#Tentang: Keyakinan
Hanya kepada Allah, seorang muslim harus nya menggantungkan segala harapan dan keyakinan nya.
Adalah sepenggal kalimat yang sangat mudah untuk dituliskan dan dibicarakan. Namun, bagai menanggung beban beribu ribu kilogram ketika mengerjakannya. Seakan sudah menjadi tabiat anak turun Adam untuk tetap menggantungkan keyakinan dan harapan kepada manusia yang berujung pada kesia siaan belaka.
Menurutku, tidak ada tips atau saran yang tepat untuk mereduksi mindset “untuk tidak bergantung pada manusia”
Ya, karena sejak bayi kita sudah bergantung kepada manusia dalam rangka membantu kita untuk survive. Sejak dalam kandungan, kita sudah bergantung kepada Ibu Ayah untuk merawat kita. Sejak balita, kita bergantung kepada lingkungan sekitar kita untuk membesarkan dan melindungi kita dari ancaman-ancaman luar, serta membantu kita untuk mengembangkan sikap-sikap yang baik. Lalu, seiring dengan bertambahnya waktu, kita akan terus bergantung kepada manusia berkenaan dengan rangkaian hidup yang ingin kita jalani.
Namun, ada benang merah di sana. Manusia tidak akan tergerak hatinya untuk berbuat baik kepada kita, kecuali Allah yang membuat hati manusia agar senantiasa condong kepada kebaikan.
Seperti hati seorang lelaki yang sudah mantap dengan keyakinan nya untuk berbuat baik, namun jika Allah tidak membuat hati orang sekelilingnya mau menyambut niat baik tersebut, maka niat baik itu tidak akan sampai.
Sama seperti keyakinan hati seorang perempuan tentang lelaki pilihannya. Bisa goyah juga keyakinan nya jika tak ditopang dengan keteguhan hati. Which is, Allah juga yang memberikan keteguhan hati bagi siapa-siapa yang memintanya.
Sama seperti hal nya aku sekarang, berusaha meneguhkan hati, bahwa semua akan baik-baik saja. Ketika kau mulai menunjukkan gelagat untuk mecegah ku masuk lebih dalam ke dalam lingkaranmu. Ketika kau menatap ku sedemikian rupa. Ketika kau tidak menolak sederet permintaan absurd ku. Ketika kau membuat ku berharap, untuk menggantungkan segala kehidupan ku kepadamu di suatu masa yang akan datang.
Aku hanya meminta kepada Allah untuk memantapkan hati, jika memang kamu adalah seorang yang tepat bagiku, maka Allah akan memudahkan proses yang terjadi di antara kita. Memantapkan hatimu, yang aku tahu tidak akan mudah juga bagimu.
Akan banyak badai dan gelombang yang bisa saja melenyapkan segala keyakinan kita dalam satu kali hempasan. Menyisakan sedikit serpihan. Lalu dengan segala kerendahan hati, kita meminta Allah supaya menjaga serpihan itu agar tetap di sana hingga tumbuh kembali menjadi keyakinan yang lebih mengakar.














