang panjang [yup sebagai bumbu]), dan bahan utamanya yaitu serpihan2 nangka muda yang tak retak. Dalam pengolahannya, walaupun Megono ini masakan sederhana, tapi cara memasaknya tidak mudah. Porsi bumbu2 harus pas. Kualitas bunga kecombrang tentu sangat mempengaruhi. Belum lagi pemilihan tingkat usia Nangka Muda dan Kelapa STW itu tadi. Ditambah lagi tidak boleh sembarangan diaduk2 kalau sudah dikukus karena akan cepat basi. Kompleks nian. Benar2 pusaka kuliner nusantara yang harus dilestarikan.
Di meja makan keluarga2 Pekalongan, Megono tampil cantik setara dengan serundeng, kering kentang, atau abon. Bisa menjadi primadona karena cukup menemani santap kita menjadi one main dish meal, atau sebagai pelengkap dengan lauk2 lain. Mungkin setara dengan Kimchi di Korea yang selalu tersedia untuk apa saja.
Cumi Hitam yang khas Pekalongan juga mantep. Cumi dimasak dengan tintanya. Mungkin di Jakarta banyak yang agak jijik dengan penampilannya. Tetapi masakan serupa juga muncul di Italia, di makan dengan aneka pasta. Spaghetti Sepia di Nero, memanfaatkan tinta hitam si cumi untuk meningkatkan eksotisme Spaghetti atau aneka pasta berjenis noodle lain (Angel hair, Fettucini, Tagliatelle) dengan cara mencampurnya saat membuat fresh pasta (untuk hasil terbaik, sehingga warna hitam bersenyawa dengan pastanya), atau pasta instan (direbus dulu hingga al dente, baru diaduk dengan tinta hitam). Tinta hitam aka Sepia di Nero ini juga dijual luas dalam bentuk sachet untuk keperluan masakan ini. Kalau mau simple, BYO tinggal bawa Spaghetti matang Anda ke RM TJUKUP ini, kemudian dicampur dengan Cumi Hitam di sini dan minta ekstra tintanyaaaaa, ditanggung jadi bahan tontonan tak iye hehehe.
Secara overall makanan di RM TJUKUP ini TJUKUP ok ya bo. Recommended.
RM ini setahu saya dimiliki dan diasuh keluarga besar keturunan Tionghoa yang terjun langsung jadi kasir, melayani pelanggan, maupun memasak. Pelanggan dari segala macam latar belakang memenuhi RM ini datang silih berganti. Bermacam2 kue basah maupun kering juga ada.
Nasi+Cumi+Rebung+Megono = 8K
Nasi+Srimping+Kentang+Megono = 8K
Satu hasil pengamatan kecil saya, sebelum terjadi pertumpahan darah, dari dulu orang Pekalongan ini kalau menamai makanan khasnya terasa nyeleneh dan lepas dari pakem. Mungkin karena terlalu kreatif dalam mengolah makanan sehingga berbeda dengan nama aslinya. Selain Garang Asem yang memakai Daging (di daerah Kudus dan Solo bisanya memakai Ayam), maka di belantara Pansel (aka Pantai Selatan) seperti Wonosobo, di sana juga ada Megono, tapi berupa kuluban (semacam urab/gudangan), dan ada juga Nasi Megono, semacam sajian nasi lengkap untuk acara resmi semacam tumpeng, dengan aneka lauk. Lalu ada lagi dengan Ayam Opor-nya Pekalongan (yang notabene sebenarnya adalah stuffed chicken yang dipanggang/kukus dengan isian berupa aneka bumbu semacam serundeng kelapa - Thanks ya Grace pernah dikirimin), walaupun saya yakin di Pekalongan juga ada Opor Ayam yang lazim.
Foto Nasi Srimping dan Cumi silakan diklik dan ZOOM IN, hasilnya ternyata cukup ok.
Resep Monike dari website Megono ada di:
http://admonike.multiply.com/recipes/item/43
Ingredients:
300 g gori/nangka muda, cincang kasar
50 g daun melinjo muda
100 gr kacang panjang, potong 3 cm
1 bunga kecombrang
15 mata pete, kupas, potong kecil supaya tidak bisa dipilihin
1/3 butir kelapa agak tua, kupas, parut memanjang
1 cm lengkuas
2 lembar daun salam
1 laos
2 tangkai serai
Haluskan:
6 buah cabai merah
6 siung bawang merah
4 siung bawang putih
Ketumbar
1 sdt gula merah
1 sdt garam
Directions:
1.. Kukus Β½ matang gori, dibuang airnya
2.. Aduk kelapa parut, lengkuas dan daun salam dengan bumbu halus hingga rata.
3.. Susun gori, sayuran, kelapa parut yang sudah dicampur dengan bumbu dalam dandang
4.. Kukus sampai matang. Angkat.