Melihat Gejolak Zaman dalam Arsip Audiovisual: Menikmati Video Klip Tak Bisa ke Lain Hati
Dengan sejumlah video klip band-nya, Kla Project, yang ia unggah di kanal pribadi Youtube-nya dan diklaim sebagai ‘asli’, apakah fokus Katon Bagaskara adalah hanya pada monetisasi ataukah ia sebenarnya juga figur yang mengamalkan konsep LOCKSS dan memahami prinsip digital cultural preservation? Arsip audiovisual, atau arsip pada umumnya, tak melulu harus memiliki kegunaan yang diartikan secara kaku: pendidikan, riset, atau administrasi. Melainkan, ia bisa saja dicap memiliki guna cukup dengan bisa dinikmati alias sebagai hiburan. Melongok salah satu video klip lagu KLa yang diunggah Katon, Tak Bisa ke Lain Hati, selain menikmati musik dan suaranya yang penuh keresahan, membuat kita tersadar bahwa arsip audiovisual mampu merekam banyak potret gejolak zaman dan kondisi sosial. Gejolak-gejolak itu, sebagian juga disimbolkan melalui arsip.
Rambut Gondrong: Tak Bisa ke Lain Hati rilis di tahun 1992 dan rambut gondrong, selain identik dengan preman yang dihabisi para Petrus, juga banyak diasosiasikan dengan para peseni yang cinta akan kebebasan, tak terkecuali musisi pada saat itu. Katon, Lilo dan Adi kompak tampil dengan rambut panjang ikal tergerai yang menjadi semangat anak muda tahun 90an. Sisi ruang batin mereka hampa rindukan pagi.
Kacamata frame kuningan bundar: Seperti banyak yang dibilang para desainer, tren mode selalu berputar. Sebagai generasi yang mengalami tren kacamata frame plastik tebal yang dilanjutkan tren kacamata ukuran besar ala Morissey di pertengahan 2000an, saya mengamini mantra tersebut ketika melihat mahasiswa-mahasiswa milenial kreatif industri 4.0 generasi emas zaman now banyak mengenakan kacamata yang sama dengan yang dipakai mendiang ibu saya, yang notabene merupakan remaja pinggiran kota di tahun 80an. Coba lihat kacamata yang dipakai Lilo dan Adi di videoklip, kemudian bandingkan dengan yang sekarang dipakai oleh para barista yang ada di kedai kopi yang kebanyakan pengunjungnya tak memesan kopi.
Busana: Rekaman videoklip ini membuat kita bisa bersaksi bahwa Katon Bagaskara tentu menjadi duta fashion 90an yang tak terbantahkan: kaus kutang, kalung emas, jam tangan perak, ikat pinggang kulit, celana jeans ketat warna biru terang, boots, dan…muka yang berminyak. Stereotip yang mutlak untuk membayangkan gaya pria maskulin yang menjadi semangat zaman tersebut, sama persis dengan setelan busana Dede Yusuf di film Catatan si Boy.
Pas Foto: Apa yang mesti dipandangi ketika ada rasa kangen pada seseorang? Hampir semua orang mungkin sekarang akan menatap layar untuk melihat foto digital berformat jpeg atau melakukan panggilan video, namun pas foto cetak yang masuk kategori arsip still image, adalah objek terbaik di zaman itu yang biasanya tersimpan di dompet atau terpajang di pigura kamar. Tak heran bisnis studio foto berjaya. Apabila diperhatikan dengan teliti, setidaknya ada 8 set pas foto dengan model Memes yang disusun bersama objek-objek atau gestur lain dengan tujuan menyiratkan maksud atau perasaan tertentu. Pertama, pas foto yang digoreng di bawah dua telur ceplok di panci (01.12). Apakah maksudnya perasaan yang membara? Kedua, pas foto hitam putih berjejer yang ditempel memenuhi dinding (00.42, 04.23), dilewati langkah kaki dengan sepatu boot yang mencipratkan air. Apakah maksudnya hubungan yang ternoda? Ketiga, pas foto tertutup daun, kemudian diterbangkan angin (00.47). Apakah artinya hubungan yang diselubungi masalah, berharap untuk segera menguap? Keempat, pas foto hitam putih dibakar (01.26). Apakah menyiratkan keinginan untuk melupakan? Kelima, pas foto di atas papan catur dengan gerakan bidak kuda hitam memakan perdana menteri coklat kayu (02.06). Keenam, pas foto yang dicat garis merah lurus (02.37). Ketujuh, pas foto yang diseraki gundu (02.43) dan terakhir, pas foto yang ditimpa tulisan menggunakan mesin tik (02.50). Nampaknya, semua set mewakili perasaan yang gelisah, bimbang dan penuh pertimbangan. Bisa jadi kalau sekarang, video klip ini akan menampilkan pas foto digital yang dimanuplikasi atau dibuat animasi dengan perangkat lunak nan canggih di media pembacanya.
Kucing dan Beruang Madu: Kemunculan binatang kucing dan beruang madu (04.21) secara singkat di akhir video klip ini menambahkan kesan misteri yang menarik. Lagi-lagi, pesan apa yang sebenarnya diwakili dan coba disampaikan oleh kucing? Setelah beruang madu, kucing muncul selama 10 detik terakhir (04.29) dengan gestur berjalan dan kemudian duduk dan menjilati badan. Kucing yang muncul adalah kucing kampung berwarna putih dan oranye. Ini bisa jadi penanda zaman dimana kucing ras belum dianggap sebagai spesies yang lebih terhormat dibandingkan kucing kampung. Kemunculan hewan dalam video klip band bukan ini saja terjadi. Ingat kemunculan monyet dalam video klip Doi milik Kangen Band yang membuat kita berpikir? Atau kesan syahdu dari dua kuda putih gagah yang berlari anggun seusai pria pemeran utama menutup mata bersanding dengan foto polaroid mendiang istrinya di video klip Holding On milik The War on Drugs?
*sebagian dari tulisan ini pernah terbit di majalah Warta Jaya edisi pertama