Bagian Pertama šššššššš šššššš ( šššššš ššššš ) šššš š
šš¢š¬ššØš«š¢šØš š«ššš¢ ššš«šš” - šš®šš¢š”
š®š© š®š© š®š© š®š© š®š© š®š© š®š©
PRASASTI KUDADU 1294 M ( 1216 Ćaka ) diperkirakan sebagai prasasti pertama dan tertua dari Kerajaan Majapahit ( Wilwatiktanagari ) di terbitkan oleh Raja KERTARAJASA JAYA- WARDHANA ( Nagarakertagama = Dyah Wijaya, Pararaton = Raden Wijaya) Prasasti Kudadu 1294 M dikeluarkan dengan perincian tarikh sbb :š
TITHI. = Pancami (hari ke-5).
PAKSA = Krsnapaksa (paruh-gelap).
SADWĆRA. = Hariyang (ha).
SAPTAWĆRA = Ćanaiscara (Ƨa).
MASEHI = Sabtu, 11 September 1294 Masehi.(Anjrah Widayaka, J.L.A. Brandes, Pararaton, h. 97, 131).
Beberapa ilmuwan sejarah menyebutkan dengan nama lain terhadap Prasasti Kudadu 1294 M, yaitu PRASASTI GU- NUNG BUTAK sesuai dengan nama tempat penemuannya di tahun 1780 di Lereng Gunung Butak termasuk di dalam baris an Pegunungan PutriTidur,tepat nya di daerah perbatasan antara Wilayah Kabupaten Mojoker- to bagian selatan dengan Kabu- paten Malang bagian barat, Pro pinsi Jawa Timur. (J.L.A.Brandes. "Pararaton, h. 94-100).
Menurut hasil penelitian J.L. A. Brandes, Prasasti Kudadu 1294 M diduga awalnya berjum lah 13 lempeng/keping temba- ga (tambra prasasti).
(T. S. Raffles. " History of Java II". h. 59, 63, App.I).
Pembahasan utk keping I, II, III, IV, V, VI telah dilakukan oleh J.L.A. Brandes dan N.J. Krom (Lihat : OJO, 1913: h. 195-198).
Sedangkan utk pembahasan keping VIII, X, XI, XII telah dilaku kan oleh J.L.A. Brandes.
(Lihat: J.L.A. Brandes. " Parara- ton, h. 94-96).
Sedangkan untuk keping VII, IX, XII, XIII dinyatakan telah hilang keberadaannya (ā)š¤
Maksud dan tujuan Sri Maha raja KERTARAJASA JAYAWAR- DHANA ( Dyah Wijaya /Raden Wijaya) menerbitkan sebuah penetapan berupa Prasasti Kudadu 1294 M adalah untuk membalas budi baik warga (samasanak) dan kepala desa/lurah (rÄme) Kudadu yang per- nah berjasa menolong dan me- lindungi Sang Raja pada saat sebelum menjadi Raja Majapa- hit dengan nama kecil NARÄR- YA SANGGRAMAWIJAYA.
( Keping III Lembar b = "...Ƨri mÄharÄja nguning tirung prabhu makasungjnÄ narÄryya sanggramawijaya..." = "...ĆRI MÄHARÄJA , ketika beliau belum menjadi raja dan masih bernama NARÄRYA SANGGRAMAWIJAYA..." )
dari perburuan dan pengejaran tentara SRI JAYAKATYÄNG ( JAYAKATWANG / JAYAKATONG ) dari GELANG-GELANG
( Keping III Lembar b = "...ƧrÄ« jayakatyÄng sakeng glang- glang..." = ĆRI JAYAKATYÄNG dari GELANG-GELANG ),yang terjadi pada sekitar tahun 1292 M, yaitu 2 tahun sebelum Prasasti Kudadu 1294 M diterbitkan. āš
Balas budi yang dilakukan oleh Sang Raja dalam bentukpembebasan DESA KUDADU menjadi SIMA SWATANTRA lepas atau keluar dari ikatan terhadap Sang Hyang Darm- ma KLĆME untuk selama nya dengan tanda arca di atas nya.
