Kelopak Gugur
Gugurlah sudah bunga sakura yang pernah mekar. Setiap kelopak menghantar cerita panjang indahnya hari itu. “Biarkanlah aku terpisah darimu wahai tangkai, aku ingin kebebasanku.”

seen from Israel
seen from Yemen
seen from South Korea

seen from Singapore
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United States
seen from Australia

seen from Australia

seen from Maldives
seen from United States
seen from Australia

seen from Italy

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States

seen from Australia

seen from Russia
seen from United Kingdom
seen from United Kingdom
Kelopak Gugur
Gugurlah sudah bunga sakura yang pernah mekar. Setiap kelopak menghantar cerita panjang indahnya hari itu. “Biarkanlah aku terpisah darimu wahai tangkai, aku ingin kebebasanku.”

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Bunga-bunga semangat bermekaran di taman hati
"Bunga-bunga semangat bermekaran di taman hati yang disiram air mata perjuangan. Biarkan duri menguatkan, kelopak mewarnai dunia."
Kisi Mati
Suatu ketika di subuh yang dingin, angin mengetuk pintu kamar dan membangunkanku, katanya dia akan mengajakku ke tempat yang belum pernah ku kunjungi sebelumnya. Seperti kemarin, namun tanpa terburu, angin membantuku membawa hal yang kubutuhkan. Sebelumnya, jika kamu bertanya kenapa aku mau-mau saja untuk bepergian dengan angin? Jawabanku adalah karena mungkin memang itulah alasan angin dan aku bertemu, untuk saling membantu menemukan apa-apa yang hilang dari diri kami.
Pukul 06.00 pagi aku menaiki kereta abu abu dengan sisa bulan utuh di sisi kanan dan terbit matahari di kiri. Tentu saja, angin tidak menaiki kereta itu bersamaku, ia berterbangan diluar jendela, sambil sesekali melihat ke arahku. Kau tau? Aku menaiki kereta yang melaju paling kencang sepanjang hidupku. Hingga seolah seluruh jiwa yang harusnya bersamaku masih ada tertinggal di kamar-kamar dalam rumah. Sesekali aku takut saat kereta melewati lebatnya pepohonan pinus yang masih diselimuti kabut tebal hingga terlihat menyerupai tirai filtrase di jendela kamarku, bedanya kabut ini terasa seperti terowongan dingin yang tak pernah usai, bukankah harusnya aku tetap di kamar saja, dengan selimut menutupi badan hingga leher kemudian bangun dengan secangkir teh manis dan beberapa kudapan kering. Kataku yang masih saja selalu mencari alasan untuk selalu menghindari segala ketidaknyamanan di hadapan. Aku berkata pada angin sebelum menaiki kereta ini, tidak bisakah aku berterbangan dengan angin saja? Tidak, kamu harus sampai di sana dua jam lagi. Katanya.
Pukul 07.00 pagi aku mulai terbiasa dengan kencangnya kereta dan mulai gugup saat ada stasiun pemberhentian, sedikit cemas kalau itu membuat angin marah, karena aku akan sampai tak tepat waktu. Rasanya aku ingin berlari yang bahkan lebih cepat dari kereta yang aku naiki. Membawa mimpi semalam dan beberapa kilasan doa yang sudah ku langitkan, seperti agar aku sampai dengan selamat, tidak membuat angin marah karena terlambat, tidak kehilangan arah karena bukan di tempat yang dekat.
Pukul 12.00 siang dijalan pulang aku membawa sekantong kecil oleh-oleh seperti sebungkus awan, sebungkus biru langit, sebungkus terik matahari, sebungkus lumpur sawah yang baru dibajak, sebungkus dedaunan kering, dan sebungkus perasaan. Saat berlarian ke stasiun, Ilalang menabrak ku, membuat sebungkus perasaan yang ku bawa di tangan berantakan dan berceceran. Dengan segera semua isi didalamnya menguap menyisakan bungkus berwarna arang.
