Kejadian ini aku alami -dan mungkin kulakukan- terhitung sering. Di belakang, kadang dengan mudah kita menceritakan hal-hal yang kita lakukan bersama seseorang atau beberapa kawan. Mereka kemudian menceritakan lagi kepada pihak ketiga, bahwa kita ini begini, begitu, sampai Z. Hal ini juga mungkin sering kita lakukan. Kita menceritakan tentang seseorang begini, begitu sampai Z. Hari ini aku tertegun. Ketika diceritakan oleh pihak ketiga mengenai aku yg diceritakan pihak kedua padanya. Di belakangku, ia menceritakan hal-hal yang menurutku, aku tidak seperti itu, lalu aku sedikit merasa tak baik. Mungkin perasaanku tergores sedikit, tapi cukup untuk memberikan tamparan pada diri sendiri. Jadi begini? Rasanya mengetahui apa yang diceritakan orang di belakang? Aku tertunduk. Malu. Aku juga tanpa sadar sering melakukannya. Rasanya tak ada sedikit pun terbersit perasaan bersalah saat melakukannya. Hiks, makan bangkai saudara sendiri kok nggak ngerasa bersalah? Iya, itu pasti bagian dari ghibah, Lu. 😭 Nggak enak kan diomongin dibelakang? Iya, makanya stop juga ngomongin orang dibelakang. Cerita kalo dia begini, begitu, sampai Z. Apa manfaatnya? Diam itu emas, ghibah itu makan bangkai. Pilih mana? Bismillah, dimulai dari hari ini, jika memang melihat, mendengar, mengalami sesuatu dengan orang lain dan menurumu itu tidak baik, jadikan saja dulu 'hal' itu sebagai pelajaran untuk diri sendiri, ya. Percuma sebar berita sana sini tapi sendiri nya tidak ambil hikmah apa-apa. Jangan berpermukaan putih namun hitam di dasar, pekat oleh endapan-endapa yang disimpan untuk diburai di belakang. Jadilah bening, biarkan cahaya-cahaya itu masuk sampai ke dasar. Tak ada yang disembunyikan di dasar. Terlihat jelas selagi dipermukaan hingga ke dasar. Tak perlu menyimpan pekat lagi untuk diburai di belakang. Note to my self LZ