LOST KINGDOM EXPEDITIONS to LINGGA
Tahun 1990 awal, seorang bule asal Jerman (Michalle) kalau tidak salah berkunjung ke Pulau Lingga. Ia cukup lama bekerja di Singapore dan senang petualangan. Waktu itu, kapal laut ke Lingga masih kapal kayu. Butuh waktu sekitar 12 jam berlayar untuk sampai ke Daik Lingga
Di Daik, ia bertemu dengan Paklong Leman dan Alm Said Alel. Mereka menjadi guidenya selama di Daik. Si Bule jatuh cinta dengan Lingga, ia mengajak kedua orang guide lokal ini bersama satu lagi teman bule lainnya yang ia temui di Dabo menjadi mitra. Mereka menjual sebuah paket Travel ke Lingga.
Pasarnya wisatawan Singapore. Banyak bule yang bekerja di sana. Lukisan di belakang ini menjadi booklet, hasil lukisan yang Ia buat ketika di Daik Lingga dengan latar puing tangga di Istana Damnah dan duduk seekor monyet seperti menyuap makanan ke mulutnya. Di belakang, gagah berdiri Gunung Daik yang bercabang tiga. Beberapa ekor Keluang (Kalong red) tampak terbang, menuju rimba di kaki gunung, berburu buah segar dan putik bunga.
Petualangannya ia beri nama, "Lost Kingdom Ekspedition to Lingga." Dari goresan tinta yang ia buat, seolah batu pahatan dengan alfabet terukir di dinding Gunung Daik telah ada sejak lama. Sebuah kerajaan yang hilang. Kerajaan yang menjadi pusat Kesultanan Melayu terakhir Johor-Pahang-Riau-Lingga, emperium Kesultanan Melayu turunan dari Malaka.
Sebuah visual yang begitu menarik. Dari Paklong, aku izin scane dan menggunakannya. Jelas saja menarik, lukisan luar biasa dan pasti membuat tertantang petualang lainnya. Si Bule Jerman, sekembali dari Daik ke Singapore bertugas menjaja paket. Hampir setiap bulan, Ia beri kabar melalui telkomunikasi sejenis HT dengan pemacar yang satu-satunya ada di Daik milik Kantor Camat Lingga untuk mempersiapkan segala macam hal karena tamu sudah ada. Dari sana, ia datang bersama para tamu ke Lingga.
Sejak itu, puluhan wisatawan dewasa maupun anak-anak ramai ke Daik. Jejak sejarah, wisata alam seperti pendakian Gunung, air terjun, sungai, pantai menjadi sajiannya. Biar ada gambaran dan coba membayangkan kondisi waktu itu, akses jalan dan transportasi Daik bukan seperti sekarang. Angkutan umum hanya ada becak. Kadang para Wisman juga ikut menumpang lori dari Resun. Pelabuhannya ada di Pancur, satu lagi di Tanjung Buton. Tapi hampir setiap bulannya, selalu saja ada yang datang meskipun medan dan tantangannya luar biasa.
Kebetulan, Paklong yang menjadi Guide adalah tetanggaku. Tamu-tamu bulenya, sering diajak singgah. Sebelum ikut menjadi guide, Paklong bekerja sebagai Tukang Becak dan menjahir sepatu di Pasar Kampung Cina. Kisah 'semokel' orang-orang di Pulau, membuat Ia sempat berurusan dengan imigrasi di Singapore ketika muda. Disana jugalah Ia dapat belajar Bahasa Inggris. Selalu ada hikmah dibalik petaka. Siapa sangka, Kebolehannya itu kelak membuat ia dapat melayani tamu dari berbagai macam bangsa.
Paket travel yang mereka buat bertahan cukup lama. Lebih kurang 6 tahun. Sampai akhir tahun 1996, beberapa tahun sebelum kisrus revolusi di Indonesia. Hal lain, juga kalau tidak salah orang tua si Bule sakit dan meminta ia pulang. Sejak saat itu, travel mereka stop. Namun, kunjungan secara mandiri terus berlangsung ke Lingga.
Cerita ini benar dan langsung dari sumbernya, Paklong Leman. Aku memang senang mendengar cerita. Sisi lainnya, Paklong adalah Pegiat seni budaya dan pariwisata menjadi minatnya sejak muda di Lingga. Diusianya yang hampir 70 tahun, ia masih mengabdikan dirinya membantu Museum, menjadi juru bersih.
Kata dia, "Sekarang sudah banyak lupa. Jadi biar yang muda-muda saja di dalam Museum. Paklong bersih-bersih saja di tanah," tutur kakek 10 cucu ini yang selalu bisa berteman dengan siapa saja, tak pandang usia. Respect.
Paklong bukan seorang yang kaya dengan harta benda. Tapi jiwanya. Karena peduli dan ingin menyelamatkan sejarah budaya, tanah miliknya, ia hibahkan untuk dibangun Museum. Diberi nama Museum Linggam Cahaya pada 2002.
"Tok awak (Ismail Ahmad red) datang pagi-pagi ke rumah. Kata dia, Man. Nampaknye, sebentar lagi jadi kita punya museum. Pemerintah nak bangun. Cuma, tanahnya belum ada. Paklong langsung saja cakap. Tanah Man ada Bang, pakai saja lah untuk Museum," kata Paklong tanpa ragu. Dalam hatinya, kalau museum dibangun bukti-bukti sejarah dapat diselamatkan. Museum kelak akan menjadi penunjang pariwisata.
Sekarang, bangunan Museum baru sudah permanen. Bukan lagi yang semua, berbahan kayu bentuk ciri khas rumah melayu. Kini jadi salah satu kantor dinas pemerintah yang mengurus museum dan sejarah.
Pengalaman Paklong bersama rekan-rekannya membuat travel ini benar-benar jadi semangat untuk lebih giat mengenalkan Lingga. Memajukan pariwisatanya. Dengan begitu, orang akan mengenal Lingga, alamnya pun dapat terjaga. Semakin banyak orang datang, semakin banyak pula orang-orang lokal yang terlibat dan tentu dapat membuat berbagai macam usaha pariwisata.
Hari ini, kami anak-anak muda bergabung dalam sebuah wadah Himpunan Peramuwisata Indonesia (HPI) Lingga dan menjadi guide lokal bersertifikat dengan segala kemudahan akses, informasi dan media publikasi. Malu rasanya kami, kalau tidak bisa lebih baik dan ikut berbuat dari para orang tua kami untuk memajukan kampung halaman. Paling tidak dengan cara kami.
Bagiku, Lingga bukan sekedar tanah kelahiran. Lingga itu, surga kecil digaris Khatulistiwa. Cahaya matahari bersinar sempurna sepanjang tahun. Hutan rimbanya menghijau. Airnya mengalir bersih. Udara yang segar. Pantai putih dan laut membiru jernih.