Tulisan: Memutar Waktu Bersama
Kalau ada yang harus bersyukur menjadi seorang mahasiswa, maka saya seharusnya menjadi urutan teratas dalam catatan “Mahasiswa harus Bersyukur”. Entahlah, saya rasa dibalik “titik” ini ada jutaan untaian doa yang sudah mengetuk pintu langit dari Ibu dan Alm. Bapak di luar sana.
Sedikit memutar balik waktu, saya masih ingat betul betapa beruntungnya dipertemukan oleh orang yang membentuk kepribadian diri. Sebut saja kawan-kawan Ikhwan (Re: Pria, Bahasa Arab) Asrama Etos Surabaya angkatan 2012 (Rayon De Vie). Dari Arti katanya yang berarti “Sinar Kehidupan”, maka Allah menunjukkan betapa arti sahabat sangat berharga bagi saya.
Waktu itu adalah 17 Januari yang ke 18 dalam hidup saya. Dalam pertanyaan yang sedikit heran, “kok rasanya seperti biasa saja ya hari kelahiran saya.?!” Memang di sini (Etos) kami tidak biasa membesarkan hari kelahiran, toh pada dasarnya bertambah umur berarti berkurang jatah hidupnya. Jadi apa yang harus dibanggakan dengan hari itu?
Singkat kata, Mas Sony (Pendamping Angkatan Etos Surabaya 2012) meminta bertemu di kampus karena satu dua hal. Entahlah saya tidak merasa ada yang aneh dari permintaan beliau. Waktu sudah menunjukkan pukul 18.30 WIB, selepas maghrib saya langsung menemui beliau di gazebo statistika ITS.
Wajah tidak meng-enakannya muncul, dalam benak saya “ada apa lagi ini malam-malam begini dicemberutin.” Kami berbincang panjang, sambil sesekali Mas Sony melinguk ke sekeliling seperti sedang mencari sesuatu. Waktu itu saya sedang menghadap ke arah jalanan utama ITS (membelakangi musholla Statistika), dalam sekejap kepala saya terasa dingin sekaligus terkejut karena ada rembesan air kopi yang mengenai baju yang saya kenakan.
Hallo, ini sudah malam dan mereka mengerjai saya. Ternyata panggilan ini, ternyata diamnya mereka, dan ternyata malam ini saya dikerjai oleh mereka para sahabat terbaik.
Mereka adalah Galih (Sistem Perkapalan), Rizal (Teknik Mesin) dan Aris (Teknik Elektro). Sahabat yang Allah pertemukan untuk membentuk kepribadian sekaligus jati diri saya. Ya, mereka mengerjai saya tidak terkecuali orang yang sedari tadi tertawa sambil menghindari tumpahan kopi yang sudah tumplek di kepala sampai mengenai baju saya, Mas Sony.
Kawan, kalau ada bagian waktu yang harus diputar sesungguhnya saya ingin kita terus bersama dalam keadaan bujang nan bahagia, tetapi rasanya tidak mungkin. Saya masih ingat saat basah-basah mereka tiba-tiba membawakan kotak (yang sampai saat ini masih saya simpan) hadiah untuk hari kelahiran saya. Kotak itu menarik dengan pita di atasnya. Sangat tidak anak teknik, memang. Tapi sesungguhnya kalian belum tahu apa isi dalamnya.
Isinya merupakan representasi dari anak kos yang ingin memberikan persembahan terbaik bagi sahabatnya. Saat dengan riang saya membuka tutup kotaknya, sangat banyak isinya. Mulai dari lem kertas, gula pasir, boneka kecil oleh-oleh dari Jepang, tasbih dan bahkan celana dalam baru dengan warna kesukaan saya (ungu).
Ah, sekarang kita sudah dewasa kawan. Kejadian itu sekitar 3 tahun lalu saat tawa kita belum ada beban dan saat yang ada di pikiran kita bersama adalah besok liburan mau naik gunung kemana? Tapi tenang saja, kotak dan kenangan itu tidak akan terbuang sampai kapanpun, Ya, insyaAllah kenangan sebagai sahabat dan saudara se-asrama akan selalu terjaga di dalam dada. Minimal dalam setiap doa, bahwa kita pernah bersama insyaAllah sampai kelak di surga.
Pertanyaan selanjutnya, adakah daftar “Mahasiswa yang Harus Bersyukur”? Kalau memang ada, saya ingin mengajukan diri mendaftar di catatan itu.