#Tentang: Selamanya Kita
Emang ya... bahas perasaan nggak bakal ada habisnya. Selalu ada yang bisa diceritakan meskipun hanya remahan. Karena perasaan atau emosi itulah yang membedakan manusia dengan ciptaan Allah lainnya.
Apalagi perasaan virus merah jambu. Selalu ada hal getir sekaligus menarik di sana. Perasaan yang tak terdefinisikan itu entah mengapa selalu mencari pembenaran atas segala ekspektasi yang kita ciptakan sendiri.
Seseorang bisa menjadi makhluk paling bijak sejagad jika sedang jatuh cinta. Bisa juga menjadi manusia yang paling bodoh sedunia ketika jatuh cinta. Sejak kapan, satu tambah satu sama dengah kita? Bisa juga menjadi sosok paling analis sedunia, mengkreasikan segala kode demi panah yang diharapkan bisa menembus ke hati sang pujaan, tepat dan tanpa cacat.
Namun stop. Jika kau masih mengharapkan bahwa pujaan hati mu sesempurna yang ada di pikiranmu. Lebih baik mengambil arah lalu putar balik saja.
Selamanya manusia tidak akan bisa menuntut kesempurnaan. Kita pasti memiliki berbagai macam luka masa lalu. Yang bahkan meskipun kita sudah menemukan sosok terpenting dalan hidup, luka itu masih bisa saja merasakan kembali perih nya.
Bukan kewajiban kita pula untuk menyembuhkan luka itu. Kewajiban kita hanya mengingatkan, bahwa tak mengapa dengan segala macam masa lalu yang dia punya. Meyakinkan, bahwa kita masih bisa saling merangkul dan tertawa meski dalam gelap.
Hadir nya teman hidup pun tak harus menunggu momen yang sempurna. Momen yang sering dikonotasikan sebagai momen "will you marry me" dengan menyerahkan setangkai bunga.
Teman hidup bisa saja hadir di tengah kerumunan food court, ditemani dengan bakso 2 mangkok dan masing masing sebotol air mineral, dilatar belakangi oleh sahutan orang orang yang saling menyeringai tentang kehidupan masing masing nya. Lalu "Kayak nya seru nih kalau kita barengan terus," terucap. Nampak biasa saja, namun terkandung keberanian dan tanggung jawab yang besar dibalik itu.
Butuh penerimaan diri yang total. Bahwa cukuplah sudah untuk menanggung sedih, kecewa, bangga, dan bahagia sendiri. Saat nya untuk berbagi peran dan perasaan dengan orang lain.
Butuh penerimaan diri yang utuh. Bahwa diri ini selamanya tidak sempurna. Akan lapuk masa, jika menunggu kesempurnaan ditengah gemilau dunia.
Butuh penerimaan diri sesadar sadarnya. Bahwa, iya, luka masa lalu masih akan membawa bekas. Namun bukan berarti, dengan bekas itu kita bisa seenak hati menggoyahkan hati yang lain. Berdalih hanya ingin menyembuhkan luka, singgah sebentar lalu pergi entah ke mana. Meninggalkan sunyi hening tanpa suara. Tentu bukan seperti itu. Menerima bekas luka sekaligus sadar bahwa suratan masa depan perlahan akan memudarkan bekas luka.
Tinggal menemukan orang yang bisa menerima kita dan segala luka yang kita punya. Menerima kita secara full paket dengan kegelapan masa lalu yang pernah kita ciptakan. Dan bersedia bersama sama menikmati senang-sedih-gembira- kecewe-putus asa dari skenario kehidupan.
Untuk yang saling tak meninggalkan walau sama sama kecewa.
Untuk yang memilih bersama walau sama sama putus asa.
Untuk yang memilih tidak melepaskan walau sedang goyah.
Allah menjanjikan hal yang luar biasa setelahnya. Dan Allah adalah Dzat yang tak pernah ingkar atas janjiNya.












