Mengurai Masalah dengan Pohon Masalah dan Lembur
Malam ini saya lembur. Sama sepertinya malam-malam sebelumnya, saya dan 3 rekan kerja harus mengikuti rapat hingga setidaknya pukul 9.30 malam. Bahkan saya mengetik tulisan ini sambil mendengarkan presentasi rekan saya--saya sudah presentasi selama satu jam sebelumnya. Kami memaparkan gambar pohon masalah yang mencerminkan tiga hal: akar masalah, penyebab masalah, dan akibat. Saya mendapat bagian untuk mengulas pohon masalah terkait urusan sumberdaya manusia. Urusan tersebut dibagi ke dalam dua aspek, yaitu aspek pendidikan dan aspek kesehatan. Sementara itu, 3 rekan kerja saya masing-masing mengulas masalah daya saing dan perekonomian, pemerintahan, dan infrastruktur dan lingkungan hidup.
Ternyata saya menyukai tugas bikin pohon masalah itu. Saya berangkat dari beberapa gejala sosial yang dibuktikan dengan data kuantitatif dan kualitatif. Kemudian saya membuat poin-poin berisi penyebab dan akibat dari gejala sosial tersebut. Misalnya dalam urusan kesehatan, saya mendapati satu gejala berupa angka kematian ibu (AKI) meningkat. AKI disebabkan oleh, sederhananya, layanan kesehatan bagi ibu hamil yang belum memadai serta kondisi sosial dan ekonomi yang masih rendah. Akibatnya, kualitas kesehatan ibu dan anak masih rendah.
Oh ya, saya dan rekan saya tidak diberi uang lembur untuk rapat malam-malam seperti ini.
Gara-gara tugas membuat pohon masalah ini, saya jadi belajar banyak hal. Salah satunya adalah diantara 4 anggota tim saya, hanya saya yang belum pernah membuat pohon masalah. Ternyata ke-3 rekan saya sudah sering membuatnya semasa kuliah. Padahal program studi kami kerap dikatakan sebagai saudara kembar. Jadi ketika kami mempresentasikan pohon masalah buatan masing-masing, sangat ketara perbedaannya. Saya mendapat banyak kritik dari para tenaga ahli, terutama terkait struktur dan teknis penyusunan pohon masalah. SENANG BANGET bisa terlibat dalam diskusi akademik seperti ini. Yes please give me as many constructive criticism as possible.
Sesaat setelah saya mengetik kalimat terakhir di paragraf sebelumnya, satu tenaga ahli saya bilang: ada satu pejabat yang punya impian membangun industri air minum kemasan di pulau itu. Duh. Sekalinya bisa mimpi bikin industri kok malah air minum kemasan :( Bisa, lho, bikin industri lain seperti pengolahan makanan (ikan dan rumput laut), industri kapal, atau apalah. Wkwk. Iya, ini sentimen pribadi saya terhadap komodifikasi air ke dalam air kemasan. Air, rumah, akses pendidikan dan akses kesehatan itu dibuat gratis sajalah. Tapi on a more serious note: saya kira masalah lingkungan yang mungkin timbul akibat industri air kemasan bakal lebih besar ketimbang industri pengolahan makanan, misalnya.
Saya merasa agak sedih (?) sebab saat ini ranah pekerjaan saya adalah riset (sebagai lembaga konsultan) dengan tema besar kesejahteraan masyarakat yang dituangkan ke dalam rencana pembangunan pemerintah, namun kesejahteraan saya dan rekan kerja ternyata juga masih kurang. Begitu, keluhan saya hari ini.














