Cabe-Cabean ke Pulau Cabe (episode 3)
Sehabis sholat subuh dan berpakaian, kami jalan-jalan ke Pantai Kuta. Jalan yang kami tempuh melewati pasar. Aku baru menyadari bahwa wanita di sana mayoritas masih menggunakan kain sebagai bawahan pakaian mereka. Pantai Kuta ini ramai. Pasirnya keras berkarang, jadi cukup menyakitkan untuk berjalan kaki. Banyak karang-karang besar yang bagus untuk tempat berfoto. Di pantai ini, banyak sekali ibu-ibu atau anak-anak yang berjualan sedikit memaksa. Yang kalau satu dibeli maka satunya lagi seakan harus dibeli juga.
Keadaan di sekitar pantai kuta ini sangat hidup. Banyak pertokoan disana dan kafe di sana. Ada kafe bertuliskan “No Wifi, we talk to each other”. Sekembalinya dari pantai, kami sarapan pancake dan omelette di penginapan. Mas Doddy pun menjelaskan rute ke Selong Belanak dan Tanjung Aan. Kami bergegas mengganti pakaian dengan baju renang dan mengambil peralatan snorkeling.
Perjalanan kami kali ini menggunakan motor yang dikendarai oleh Mutia berboncengan denganku serta Ekaning yang membonceng Wawa. Aku dan mutia membawa alat snorkeling. Wawa dan Ekaning membawa life vest. Setelah mengisi bensin kami segera beranjak ke Tanjung Aan. Kami membayar biaya parkir Rp 5.000 per motor. Kami pun parkir di bawah pohon. Karena ini hari minggu, jadi pantainya ramai sekali. Tapi baguus sekali juga. Kami melihat ada segerombol keluarga yang menaiki sebuah bukit. Kami pun tertarik untuk menuju bukit tersebut. Ternyata itu bukit surga. Bagusnya MasyaALLAH. Semacam bukit teletubbies. Aku baru tahu beberapa tahun belakangan ini, kalau ternyata bukit itu bernama Bukit Mereseh. Di sana banyak anjing liar. Bahkan temanku yang setahun kemudian kesana dikejar oleh monyet liar. Hii serem ya.
Setelah keasyikan foto dan beranjak pulang. Mutia baru sadar bahwa kunci motor kami hilang. Kami semua panik. Aku dan mutia meluncur turun ke motor berharap kuncinya masih nyangkut di situ. Dan benar saja. Kuncinya masih di motor. Aman terkendali. Padahal kami nggak akan sanggup kalau harus mengganti motor tersebut kalau kalau hilang :(
Sebelum beranjak, kita berdiskusi dulu mau kemana. Rencana kita mau snorkeling. Setelah bertanya sama warga lokal, spot snorkeling bagusnya di batu payung, tetapi harus menyewa boat seharga Rp 400.000. Berhubung itu jauh dan tidak meyakinkan keberadaannya. Kami memutuskan untuk mengunjungi Pantai Seger yang berada dibalik Pantai Tanjung Aan. Kami membayar biaya parkir Rp 5.000. Ekaning membeli pentol. Aku dan Wawa menawar kelapa muda. Mutia mencari tempat strategis. Pemandangan Pantai Seger amatlah menarik hati. Kondisi air yang lagi surut memungkinkan pengunjung untuk berjalan ke karang yang letaknya tidak jauh dari bibir pantai.
Ternyata makan pentol tidak cukup mengobati rasa lapar kami. Kami berencana membeli makanan. Aku yang melihat ibu-ibu duduk dengan hamparan makanan di depannya berinisiatif mendekati mereka untuk membeli makanannya. Ternyata eh ternyata.. mereka nggak jualan. Mereka adalah sekelompok guru SD yang sedang piknik. Kami bahkan sempat ditawari makanan tersebut. Alhamdulillah urat malu kami masih tersambung, jadi kami menolak secara halus. Padahal perut lapar tak tertahankan.
Kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Mawun. Bagiku, ini adalah perjalanan yang sangat mendebarkan. Bukan perihal jauhnya. Tapi dengan siapa kamu dibonceng. Kami hampir dua kali bunuh diri dan sekali mencelakai seorang bapak-bapak tak berdosa. Mutia panik diklakson mobil dan hampir menabrak bapak-bapak itu. Alhamdulillah tidak tersenggol sedikit pun. Karena malu, kami pun beralibi bertanya arah ke Pantai Mawun yang padahal jelas-jelas tertera di papan petunjuk depan kami. Kejadian hampir bunuh diri pertama terjadi berikutnya. Saat entah bagaimana ketika melewati jalan bertebing, Mutia jalannya semakin ke pinggir kiri jalan hampir menabrak tebing dan dia berhenti tiba-tiba. Alhamdulillah masih ditolong oleh Malaikat.
