Author: 815Soo as Narator
Casts:
Jang Wooyoung as Wooyoung | Sung Ji Hee (OC)
Supported Cast:
Nichkhun Buck Horvejkul as Nichkhun | Kim Minjun as Minjun | Shin Eun Ah (OC) as Nivhkhun brides | Jung Hyeo Soo (OC) as Minjun brides
Cameo: JB as Jaebum
Genre: Romance, Drama
Type : Two shot, 2/2
Background song: Regrets – 2AM | Real Love – Jun. K
A/N: A Fanfiction request by Ulfi. ^^ Enjoy~
Wooyoung turun dari taksi dan membayarnya. Ia sampai di depan pintu masuk sebuah rumah sakit ternama di Seoul. Terakhir kali ia datang ke rumah sakit adalah saat Minjun cedera pergelangan kaki. Sejak saat itu, Minjun berhenti dari basket dan bersenang- senang di dunianya sendiri, dunia Fashion. Sesekali Minjun masih menemaninya di lapangan, hanya untuk memasukkan 2 atau 3 point ke ring tanpa berlarian di lapangan.
Wooyoung memasuki lobby rumah sakit dan melihat Jihee bersama Nichkhun yang baru keluar dari lift. Wooyoung menghentikan langkahnya dan memperhatikan Jihee yang tertawa di samping Nichkhun. Ingin sekali Wooyoung menarik Jihee dari samping Nichkhun dan mendekap tawanya dengan bibirnya.
“Wooyoung, kau ada di sini?” Minjun berdiri di depannya.
“Oh, Minjun. Sebentar.” Wooyoung mencari Jihee lagi, tapi baik Jihee maupun Nichkhun sudah tidak kelihatan lagi.
“Kau sedang cari siapa?” Minjun menanyainya lagi setelah sadar Wooyoung mengedarkan pandangan ke sekeliling lobby.
“Jihee dan seseorang bersamanya. Apa kau melihatnya?” Wooyoung menatap Minjun.
“Ya, dia sudah pergi. Barusan mobil Nihckhun lewat di depan lobby.” Minjun menjawab Wooyoung santai.
“Aku pergi dulu.” Wooyoung baru akan menyusul Jihee dan Nichkhun saat Minjun menahan bahunya.
“Sudahlah, temani aku ke atas. Salah satu klien pentingku sedang di rawat disini.” Minjun menarik Wooyoung yang pasrah.
Lift yang mereka masuki menuju lantai 7. Seseorang yang tadi bersama mereka sudah keluar di lantai 2. Minjun membuka pembicaraan dengan pertanyaan yang membuat Wooyoung kesal setengah mati.
“Kenapa kau ada di sini?” Minjun bertanya pada Wooyoung.
“Kau yang menarikku, dan karena kau, aku mungkin tidak bisa bertemu lagi dengan Jihee. Aku menyia-nyaiakan kesempatan ketiga dan terakhir.” Wooyoung menggeram.
“Maksudku, jika kau benar- benar menganggap itu kesempatan terkahirmu, kau pasti sudah mengejarnya. Lagi- lagi kau ragu.” Minjun bersedekap dan pintu lift mereka terbuka di lantai 7.
“Kau yang membuatku mengejarnya dan kau juga yang menghentikanku, kan?!” Wooyoung menyalahkan Minjun.
“Kau sedang menyalahkanku? Kau harusnya berpikir apa yang membuatmu kehilangan banyak kesempatan.” Minjun berhenti di dekat jendela di depan sebuah kamar rawat.
“Aku… tidak yakin…” Gumam Wooyoung.
“Kau harus mengukuhkan keyakinan tentang apa yang sebenarnya kau inginkan, kesempatan akan selalu ada hanya jika kau siap mengambilnya. Dengan begitu kau akan merasa beruntung.” Minjun menepuk pelan bahu Wooyoung dan melangkah ke pintu.
“Minjun-ah, terima kasih. Aku harus ke tempat lain. Kau masuk sendiri saja, ya?” Wooyoung menggaruk pelan kepalanya yang tidak gatal.
“Ya, baiklah. Jangan menyesal jika kau tidak ikut masuk bersamaku, ya.” Minjun menggodanya.
“Minjun-ah, sampai jumpa.” Wooyoung membungkuk pelan dan meninggalkan Minjun yang mengunjungi Kliennya.
“Eunah-ya~ bagaimana keadaanmu?” Minjun menyapa calon pengantin Nichkhun yang duduk dengan bosan di atas tempat tidurnya.