"...kyata karanan tumurun
warÄnugraha Ƨri mahÄrÄja
irikang rame kudadu an su-
sukÄn sÄ«ma swatantrÄdÄg
ringgit lmah sthÄnanya i
kudadu de ƧrÄ« mahÄrÄja,
tkeng gagarÄnÄknya salba-
kwukirnya kabeh kabhuktya
kutmwa kalilirana deni santÄ
napratisantÄnanikang rÄme.
kudadu, mne hlÄm tka rin.
dlÄhaning dlÄha, sang sipta-
nya, mari tekang wanwe ku-
sampun dadi sīma swatan-
trÄdÄg ringgit de Ƨri mÄharÄ
ja kuneng nimitta ƧrÄ« mahÄ-
rÄja wani malapangƧa sang
mapaknerikang rÄme kuda-
{ "... itulah sebabnya Sri Ma-
haraja memberi anugerah ke
dan lengkap, dengan ladang
di mudik dan di baruh, deng-
an tanda sebuah arca yang
diperuntukkan bagi Kepala
Desa KUDADU yang dimiliki
secara turun-temurun sam-
pai ke anak cucunya sejak
kini, sampai nanti, terus-me
nerus tak putus-putusnya.
hentilah menjadi bagian dari
KLÄME, yang hingga seka-
rang tidak boleh lagi secara
serta-merta mencampurinya,
oleh sebab itu Sri Maharaja
telah menjadikannya seba-
tanda sebuah arca di atas-
Adapun yang menjadi penye
Hyang Darma di KLĆME, yaitu untuk kebahagiaan Lurah KUDADU..." }
šš¢š¬ššØš«š¢šØš š«ššš¢ ššš«šš”-šš®šš¢š” š®š©
ć Sang dhwaja bang lawan
" ...hana ta tunggulning Ƨatru
layūlayū katon wetani haniru,
bÄng lawan putih warnnanya,
sakatonikang tunggul ika..." š²šØ
{ "... maka tampaklah tunggul
(bendera) musuh melambai- lambai di sebelah Timur HANIRU, merah dan putih war- nanya, dan serentak melihat tunggul itu maka..." }. š²šØ
Demikianlah secuil kutipan dari sebagian fragmen isi Prasasti Kudadu 1294 M di bagian kalimat tertulis pada Lempeng IV b, tentang awal berkibarmya " Sang Saka Merah-Putih" š²šØ yg dikibarkan melambai-lambai pada sebuah tiang (tunggul) yang dibawa oleh pasukan musuh (Ƨatru) prajurit SRI JAYAKATYÄNG (JAYAKATWANG / JAYAKA- TONG) di tengah-tengah kan- cah pertempuran melawan NARÄRYA SANGGRAMA WIJA- YA (DYAH WIJAYA / RADEN WIJAYA ) dari KERAJAAN TUMAPEL.
Lempeng III - VI Prasasti Kudadu 1294 mengisahkan tentang perburuan pasukan NARÄRYA SANGGRAMAWIJAYA oleh pasukan SRI JAYAKAT- YÄNG yang terjadi pada 2 tahun yang silam (1292 M).Dengan demikian kisah ini ditulis setelah Sang Raja menja di Raja Majapahit bergelar SRI KERTARAJASA JAYAWARDHA- NA (nÄmarÄjabhiseka).šš²šØ
š²šØ š²šØ š²šØ š²šØ š²šØ š²šØ š²šØ š²šØ
"...gatinikang rÄme kudadu prayatna marmmÄnghÄtakÄn i Ƨri mÄharÄja ngunin turung prabhu, makasungjnÄ narÄryya sanggramawijaya, sdÄngiran kawalasak kawaweri (kang) wanwe kudadu tinÅ«t penetapan dening Ƨatru, karana Ƨri mÄharÄ
ja mangkana, Ƨri krtanagara sang lÄ«na ring ƧiwabuddhÄlaya
ngÅ«ni tinekÄn de Ƨri jayakat-
yÄng sakeng glangglang, sÄk- sÄt prangmukkan lumampah- akÄn krtÄlpÄswakÄra, mitradro- haka, samayalangghyana mah- yun humaristÄkna ƧrÄ« krtanaga- ran hanerikang nÄgare tumapel sdÄng i sanjata ƧrÄ« jayakatyÄng tÄke jasun wungkal irikÄ ta Ƨri mahÄrÄja mwang sang arddha- rajÄ inutus de Ƨri krttanagara mapagakna sanjata Ƨri jayakat- yÄng, mantu parnah sang ard- dha rÄja mwang Ƨri mahÄrÄja de ƧrÄ« krtanÄgara kunÄng sang arddharÄja sak- (IV a)sat putra de Ƨri jayakatyÄng..."