Sesampainya di Pantai Mawun, kami parkir motor dengan biaya Rp 10.000 saja. Ternyata diseblah kami parkir, ada motor yang lupa mencabut kunci motornya. Jadi kami berinisiatif untuk memindahkan kuncinya dan menyimpannya di laci motor tersebut. Apa ya nama cekungan yang ada di stang motor, yang biasanya tempat meletakkan minum? Kita sebut saja laci motor ya. Hahaha.
Sebelum menyentuh air, kami yang kelaparan segera memesan popmie di warung tersebut, terkecuali Mbakening yang memilih makan jagung bakar. Sebenarnya kami berfirasat bahwa pantai ini bukanlah tempat snorkeling yang bagus. Karena tidak ada tanda-tanda orang snorkeling. Sebagian besar pengunjung hanya berjemur di pantai. Tapi kami yang tidak mau rugi karena telah menyewa life vest dan peralatan snorkeling, berinisiatif untuk tetap snorkeling.
Kami menitipkan barang di warung lalu berganti baju dan membawa peralatan snorkeling ke pinggiran pantai. Mutia dan wawa berangkat sebagai tim advance untuk snorkeling Mandiri Jaya (nama PT karangan sendiri). Setelah melewati batu-batu licin, ditemukannyalah spot snorkeling. Aba-aba diberikan kepada aku dan ekaning, yang kemudian bersiap dengan membawakan life vest. Kami pun memulai berenang ngambang itu. Seperti berenang di kolam renang sih, tapi alhamdulillah masih ada pemandangan ikan-ikan kecil yang bersembunyi di karang. Selanjutnya kami pun hanya mengambang di pantai dan bermain pasir. Sempet syuting adegan Titanic, adegan kegulung ombak di pinggir pantai. Sampai semua pasir masuk mulut. Puas dengan Pantai Mawun, kami pun mandi di sana. Filosofi pantai mawun created by kami sang cabe: Mawun a.k.a MaturNuwun
Kami segera beranjak mengejar sunset di Selong Belanak. Berbekal biaya parkir Rp 10.000, mie goreng, dan nasi goreng, kami menikmati mas-mas surfer main bola. Eh maksudnya menikmati Sunset, meskipun langit sedikit mendung. Dari kejauhan terlihat betapa cantiknya lampu dari kapal-kapal nelayan yang tersebar. Rasanya, itu kali pertama aku jatuh cinta dengan matahari tenggelam. Campuran antara rasa bahagia dan rasa hampir berpisah dengan Lombok.
Kami pulang dengan langit sudah gelap. Tanjakan dan turunan tiada henti yang dilewati saat siang ternyata sangat menyulitkan di malam hari. Berbekal pengalaman hampir menabrak di siang hari, aku sangat was was di perjalanan kali ini. Dan benar saja, lagi-lagi adegan hampir bunuh diri itu terjadi. Motor kami berpapasan sangat tipis dengan mobil dari arah yang berlawanan. Aku yang kaget teriak, Mutia malah nyantai aja ketawa-ketawa nggak percaya. Duh sedih :( tapi kalo diinget-inget lagi emang jadi koplak.
Kami pun sampai di penginapan dengan segenap perjuangan. Kami kaget banget ketika tahu kamar sebelah kami yang kayak kapal pecah itu, tetiba sudah rapih bangeet. Semua peralatan tempur kami untuk berenang dipindahin, sampe daleman-dalemannya :”)
Beautiful Sunrise in Tanjung Aan
Karena kami sangat jatuh cinta dengan Tanjung Aan. Maka seusai sholat subuh, kami langsung bergegas menuju Tanjung Aan lagi untuk mendapatkan Sunrise. Perjalanan pagi hari kami sebelum lepas landas ke Jakarta ini memang sangat berkesan. Sesampainya di Tanjung Aan, keadaannya masih sangat sepi. Kami pun menanjak ke bukit tersebut. Matahari bahkan belum muncul. Dan perlahan dia bangkit bersama sinar keemasannya. Mewarnai pagi hari kami. Ah rasanya sangaat beras harus berpisah dengan Sunrise di sana. Dan inilah kali pertama aku jatuh cinta dengan matahari terbit. Lombok membuatku mencintai matahari dalam kedua waktu terbit dan tenggelamnya.
Kami pun kembali ke homestay untuk sarapan. Kami sangat menyukai pancake di sana. Ekaning bahkan meminta resepnya. Kami pun bersiap ke bandara. Meninggalkan Lombok, tetapi tidak dengan kenangannya.
Terima kasih Para Cabe yang telah mempedaskan hari-hariku. Perjalanan ini adalah salah satu perjalanan yang paling berwarna bagiku. Setiap mengingat cerita dari perjalanan ini, aku pasti selalu tergelitik. Begitu banyak hal bodoh yang terjadi dalam perjalanan ini. Terima kasih Garuda Travel Fair yang mewujudkan impianku untuk pergi ke Lombok dengan budget pas-pasan!
Aku dan Ekaning di Perjalanan Pulang
Wawa dan Momennya di Gili Trawangan
Tanjung Aan di Pagi Hari, membuat sulit mengucapkan selamat tinggal