“Aku hampir mati bosan di sini. Nichkhun dan Jihee baru saja mengunjungiku, kau terlambat.” Eunah tersenyum dan menerima pelukan dari temannya itu.
“Jadi, siapa kau bilang namanya tadi, Ah, Wooyoung, benar, kan? Dia pikir Jihee yang akan menikah dengan Khunnie?” Eunah memasah wajah sadarnya.
“Eung~ begitulah sepertinya.” Minjun memakan snack yang ada di atas buffet di sebelah tempat tidur Eunah.
“Lalu, apa kau tidak akan memberitahu dia yang sebenarnya?” Eunah ikut mengambil snack dari tangan Minjun sebelum masuk ke dalam mulutnya.
“Tidak kurasa. Aku hanya ingin membuatnya benar- benar menyadari bahwa ia tidak bisa selalu melakukan semuanya sendiri. Ada aku dan orang lain yang bisa membantunya. Wooyoung sudah cukup terfokus pada dirinya, hanya Jihee yang bisa meruntuhkan dinding fokusnya dan tanpa Jihee, kurasa Wooyoung hanya akan menjadi nyawa tanpa jiwa.” Minjun bersedekap dan menatap serius Eunah saat menjelaskan hal itu. Eunah sempat terdiam dan akhirnya mengangguk mengerti.
“Tapi, aku jadi kasihan pada Jihee.” Eunah kemudian menatap jendela.
“Ya, terkadang juga mengasihani Jihee.” Minjun mengangguk setuju.
“Jihee terlalu baik untuk Wooyoung. Selama aku mengenalnya, Jihee selalu mengatakan padaku bahwa ia berterima kasih pada seseorang yang membuatnya meraih mimpinya. Belakangan aku mengetahui bahwa seseorang itu adalah mantan kekasihnya, Wooyoung. Ia tetap mengatakan hal baik dari Wooyoung meski aku tahu tidak sedikit rasa sakit yang diberikan lelaki itu pada Jihee.” Eunah menyelesaikan kalimatnya dan menatap balik ke arah Minjun.
“Aku, sebenarnya kasihan pada keduanya. Jika saja Jihee masih memiliki tempat untuk Wooyoung di hatinya, mereka berdua pasti bisa bahagia.” Minjun menerawang menatap daun yang bergoyang di luar jendela.
“Aku juga berharap mereka akan bahagia. Seperti orang yang sedang mengunjungiku dan pasangannya di akhir minggu ini.” Eunah memberikan senyum penuh arti dan menggoda Minjun yang seketika menjadi salah tingkah.
“Yah, kau tidak membantu sama sekali! Aku kemari untuk mengalihkan pikiranku dan kau malah membuatku semakin buruk.” Minjun bersedekap dan menekuk maju bibirnya pada Eunah.
“Hahaha~ tenanglah, Hyeosoo akan sangat cantik di pelaminan nanti. Kau pasti bahagia bersamanya.” Eunah menepuk- nepuk pinggang Minjun dan tersenyum meyakinkan Perancang busana yang menjadikan dirinya model pertama di pagelaran busana pertamanya di Italy.
“Aku rasa Hyeosoo akan menyesal jika tahu separah apa aku dalam bekerja. Tapi, aku akan berusaha untuk selalu membuatnya tersenyum. Ah, aku rasa kami akan tinggal di Jeju setelah pernikahan kalian.” Minjun berkata pada dirinya sendiri dan tersenyum malu pada Eunah, tapi model sekaligus sahabatnya itu tahu bahwa Minjun rela mengorbankan segalanya demi Hyeosoo.
“Ah, aku rasa aku tidak bisa hadir di pernikahanmu, kau lihat sendiri kondisiku, kan?” Eunah menggenggam tangan Minjun.
“Tak apa, Nichkhun, Jihee dan Wooyoung sudah cukup untukku.” Jawab Minjun setengah pamer setengah kesal.
“Benarkah? Kau jahat! Aku akan memberikan surat pengunduran diri atas kerjasama dengan perusahaanmu.” Jawab Eunah tampak kesal.
“Silahkan, tapi aku akan lebih dulu membuatmu pergi dari perusahaanku setelah kau menikah dengan Nichkhun.” Minjun bertolak pinggang dan Eunah hampir kaget setengah mati. Tapi, kemudian Minjun memberikan dua buah tiket liburan selama 7 hari di Swiss dan tanggal keberangkatannya adalah pada malam pernikahan Eunah dan Nichkhun.