Adapun yang menjadi penyebab tingkah laku kepala desa KUDADU yang memberi tempat bersembunyi dengan hati-hati kepada Sri Maharaja ,ketika beliau belum menjadi raja dan masih bernama NARÄRYASANGGRAMAWIJAYA sewaktu beliau dalam kesusahan menuju ke desa KUDADU, diburu oleh musuh dan dikejar-kejar dalam keadaan sebagai berikut;
SRI KERTANAGARA yang dahulu menjadi Raja dan me- ninggalkan dunia yang fana dan memasuki dunia yang baka di SIWABUDALAYA (almarhum/mendiang) ketika diserang oleh SRI JAYAKATYÄNG dari GELANG-GELANG dengan ber- laku sebagai musuh mengerja- kan suatu yang memalukan, serta berhianat kepada teman dan melanggar kesepakatan, karena berkeinginan meruntuh- kan SRI KERTANAGARA yang bersemayam di KERAJAAN TUMAPEL. Setelah diketahui bahwa sepasukan tentara SRI JAYAKATYÄNG telah tiba di JASUN WUNGKAL , kemudian SRI KERTANAGARA mengutus SRI MAHARAJA (sekarang) beserta SANG ARDHARÄJA untuk me- lawan tentara SRI JAYAKAT-YÄNG.
Adapun SANG ARDHARÄJA dan SRI MAHÄRÄJA, kedua-dua nya adalah menantu SRI KERTANAGARA. Konon pula SANG ARDHARÄJA adalah putera SRI JAYAKAT- YÄNG.
"...ryyangkat ÄrÄ«mahÄrÄja mwang sang arddharÄjÄ sangkÄ nagare tumapel, datÄng
irikang wanwe kdung plut, irika
tamba ƧrÄ« mahÄrÄja manggih Ƨatru, aprang bala Ƨri mahÄrÄja
ring samangkana, ala tekang lawan ƧrÄ« mahÄrÄja alaralajÅ« tan kinawruhan kwehing lwang-
nya lumaku sanjata ƧrÄ« mahÄ- rÄja dateng i lÄmbah, tan hana
Ƨatru kapanggih dening sanjata
pÄmbarÄp ƧrÄ« mahÄrÄja, mun-
dur ta ya tapanglawan, haliwat
ƧrÄ« mahÄrÄja sangka batang,
datÄng i kapulungan kapanggih
tekang Ƨatru muwah, īrika ta ya-
naprang wadwÄ Ć§ri mahÄrÄja kalwaning kapulungan alah te-
kang Ƨatru ƧrÄ« mahÄrÄja, alarÄla
ya kweh lwangnya an mangka-
na, lumaku ta muwah sanjata
ƧrÄ« mahÄrÄja date(IV b)ng i rabut carat..."
Setelah itu berangkatlah SRI MAHARAJA beserta SANG ARDHARÄJA meninggalkan KERAJAAN TUMAPEL hingga tiba di Padukuhan KEDUNG PELUK, maka SRI MAHÄRÄJA lah yang pertama kali bertemu dengan musuh.Tentara SRI MAHARAJA berperang dan musuhpun dapat dikalahkan serta melari-kan diri dengan menderita kekalahan besar.
Setelah itu tentara SRI MAHARAJA bergerak ke LEMBAH, namun di sana tidak didapati musuh.Selanjutnya terus bergerak ke arah Barat dari LEMBAH menuju BATANG, namun SRI MAHARAJA hanya bertemu dengan beberapa musuh, yang kemudian menarik diri mundur dengan tidak melakukan perla- wanan.
Setelah SRI MAHARAJA melewati BATANG, lalu sampai- lah di KAPULUNGAN, dan berte- mu dengan musuh, maka seke- tika itu tentara SRI MAHARAJA bertempur lagi di sebelah Barat KAPULUNGAN, dan musuhpun dapat dikalahkan,tercerai-berai menderita kerugian besar.Demikianlah keadaan tentara SRI MAHARAJA hingga maju terus sampai tiba di RABUT CARAT.
