Tidakkah kita memperhatikan?
“Wa-auhaa Rabbuka ilannahli..”, Dan Tuhanmu telah mengilhamkan kepada lebah.
Maa syaa Allah, Tidakkah kita memperhatikan..bahwa pada firman Allah subhaanahu wa ta’ala ini, Allah mengatakan ‘Dan Tuhan-mu,..’ yang berarti Allah sedang meminta kita untuk memperhatikan, bahwa Dia telah mengilhamkan kepada lebah,
“..buatlah sarang di gunung-gunung, di pohon-pohon,”
Lalu yang paling menakjubkan adalah, “..dan di tempat-tempat yang dibikin manusia.”
Tabarakallah, Dia (Allah) menyuruh lebah untuk membuat sarangnya di tempat manusia-manusia tinggal, tidak lain adalah supaya manusia mampu menjangkau manfaat yang akan didatangkan dari lebah dengan lebih mudah. Bukankah dengan begitu, tandanya Allah begitu memuliakan kita?
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada ditangan-Nya, sesungguhnya perumpamaan mukmin itu bagaikan lebah yang selalu memakan yang baik dan mengeluarkan yang baik. Ia hinggap (diranting) namun tidak membuatnya patah dan rusak.” {HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Ahmad Syakir}
Sungguh, pernahkah kita memperhatikan bagaimana lebah itu mengambil madu dari kembang-kembang? Ia bahkan tidak merendahkannya karena beban tubuhnya. Ia tidak mematahkannya, karena sarang-sarang yang dibuat oleh gerombolan mereka. Bahkan, ketika mereka mengambil madu-madu dari kembang itu, mereka tidak merugikannya melainkan berbalik menguntungkan kembang tersebut dengan berlipat ganda. Mereka menaburkan sari-sari hingga terjadilah proses penyerbukan. Maa syaa Allah! :’
Beberapa ahli mengatakan, untuk seekor lebah mengumpulkan madu sejumlah setengah kilogram, maka ia harus terbang sejauh 500 mil, yaitu kisaran 750 km. Hiks, Maa syaa Allah, yaa.. sungguh, menuliskannya membuat dada terasa sesak, haru, dan juga malu bercampur menjadi satu. Dan bagi seekor lebah, ketika ia menemukan sumber makanan lebih dahulu dari kawanannya, ia tidak mengambilnya sendiri. Justru ia berbalik, ia kembali ke sarang dan memberitahukan kepada teman-temannya, dan taukah kita? Cara mereka berkomunikasi dengan kawanannya adalah melalui sebuah tarian, menggerakkan ekornya kesana dan kemari, membentuk setengah lingkaran, angka delapan, dan terkadang bergelombang. Ia sedang menunjukkan arah sebagaimana kita sebagai manusia menunjukkan arah ketika ditanya, “Maaf, dik, tau alamat ini?”, Maa syaa Allah! Bisakah kita membayangkan betapa rumitnya tarian tersebut jika jarak makanan yang ada disekitar mereka teramat jauh?
Dalam sebuah artikel saya menemukan, “Lebah menggunakan cara yang sangat menarik untuk membuat sarangnya, mereka membuat dari sudut yang berbeda dan akan bertemu pada titik tengah nantinya. Tanpa salah, juga cacat bertambal karena hitungan yang tidak tepat.” Tulisnya, “Dan mustahil bagi manusia membuat perancangan yang rumit ini, tanpa perhitungan geometris yang rumit.”
Duhai, diri.. tidakkah engkau memperhatikan ini? Maha Besar Allah, yang menciptakan makhluk sekecil ini agar menjadi contoh bagi manusia. Kepada cara hidup mereka, adab mereka, kepatuhan mereka, juga ketawadhu’an serta keikhlasan mereka.
Satu hal yang membuat saya tertohok saat mendengarkan apa yang Ustadz Zaid Hafzhahullah katakan, “..pantas saja Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh kita mencontoh seekor lebah. Perhatikanlah, bagaimana susahnya mereka mengumpulkan madu? Terbang berkilo-kilo meter, bolak balik membawanya ke sarang sedikit demi sedikit, tapi ketika madu mereka telah terkumpul, manusia mengambilnya begitu saja. Adakah mereka protes terhadap Rabb-nya? Tidak.”
“Dan,” sambung beliau, “..lebah tidak pernah merugikan siapapun. Ketika ia mengambil setetes madu, ia memberikan serbuk-serbuk sari sebagai perantara proses penyerbukan. Disinilah kita disindir, untuk tidak banyak menuntut melainkan banyak memberi. Tidak banyak berharap namun banyak memberikan manfaat.”
Sungguh malu, teramat malu.. apa kabar diri, tatkala kebaikan kita tidak pernah ternilai? Kita berprotes, kita mengumpat, dan bahkan berucap didalam hati, “..ah tau begini, mending tadi gak usah di tolong.” Astaghfirullah, semoga tidak demikan, yaa..
Mari perhatikan apa yang dikatakan oleh Einstein, “Kalau lebah menghilang dari permukaan bumi, maka manusia tidak akan mampu bertahan hidup dipermukaan bumi melainkan hanya 30 hari.”
Saya langsung ber de-javu dengan kalimat tersebut, sebab beberapa hari yang lalu, saya melihat sebuah video singkat yang menunjukkan betapa ngerinya jika lebah itu lenyap dari bumi ini. Tumbuh-tumbuhan akan mati, buah-buahan akan berkurang, juga berbagai macam sayuran akan menghilang. Tersebarlah penyakit kurang gizi, meningkatlah angka kematian juga tingginya biaya pengobatan.
Jikalah, Allah menghukum manusia dengan melenyapkan hewan kecil yang sering terabaikan ini, bagaimana kiranya nasib kita para manusia yang seringnya menyombongkan diri? Sungguh, bahkan sengatan-sengatan lebah yang kita nilai menyakitkan itu, dari sisi medis bernilai sebagai pengobatan tradisional. Maha Baik Allah, Maha Baik Allah…
“..dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, didalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia…”
Mari terus bersyukur, meningkatkan syukur, dan senantiasa bertafakkur. Dengarlah apa yang Allah katakan setelah potongan ayat diatas tersebut,
“Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berfikir.”
Dicatat untuk kembali dibaca suatu saat nanti, in syaa Allah. Bukankah pengingat terbaik adalah apa yang pernah ditulis oleh diri? : )