“Kau gila!!! Minjun kau sahabat terbaikku!” Eunah mengambil kedua tiket itu dan meraih Minjun untuk memeluknya.
“Hahaha~ kau berlebihan. Pastikan kau tidak mencederai dirimu lagi. Oke?” Minjun membalas pelukannya saat ponselnya berdering dan melepaskan pelukan Eunah.
“Tunggu sebentar.” Minjun mengangkan telepon sambil berjalan ke luar kamar.
Eunah meraih ponselnya sendiri dan mengetikkan sesuatu untuk Jihee. Menunggu balasan dan Ia tersenyum dan kembali berbaring di tempat tidurnya setelah ia mendapatkannya.
Apa yang kau pikirkan lagi?
Jika kau melepaskannya kali ini,
aku yakin kau akan menyesal seumur hidupmu.
-Eunah-
“Siapa itu?” Nichkhun berusaha mengintip di balik handphone Jihee sambil menyetir perlahan.
“Eunah, ia menanyakan hal yang sama denganmu. Takdir ada di pihak kalian. Kalian membuatku iri.” Jihee bersandar dan memejamkan matanya lagi.
Nichkhun tidak membalas pernyataan Jihee dan hanya menghela napas kemudian kembali fokus pada jalanan di hadapannya.
“Oppa~ aku butuh bantuanmu. Kau bisa kan? Kau harus menyanggupinya.” Jihee membuka matanya dan menatap Nichkhun dari kaca spion tengah sementara Nichkhun menatapnya kaget dan hampir menjawabnya. Tapi, Nihckhun akhirnya mengangguk setuju.
Wooyoung menatap cermin di apartemennya. Ia mengenakan kemeja putih dan jas berwarna hitam. Dua kancing teratasnya masih terbuka. Ia memandang sebuah dasi yang tergantung di samping cermin itu dengan pandangan kosong. Wooyoung mengingat dirinya berusaha kembali mengejar Jihee yang mungkin sudah sangat jauh dari rumah sakit. Ia tidak bisa menemukan jalan keluar untuk menemukan Jihee. Tidak di apartemennya yang dulu. Tidak juga dari alamat Nichkhun yang berusaha didapatkannya dari pegawai Minjun. Karena alamat itu adalah tempat tinggal Nichkhun yang lama dan sudah berganti penyewa.
Wooyoung menatap matanya sendiri dan menyadari. Bahwa Jihee dan Nichkhun adalah pelanggan Minjun. Bahwa kenyataan mereka berdua pasti datang ke pernikahan Minjun adalah hampir mutlak. Bahwa ia bisa bertemu Jihee di pernikahan Minjun, meski akan ada Nichkhun di sampingnya. Bahwa mungkin ini kesempatan terakhirnya. Wooyoung mengambil dasinya dan berjalan ke luar wardrobe mengambil bingkisan yang sudah disiapkannya untuk Minjun dan Hyeosoo kemudian meninggalkan apartemennya.
Wooyoung memeriksa jam tangannya dan ia tidak punya cukup waktu untuk sampai tepat waktu sebelum pernikahan Minjun dan Hyeosoo berlangsung. Ia memeriksa kembali ponselnya sambil membiarkan dasinya tergantung begitu saja di lehernya. Panggilan masuk dari Minjun membuatnya semakin cepat berlari menuju jalan raya.
“Hallo?” Wooyoung melewati koridor dan lobby, mengabaikan satpam apartemen yang membungkuk menyapanya.
“Jika kau tidak datang, aku dan kau, kita berakhir.” Minjun menjawabnya dengan ancaman.
“Aku baru mendapatkan taksi, kau tenang saja.” Wooyoung memanggil taksi dan segera memberikan alamat sebuah hotel tempat pernikahan Minjun akan berlangsung.
“Bagaimana aku bisa tenang?! Aku akan menikahi seseorang dan Best Man ku tidak ada di sini!” Minjun memarahi Wooyoung dan memutuskan sambungan teleponnya.
Wooyoung mengerjap karena ia baru sadar perannya dalam pernikahan Minjun. Ia membenturkan kepalanya ke kaca beberapa kali hingga supir taksinya menoleh.
“Anda baik- baik saja?” Paman itu bertanya padanya.
“Ya, tidak apa- apa. Maafkan aku.” Wooyoung sedikit membungkuk dan kembali mengingat tugasnya di pernikahan Minjun.