Sepanjang perjalanan pulang, awan mengikuti keretaku, dia berkata tadi dia banyak berbincang dengan angin, awan bercerita kepadaku kata angin, aku masih saja terperangkap dalam kotak-kotak dengan kisi mati. Kata angin, setiap perjalanan yang ia siapkan untukku, belum bisa membawaku meninggalkan sudut ruang yang selalu membuatku nyaman dan ketakutan bersamaan. Kata angin, cerita yang angin berikan kepadaku ternyata belum bisa membebaskanku dari riuh rasa kecil hati yang kumiliki. Sepanjang perjalanan pulang aku menemukan kecemasan kemudian harapan, ada ketakutan kemudian kekuatan.
Angin tiba terlebih dahulu dengan membawa awan kelabu di depan pintu keretaku, dia melambaikan tangan dan aku tersenyum lebar. Hari ini aku merasa sedikit hidup. Kataku pada angin yang berjuang sendirian untukku. Terima kasih selalu membawaku. Kataku sekali lagi.
Daun Jati Musim Kemarau
Hari minggu tanggal lima belas bulan delapan. Angin mengajakku pergi mengendarai awan, kemudian tanpa menunggu jawabku, ia membantuku mengepak baju-baju ke dalam koper berdebu yang lama tersimpan di sudut ruang, aku meletakkan selembar terusan hitam, kemeja kelabu kedodoran, dan pakaian-pakaian berwarna biru mendungku. Angin menggerutu kenapa tak ada biru langit, hijau pucuk daun, ataupun merah strawberry di lemari ku.
Angin yang biasanya tenang dan hanya akan membawaku berterbangan saat fajar yang sedang dingin-dinginnya, saat langit sore sedang jingga-jingganya, dan saat mendung yang di hinggapi burung-burung gereja. Kali ini angin mengajakku pergi saat matahari terik diatas kepala, menyuruhku membawa pakaian dan hal-hal lainnya. Ini bukan sejam dua jam seperti sebelumnya, ini akan lama dan akan lebih jauh dari lantai atas menara-menara pinus yang biasa aku lihat dari atap rumah berjendela kaca.
Awan sudah menunggu diluar pagar cokelat yang keropos karena cipratan hujan, angin membawa koper beroda ku, sekeranjang bekal makanan, dan setumpuk buku harian kosongku. Aku pikir dia terlalu semangat untuk bepergian kali ini, setelah terselidik, katanya dia ingin menunjukan keberadaan sesuatu yang aku anggap mustahil dalam hidupku. Jujur dan tak bisa berbohong dengan perasaanku, aku terlalu takut untuk merasa antusias dan bersemangat.
Matahari masih di ujung tertinggi kubah langit tepat diatas kepalaku, aku menaiki awan sedangkan angin berhembus pelan di samping awan, kami mulai mengapung dan berterbangan. kotak-kotak tempat ku tinggal semakin tak terlihat, pucuk - pucuk pinus semakin mendekat, aku menahan senyum dan tertawa sembunyi-sembunyi.
Sepanjang perjalanan aku bertemu dengan teman awan dan angin, berkenalan dengan hujan dan pelangi, menemui laut yang berlarian, sungai yang surut kekeringan, padang rumput kekuningan, aku melihat fajar dan senja bergandengan saling menyapa, aku mengakrabkan diri dengan karang dan jurang, menanam bintang yang kunamai sagitarius dan saturnus. Aku mulai mencintai pepohonan hijau, oranye, dan dedaunan keringnya. Buku harian ku mulai penuh gambar-gambar acak dengan berlembar-lembar paragraf kalimat, entah berapa pena yang telah ku rusak dalam perjalanan ini. Angin selalu berhembus dan menari, awan menggumpal gumpal agar aku merasa nyaman. Aku tersenyum dan entah mengapa merasa kosong berasamaan.
----
Namun, ternyata alasan sebenarnya angin membawaku dalam perjalan panjang ini adalah karena sejak awal angin tau, keinginanku keluar dari kotak itu hanyalah dalih untuk menyembunyikan hati ku yang rapuh. Perjalanan ini terlalu membuatku nyaman dan tanpa jeda membuatku egois, aku melupakan mutiara-mutiara yang selalu menjaga ku, aku melupakan burung pipit yang membantuku, aku melupakan hal - hal berpendar yang menerangi hatiku. Bukankah seharusnya perjalanan ini demi menjaga apa yang aku miliki? Agar aku bisa merawat dan menghargai dengan sebaik-baiknya? Tapi kenapa perjalanan ini semakin membuatku kehilangan cahaya yang aku jaga dengan kedua telapak tanganku?
