Aku baru terengeh ketika secara tidak sadar kejadian demi kejadian silih berganti mengajariku satu makna, bahwa kebahagiaan itu bukan tersusun atas seberapa besar kepunyaan atas sesuatu, atau mungkin kecerdasan individu-individu yang diakumulasi menjadi kecerdasan jamaah. Itu sebabnya aku suka melakukan hal baru, yang dengan izin-Nya pemahaman tentang kehidupan itu bermunculan satu persatu. Termasuk juga ketika esok harus memahamimu, makhluk asing yang mungkin tidak pernah terbayang sebelumnya untuk bersama. Bermula dari sebuah perenungan, ah masa muda sepertinya kurang baik juga kalau waktu dihabiskan untuk kebanyakan merenung. Sesekali tak apalah untuk sekedar menyadari betapa hidup sepertinya "indah" sekali untuk dijalani. Tetiba pada sebuah pernyataan, "Kalau kepintaran yang membuat kita mampu berada di puncak kesuksesan, apakah zaman Rasulullah lebih pintar (dengan parameter keterbukaan informasi seperti zaman ini) di banding sekarang, sehingga dengan waktu yang singkat kemakmuran yang dicita-citakan semua masyarakat dunia bisa terwujud dalam satu komando ?" Alam pikiran ini terus masuk ke dalam bayang-bayang logika, sebenarnya apa yang membuat manusia bisa berada di titik maksimumnya, pun sebaliknya di titik terendahnya? Satu dari sekian bukti nyata lainnya adalah, tentang pernahkan terlintas sejenak di dalam logika, bahwa hidup ini adalah buah kerja dari usaha? Tidak sedikit dari manusia berpikir saya begini karena kebisaan saya. Saya begini karena kemampuan saya, saya begini karena kecerdasan saya. Sambil menafikan bahwa semuanya itu adalah tak sekedar dari sekadar pemberian. Istilah katanya, orang-orang seperti ini akan terus diberikan karunia, sampai tiba di suatu titik dengan mengiba pada Tuhan-Nya lantas menangis, kenapa sempat terucap kesombongan dan kelupaan diri bahwa semua itu hanya sekedar pinjaman-Nya. Namanya juga manusia, saat aku menulis ini pun rasanya ada sedikit kecongkakan seakan aku lebih baik dari dia, padahal nyatanya omongan itu dalam kitabullah adalah omongan iblis laknatullah. Maka, belum terlambat untuk bersegera kepada kebaikan. Kalau saat ini ada yang merasa apa yang didapat adalah jerih payahnya, maka segeralah berserah diri, karena tak lain semuanya kuasa Allah yang dengan mudah pula akan dicabutnya dari tangan kita. Kalau saat ini ada yang lupa untuk apa hidup di dunia dan semua karunia yang dipunya, maka segeralah meminta petunjuk-Nya, karena besok mobil baru yang dipunya akan terganti dengan kendaraan model lama pinjaman masjid dekat rumah. Istri yang dicinta sangat besar di dalam dada, tak mau lagi berdekatan meski hanya sekejap saja, tak lain adalah sang pemutus kenikmatan, Kematian. Setiap pemimpin memang ada zamanya, setiap zaman pun ada pemimpinnya. Maka untuk para pemimpin bangsa dimanapun bentuknya, belum terlambat untuk menyadari bahwa tampuk kekuasaan itu hanya pinjaman Allah untuk diberdayakan. Kalau pucuk pimpinan itu harus digunakan untuk aktivitas kebaikan, kalau posisi strategis itu pun kelak akan dimintakan pertanggungjawabannya. Maka pergunakanlah untuk kebaikan! ©Ais-krub