Wooyoung kembali dari kamar kecil menuju ke ballroom di mana Minjun dan Hyeosoo sudah bergabung bersama tamu yang lain untuk menikmati makan malam. Meja- meja bundar memenuhi ruangan itu. Ada banyak perancang terkenal yang datang karena mengenal dekat Minjun. Beberapa teman kuliah yang juga menyapanya, meski tidak banyak yang diingat Wooyoung. Akhirnya Wooyoung menemukan figur yang dicarinya sejak ia menginjakkan kaki kembali di ruangan ini.
Jihee berdiri membelakanginya dan di sampingnya berdiri figur yang Wooyoung tahu adalah Nichkhun karena ia sudah beberapa kali menemuinya. Minjun yang melihatnya segera memanggilnya untuk bergabung di meja mereka. Hingga akhirnya Wooyoung berdiri selangkah di samping Jihee dan mengucapkan selamat sekali lagi pada Minjun dan Hyeosoo. Wooyoung menatap Jihee dari tempatya berdiri sementara Nichkhun sedang berbisi pada Jihee di hadapan mereka.
“Kami harus pergi sekarang. Orang tuaku menunggu di rumah.” Nichkhun menatap Minjun dan Hyeosoo sementara Jihee menghindari tatapan Wooyoung.
“Ah, Aah~ Baiklah. Aku dan Hyeosoo mengucapkan banyak terima kasih kalian sudah menyempatkan diri untuk hadir di acara besar kami. Akan kutemui lagi kalian besok di galeri.” Minjun mempersilahkan Jihee dan Nichkhun untuk meninggalkan mereka sementara Hyeosoo menyikut tulang rusuknya pelan.
“Tidak bisakah kau menunda membicarakan pekerjaanmu malam ini?” Hyeosoo akhirnya menunjukkan rasa irinya pada pekerjaan Minjun dan tertawa menggodanya.
“Baiklah- baiklah maafkan aku.” Minjun mencubit pelan pipi Hyeosoo.
“Hahaha~ kau sebaiknya bersikap baik pada Hyeosoo mulai saat ini.” Nichkhun memberikan sarannya sebelum membungkuk pergi.
“Sung Jihee,” Wooyoung melangkah menutup jalan Jihee. Jihee menghentikan langkahnya sementara Nichkhun dimintanya untuk pergi lebih dulu.
“Tidak di sini.” Jihee menjawab Wooyoung singkat dan pergi ke teras di dekat kolam renang diikuti Wooyoung.
“Jihee, Aku-“ Wooyoung menelan kalimatnya saat Jihee menamparnya.
“Apa kau sudah sadar sekarang?” Jihee bertanya sinis pada Wooyoung.
“Aku tahu! Maafkan aku, Jihee.” Wooyoung berusaha meraih Jihee. Tapi, Jihee menolaknya.
“Aku tidak bisa memaafkanmu sekarang, Nichkhun menungguku dan Orangtuanya menunggu kami. Kau sudah tahu, kan?” Jihee menatapnya tajam dan berjalan meninggalkan Wooyoung yang mentap Jihee melangkah pelan menjauhinya. Namun, akhirnya Jihee berhenti dan membuat Wooyoung terkejut.
“Jika kau bersungguh- sungguh, kau- bisa menghubungiku besok. Kesempatanmu hanya ada satu kali, Jang Wooyoung.” Jihee melanjutkan lagi langkahnya kembali ke ballroom meninggalkan Wooyoung yang sedikit lega di tepi kolam renang.
Wooyoung duduk di ruang ganti pemain dengan headset di telinganya dan handuk basah di kepalanya. Hari ini pertandingannya, hari ini juga ia membuat janji untuk bertemu Jihee di lapangan basket kampus mereka dulu. Ia sudah bermain satu pertandingan dan masih ada tiga pertandingan lagi jika mereka terus memenangkan pertandingan hingga akhir. Wooyoung mengingat kembali saat ia meniggalkan Jihee untuk pertandingan basketnya dan saat ita hanya bisa memperjuangkan mimpinya diatas Jihee. Tapi ia menyesal karena saat itu ia benar- benar melepaskan Jihee tanpa mengetahui alasan sebenarnya.
Saat ia memenangkan pertandingan itu, Wooyoung merasa sangat bangga. Tapi, tidak ada lagi Jihee yang bisa ia bagi kebanggaannya. Tidak ada lagi Jihee yang berteriak di tepi lapangan untuknya. Tidak ada lagi pula Jihee yang memberikannya handuk dan air mineral untuknya. Tidak ada lagi Jihee dengan keluhan tugas- tugasnya. Tidak ada lagi Jihee yang meneleponnya di tengah malam untuk minta diantarkan snack malam. Tidak ada lagi Jihee dan kantung tebal berwarna hitam di bawah matanya yang bersandar di punggungnya untuk sekedar menghilangkan kantuk saat keduanya memiliki jam kosong yang bersamaan.
