visitasi.
vis·it /ˈvizit/
an act of going or coming to see a person or place socially.

seen from United States

seen from Singapore

seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Germany
seen from Oman
seen from United States
seen from Finland
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Germany

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from China
visitasi.
vis·it /ˈvizit/
an act of going or coming to see a person or place socially.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Opini: Keprofesian Dalam Kemahasiswaan
Belum lama ini saya dikejutkan (nggak juga sih, biasa aja) oleh sebuah artikel yang beredar di halaman facebook teman saya, judulnya Inovasi di ITB “Seakan” Mandek. Ketika membaca tulisan tersebut, saya jadi teringat diskusi dengan seorang teman saya, terutama tentang pembentukan karakter di kampus. Mungkin terlihat seperti menyambung-nyambungkan (iya, cocoklogi), tapi mungkin saja memang ada hubungannya. Tulisan di bawah berasal dari subjektif kami, masih bisa dikolaborasi dengan pandangan yang lain (iya, bisa didebat, apalagi sama yang... sudahlah).
Seperti yang dibahas pada artikel tersebut, kegiatan mahasiswa ITB memang tidak banyak mengarah ke pengembangan berdasarkan keilmuan, tapi masih ada yang melakukan. Padahal, himpunan mahasiswa jurusan (HMJ) yang berbasis profesi harusnya bisa memberi sumbangsih dalam menumpahkan inovasi dan mengharumkan nama kampus. Kenyataannya, artikel seperti di atas bisa beredar. Ya, walaupun kita semua tahu kalau artikel tersebut memang berlebihan.
Menurut cerita dari teman saya yang orang tuanya menempuh pendidikan dari S1 sampai S3 di ITB, HMJ dulu memang berbasis profesi sampai Dewan Mahasiswa dibubarkan. HMJ pun disusupi oleh pergerakan-what-so-ever sehingga fokusnya mulai pada kaderisasi dan tetek bengeknya. Bahkan ketika KM ITB berdiri pada tahun 1996, urusan kaderisasi dan tetek bengeknya tidak kembali ke kemahasiswaan terpusat, tetap berada di HMJ. Tapi ya itu sebatas cerita dari angkatan tua, mau dipercaya atau tidak, kembali pada keyakinan masing-masing.
Mahasiswa di HMJ disibukkan oleh kegiatan kaderisasi, kadang ada kajian, pengmas (abal-abal, hanya beberapa HMJ yang pengmasnya bagus), dan acara tahunan yang mirip pensi, sehingga keprofesian jadi jarang diperhatikan. Padahal mahasiswa ITB punya potensi dan peluang untuk melakukan inovasi dalam keprofesian mereka, hanya saja kurang termanfaatkan.
Apa yang harus dilakukan?
Inovasi keprofesian di kalangan mahasiswa ITB dapat ditingkatkan apabila HMJ MAU DAN RELA difokuskan untuk hal tersebut, bukan terus-terusan membahas kaderisasi dan tetek bengeknya. Tentu diskusi tidak hanya dilakukan di kalangan mahasiswa, mahasiswa bisa berdiskusi dengan dosen apabila butuh masukan. Apabila dapat dikomunikasikan dengan baik, tentu inovasi, baik dalam bentuk karya ilmiah atau teknologi tepat guna, dapat terdiseminasikan di masyarakat.
Budaya HMJ yang sering melakukan pengmas juga perlu mendapatkan perhatian. Pengmas yang saya maksud bukan yang ngajar-ngajar anak sekolah atau kerja bakti itu, tapi pengmas yang menghasilkan something useful berdasarkan keilmuan yang dipelajari. Memang, tidak semua keilmuan dapat melakukan pengmas seperti itu sendiri. Di sini keilmuan lain dapat dimanfaatkan. Kolaborasi antar keilmuan (yang entah kenapa rasanya ‘wah’ banget padahal di dunia kerja hal ini lumrah terjadi) dapat dilakukan.