Kemudian aku mengetahui, pintu-pintu kecil, meja di sudut ruang, jendela-jendela mati, labirin, teka-teki, dan luka-luka itu sebenarnya juga terlebih dahulu tau bahwa hatiku kecil dan rapuh, ketika aku pergi terlalu jauh, hatiku takkan bisa tergapai lagi oleh orang-orang yang mencintaiku, takkan bisa menggapai oleh orang-orang yang kucintai. Semua yang membuatku sulit, terluka, dan putus asa hingga membuatku menangis malam hari ternyata melindungi apa - apa yang sebenarnya berharga untukku, menjagaku, dan tanpa kusadari semua yang kubutuhkan sudah kumiliki. Aku hanya tak penah memiliki keinginan untuk mengakui dan menerimanya.
Di bawah biru langit dan putih awan bulan agustus -Dariku yang berlari menjauhi mimpi
perkenalkan, aku baru di sini, mereka memanggil aku dengan sebutan kelopak. dan hari ini adalah perjalanan panjangku bersama angin. lebih tepatnya perjalanan pertamaku mengikuti angin. kami pergi ke arah cahaya keemasan di langit sebelah barat sebuah kota kecil yang sawahnya mulai terkikis rumah-rumah petak yang katanya murah.
cahaya itu memberkas tak beraturan di tembok-tembok setengah jadi yang sedang dikerjakan oleh Pak Tukang. Lega, kerena semen yang masih basah itu tidak akan terkena hujan.
di tempat yang lebih tinggi dari bagunan sekitarnya, ada rumah untuk minum cairan hitam pekat yang katanya bernama kopi dan orang-orang disana menyebut cahaya emas itu sebagai golden hours. kemudian, mereka mengambil swafoto terbaik menggunakan gawai yang ada di tangan mereka.
segerombol anak dengan bedak putih tak rata di wajah dan wangi minyak telon dari badan, berlarian keluar rumah, menyelesaikan misi permainan mereka yang belum usai. suara tawa dan teriakan di sepanjang gang yang penuh dengan rumah-rumah tanpa halaman.
pria dan wanita paruh baya dengan caping di kepala mereka berjalan pada jalan setapak yang kanan kirinya adalah sawah dan parit, kembali dari ladang palawija yang ditanami bibit sayur mayur baru. hari ini mereka menyelesaikan lebih banyak lahan dari hari sebelumnya.
aku pergi bersama angin meninggalkan jauh langit timur yang berwarna kelabu biru, mendekat ke cahaya yang menembus kaca-kaca jendela yang masih terbuka. mendekat ke cahaya yang membias diantara sisa-sisa air yang digunakan menyiram tanaman sore hari.
untukku ini seperti mengisi lagi ingatanku yang entah terhenti sampai mana. mengisi kekosongan yang bahkan tak pernah ku tau kapan menjadi sekosong ini. kini aku tahu, aku belum mati.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
sketsa kelopak bunga mawar
Gadis Cilik Nekat Masukkan Mata Barbie ke Mata Sendiri
Gadis Cilik Nekat Masukkan Mata Barbie ke Mata Sendiri
Gadis Cilik Nekat Masukkan Mata Barbie ke Mata Sendiri
afandonline.com – Gadis Cilik Nekat Masukkan Mata Barbie ke Mata Sendiri.
Apa sih yang sebenarnya terjadi?Cerita yang bisa bikin bulu kuduk merinding ini berawal dari seorang gadis kecil asal Pomeu, Brasil, yang berusia 11 tahun harus mengalami pengalaman yang bisa dibilang sangat mengerikan. Sebuah mata boneka dengan sukses masuk ke kelopak…
View On WordPress
Kim Go Eun Nyaris Lakukan Operasi Kelopak Mata
Kim Go Eun Nyaris Lakukan Operasi Kelopak Mata
Aktris Kim Go Eun mengaku dirinya sempat ingin melakukan operasi plastik. Ia ingin memiliki kelopak mata. (more…)
View On WordPress