Rp5.500
Isi dompet gue tinggal lima ribu lima ratus rupiah!
Ini keadaan genting buat anak kosan. Anak yang tinggal jauh dari orang tua-nya. Anak yang merantau di tanah orang.
Hari itu uang gue di dompet hanya segitu. Alhasi, gue harus putar otak gimana caranya bisa makan hari ini dan besok. Lusa? Mikir lagi nanti gimana.
Tapi, ada jalan pintas. Minta ke kakak atau dengan malu-malu minta ke orang tua.
Udah tiga bulan gue merantau lagi ke Jatinangor untuk menyelesaikan tugas akhir. Iya gue mahasiswa tua. Ketuaan malah. Teman seangkatan seenggaknya udah satu sampai dua tahun kerja. Ada yang udah nikah pula. La gue? Masih di sini aja, lol.
But the thing is...kehidupan di Nangor selama dua bulan gue cover dengan uang tabungan. Alhamdulillah gue punya tabungan sejak semester tiga, kalau nggak salah. Uang diambil otomatis dari atm, jadi nggak kerasa. FYI buku tabungan beda, tapi uang bisa diambil dari tabungan utama. Thankyou BSM (BSI now) bantu banget produknya<3
Padahal tadinya mau buat yang lain. Tapi gue nekat nge-kos karena di rumah nggak kondusif. Emosi orang di rumah naik-turun. Ketika terjadi, gue cuma bisa nangis dan nggak mood buat ngerjain apa-apa.
Katika gue tau ada uang sekitar Rp4 juta-an, gue hepi banget! Bisa lah gue hidup pake uang tabungan. Uang cuma bisa diambil Rp3 juta-an. Sebagian gue ambil cash, sebagian masuk atm lagi biar nggak kebanyakan uang fisik.
Di awal, gue numpang di apartemen temen. Kami sering go-food. Gue juga beli perlengkapan ini-itu. Jajan shopee juga. Gue juga sempet ngide jajanin makanan mahal pas gue mau pindah. Kebayangkan keran dompet gue kebukanya gimana?
Kebetulan gue anaknya rajin nulis pengeluaran. Jadi gue bisa tracking apa aja yang gue beli, buat makan apa, atau belanja apa. Saat gue cek pengeluaran dalam sebulan, gue shock karena gue ngeluarin lebih dari Rp2,5 juta! Gila!
Padahal, pas kuliah gue biasa dikasih Rp2 juta. Itu udah dipotong nabung di bank Rp150 ribu, nabung lainnya sekitar Rp100-200 ribu, sedekah, dll. Gue bisa hidup dengan Rp1,3-1,5 juta per bulan. Cukuuup banget. Itu juga bisa dipake belanja-belanja.
Uang yang gue ambil kemarin sempet buat biaya bayar kos Rp450 ribu. Tapi, yang lainnya itu makan dan "jajan". Segitu mudahnya gue ngeluarin uang. Rasanya malu karena gue belum earning apa pun.
Gue jadi suka nangis. Doa jadi makin khusyuk sampe nangis wkwk.
When we were on the top, we often left Him. But, when we were down, He never let you alone. He is closer than your veins.
Balik lagi ke Rp5.500, gue bingung banget saat itu. Pertama kalinya gue jadi tahu rasa sedih karena bingung mau makan apa dan uang dari mana. Ya Rabb bener-bener selama ini gue tinggal makan aja apa yang ada di rumah atau uang tersedia dari orang tua.
Di Nangor, kebetulan gue nge-kos sama banyak temen yang lagi tugas akhir atau kerja di sini. Kami satu fakultas atau satu organisasi. Jadi deket banget.
Ajaibnya, gue ngerasa adaaaa aja rezeki Allah lewat mereka. Gue bahkan bisa makan tiga kali sehari! Meski lauk yaa seadanya. Ada yang masak lah atau punya lauk. Gue bahkan kadang nggak keluar uang sama sekali. Heran.
Giliran ada uang banyak dan bisa makan ayam, gue malah makan cuma dua kali. Giliran lagi seret isi dompet, Allah kasih makanan gratis. Bener-bener rezeki nggak disangka!
Ketika ada uang, fasilitas, dan segala kemudahan, sering kali kita nggak merasakan esensi bersyukur. Ketika lagi nggak ada uang, sulit, dan keadaan nggak mendukung, kita jadi lebih mudah untuk mendekat ke Allah.
Padahal, harusnya dalam keadaan apa pun kita harus selalu dekat. Bukan cuma diucap, tapi diyakinin dalam hati. Rezeki itu udah Allah atur. Kita cuma perlu taat, tawakal, ikhtiar, dan percaya.
Jadi, kalau uang di dompet lo tinggal Rp5.500, gue saranin untuk re-cap apa yang udah lo lakuin. Terus banyakin doa, berbuat baik sama orang, dan sebarkan kebaikan.
Terakhir, kita harus percaya kalau Allah nggak akan pernah meninggalkan hambanya yang bertaqwa. Mereka yang menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Urusan rezeki, percaya lah pasti ada. Dah itu aja.