"...tan asowe ikang kala masƶ
tekang Ƨatru sakakulwan, irika
ta ÄrÄ« mahÄrÄja prang sahawa- dÄnira kabeh, alarÄlayu muwah Ƨatru ƧrÄ« mahÄrÄja,akweh lwang nya tÄhÄr atinggal, yayenpang- dawuta kabeh smuni lÄwan ƧrÄ« mahÄrÄja,ringsamang kana, " hana ta tunggulning Ƨatru layÅ« layÅ« katon wetan i haniru, bang lawan putih warnnanya, " š²šØ sakatonikang tunggul ika irika ta yan pangdawut sanjata sang arddharÄja, lumakwakenan sayaprawrti, alayÅ« niskaranÄ nujuwi kapulungan purwakani sanjata ƧrÄ« mahÄrÄja rusak, ƧrÄ« mahÄrÄja pwÄtyantadrda bakti i ÄrÄ« krtanagara, ya ta matang- nyan kari ta ƧrÄ« mahÄrÄja i rabut carat, makawasanang gumintir anggalor datÄng i pamwatan apajÄg loring lwah, Ätara nÄm- atus kweh (V a)nirowang ƧrÄ« mahÄrÄja..."
Tak seberapa lama, datanglah kembali musuh dari pihak Barat, maka SRI MAHA- RAJA berperang lagi dengan segala tenaga dan tentaranya dan musuhpun dapat dihalau dg kerugian besar yang tampak nya lari untuk selama nya.
Dalam keadaan yang demiki-an maka tampaklah di sebelah Timur HANJIRU tunggul bende- ra musuh melambai-lambai, me rah dan putih warnanyaš²šØ. dan ketika melihat tunggul itu ma- ka serentak SANG ARDARAJA menyarungkan senjatanya, ber- laku sangat memalukan dan lari bersama pengikutnya ke arah KAPULUNGAN dengan maksud jahat.Oleh sebab itu berkuranglah kekuatan tentara SRI MAHARA- JA, namun SRI MAHARAJA te tap setia kepada SRI KERTA- NAGARA.
Itulah sebabnya SRI MAHA- RAJA tetap tinggal di RABUT CARAT, dan setelah itu melan- jutkan perjalanan ke arah Utara menuju ke PAMWATAN di sebe- rang Sungai.Dipihak SRI MAHARAJA pa- da waktu itu masih tertinggal kira-kira 600 orang.
"...ring sakatÄmbenjing, tka te- kang Ƨatru, anut i Ƨri mahÄrÄja pinapag deni bala ƧrÄ« mahÄrÄja kondur ta yÄdÄ ulih nyanalayu, tathÄpinyan mangkana, yayan sang ƧayÄkdik wadwÄ Ć§rÄ« mahÄ rÄja, lunghÄnolong awaknya tu- minggalakÄn i Ƨri mahÄrÄja, wdi ƧrÄ« mahÄrÄja pwa kesisana,irika ta ƧrÄ« mahÄrÄjan parasarasan lÄwan rowang, hana tÄngÄn- angÄn ƧrÄ« mahÄrÄja datÄnge trung, angucapucapa lÄwan ikang akuwwi trung makang- aran rakryan wurwagraja, sÄk- sÄt kawu de ƧrÄ« krtanagara, rowanga ƧrÄ« mahÄrÄja ngayat- akÄn ikang wwang wetan i trung, mwang salor-wetan i trung, an mangkanÄngÄn angÄn ƧrÄ« mahÄrÄja, pada suka ta wad- wÄ Ć§rÄ« mahÄ- rÄja, tkanikang wngi pwaya ta, mangkatta ƧrÄ« mahÄrÄja mahawani kulawan, wdidiran kekuta(V b)na dening Ƨatru..."
Pada keesokan harinya sete- lah matahari terbit datanglah musuh menyerang SRI MAHA- RAJA. Tentara SRI MAHARAJA me- nyongsong dan menghadang mereka, sementara beliau me- milih mundur memisahkan diri.
Namun demikian bala tentara SRI MAHARAJA sudah sangat berkurang jumlahnya; ada yang lari menyembunyikan diri dan meninggalkan beliau, sehingga menimbulkan kecemasan tan- pa persenjataan.
Setelah itu SRI MAHARAJA berunding dengan para pengi- kutnya, sehingga beliau harus pergi ke TERUNG, supaya ber- runding dengan Akuwu di sana, yaitu RAKRIYAN WURU AGRA- JA namanya yang diangkat menjadi Akuwu oleh SRI KERTA NAGARA, agar bersedia mem- bantu SRI MAHARAJA me- ngumpulkan segala orang yang ada di sebelah Timur dan Timur-Laut TERUNG. Semuanya menyetujui pendapat tersebut.
...........berlanjut ....