Untuk mengubah paradigma (saya nggak tahu artinya apa, tapi rasanya keren aja kalau pakai kata ini), bisa dilakukan secara cepat, yakni dengan membubarkan HMJ yang sudah ada. Setelah itu, HMJ dibangun kembali dengan keprofesian dan pengmas sebagai dasarnya, buang saja kaderisasi itu jauh-jauh. Tapi tentu saja mayoritas HMJ tidak akan senang dengan cara tersebut. Maka dari itu perlu dilakukan secara perlahan, misalnya dengan memiliki kahim yang memfokuskan HMJ-nya pada bidang keprofesian daripada bidang lainnya. Saya yakin sudah ada beberapa HMJ yang memiliki kahim yang seperti itu.
Berapa banyak waktu yang HMJ habiskan untuk osjur? Cukup banyak. Kalau hanya untuk internalisasi, saya pikir tidak perlu membuang waktu seperti itu. Ketahuilah, di luar sana masih ada organisasi besar yang penerimaan anggota barunya hanya memakan waktu 3 hari dengan kegiatan yang seluruhnya hanya berada di dalam satu ruangan tanpa ada so-called-agitasi yang tiap tahun selalu ada dan sama. Tidak perlu terlalu banyak membuang waktu untuk mempelajari sesuatu yang sifatnya common sense atau diberikan kegiatan aneh seperti diteriaki bersama-sama.
Pemberian materi terkait arah pergerakan organisasi cukup untuk membuat calon anggota HMJ tahu kemana mereka harus bergerak, sharing dengan alumni untuk mengetahui bagaimana keadaan lapangan kerja di luar sana dari skala lokal sampai internasional, dan membuat tugas angkatan yang aplikatif (tidak semua melakukan) seperti riset bersama atau mengaplikasikan teknologi tepat guna dalam mengembangkan suatu daerah, akan memberikan output yang lebih baik.
Sekian sharing dari saya, mungkin sudah ada beberapa HMJ yang arahnya memang sudah ke sana tapi saya tidak tahu karena keterbatasan saya. Juga fakta kalau kelas belum tentu memenuhi kebutuhan untuk pengembangan keilmuan mahasiswa. Apabila sedikit menyinggung, mohon dimaafkan. Semoga ke depannya ITB dapat menjadi tempat berpijak yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat dan minim omong kosong.
Quality Assurance
Bismillah..
Alhamdulillah weekend ini bisa mengikuti training QA atau yang mencakup ISO/GMP/HACCP setelah tahun sebelumnya hanya berhasil menjadi peserta waiting list T.T. Faktor-faktor QA ini sebenarnya bukan termasuk proses utama di perusahaan, hanya sebagai faktor pendukung agar suatu industri mampu menghasilkan output yang berkualitas dan aman bagi penggunanya
Biarpun dianggap sebagai faktor pendukung, tapi keberlangsungan perusahaan sangat erat kaitannya dengan QA. Jika QA ini tidak ditingkatkan atau minimal dipertahankan, maka perusahaan dalam keadaan kritis (tanpa arah atau perlindungan). Mengapa demikian? karena QA mencakup persiapan, perlindungan bahaya, antisipasi dan perbaikan.
QA ini mengingatkan kembali tentang masa PKL. Disebuah perusahaan produsen susu dalam kemasan, perusahaan swasta (dengan label UJ). Saya mengerti dan belajar banyak hal seputar industri dan kesesuaiannya dengan materi perkuliahan. Industri pangan nasional atau international sebenarnya punya tuntutat yang sama, memiliki bukti akan produk yang berkualitas. Kualitas ini harus dibuktikan dengan data dan record yang menghasilkan sertifikasi legal, sehingga mampu mendapatkan kepercayaan konsumen.
Ruang lingkup QA ini pun beragam tergantung standar apa yang dijadikan acuan. Misalkan ISO 22000 tentang food safety (terpusat pada menjaga kemanan pangan dari bahaya yang mungkin terjadi). Berbeda dengan ISO 9001/GMP (Good Manufacturing Practice /PRP (Pre-Requisite Program) yang pelaksanaannya dilakukan dengan produr pencegahan kerusakan mutu.
ISO22000 dan ISO9001 memiliki fokus pengendalian berbeda. ISO22000 mencakup management system food safety, sedangkan ISO9001 mencakup quality control. Intinya ketika tahapan implementasi standar pun akan berbeda arah fokusnya, tetapi dengan tujuan yang sama yaitu memberikan pelayanan terbaik bagi konsumen.