Wooyoung menyadari Jihee benar- benar pergi meninggalkannya. Apartemen Jihee yang kosong, teman- reman Jihee yang dikenal Wooyoung juga tidak mendapatkan informasi lebih baik dari Wooyoung. Saat itu juga banyak pertandingan basket menanti Wooyoung di lapangan dan seiring waktu, Wooyoung kembali ke dalam dunianya. Hanya ada Minjun yang masih bersedia pergi bersamanya. Meski pada akhirnya Minjun bertemu Hyeosoo dan mereka menjadi sepasang kekasih.
Wooyoung merasa seseorang memanggil namanya dan ia pun mendongak. Tampak teman- temannya mulai berjalan meninggalkan ruang ganti pemain dan pelatihnya berdiri di depan pintu menatapnya juga meneriakinya untuk bersiap memasuki lapangan. Wooyoung mentap pelatihnya dan berkata dalam hati bahwa ia harus menang di lapangan ini dan juga di hati Jihee sebagai pertandingan terakhirnya.
“Oppa~ kau sudah datang?” Eunah merentangkan tangannya menyambut Nichkhun yang mengunjunginya sendirian, tanpa Jihee.
“Eunah~” Nichkhun segera memeluk calon pengantinnya itu.
“Dimana Jihee? Kau tidak bersamanya?” Eunah menanyai Nichkhun setelah mereka melepaskan pelukan.
“Tidak. Ia bersikeras menunggu Wooyoung sendirian di lapangan basket kampus mereka dulu meski aku sudah bersusah payah ingin menemaninya.” Nichkhun menjelaskan dengan wajah lesu.
“Lalu, apa kau akan menjemputnya nanti?” Eunah bertanya penasaran.
“Ya, aku tidak akan membiarkan Jihee menunggu lebih dari dua jam. Jadi, jika Jihee tidak mengabariku satu jam lagi, aku akan menjemputnya dan membawanya pulang.” Nichkhun menjawab Eunah dengan tegas.
“Oppa~ Kau tidak sedang tertarik pada Jihee, kan?” Eunah menatapnya dengan curiga.
“Eunah-ya~ Jihee sudah seperti adikku sendiri. Dan kau satu- satunya wanita dalam hidupku.” Nichkhun mendekap wajah Eunah dengan telapak tangannya dan mengecup pelan bibirnya yang cemberut.
“Baiklah, aku percaya padamu.” Eunah tersenyum lega dan membalas kecupan Nichkhun.
“Satu minggu lagi kau sudah bisa keluar dari rumah sakit. Apa kau senang?” Nichkhun menyuapi Eunah dengan potongan kiwi.
“Aku senang, tapi itu masih terlalu lama. Apa kita tidak bisa menikah saja di sini?” Eunah bertanya menggoda Nichkhun.
“Benarkah? Kau mau menikah di sini? Aku akan panggilkan petugas pernikahan sekarang juga.” Nichkhun mengambil ponselnya dan baru akan menekan layar saat Eunah menghentikannya.
“Aku hanya bercanda.” Begitulah Eunah menjawab Nichkhun dan keduanya tertawa.
“Ah, ya. Tadi Jihee meminta undangan kosong untuknya. Menurutmu untuk apa dia memintanya? Bukankah Jihee sudah kau berikan undangan?” Nichkhun menanyai Eunah dengan sedikit bingung.
“Entahlah, mungkin ia ingin mengundang mantan kekasihnya itu.” Eunah menjawabnya santai.
“Yang benar saja!” Nichkhun tampak tidak mempercayainya.
Aku sudah di lapangan. (hapus)
Aku tidak akan memberikanmu kesempatan lain. (hapus)
Kau tidak perlu terburu- buru. Aku mungkin akan terlambat. (hapus)
“Aaah~~~ Apa yang kulakukan?” Jihee bertanya pada dirinya sendir.
Jihee masih memandangi layar handphonenya. Sudah hampir satu setengah jam ia menunggu Wooyoung di bangku kayu di dekat lapangan basket. Beberapa mahasiswa yang belum pulang masih bermain di lapangan. Mengingatkannya saat dulu ia masih menunggui Wooyoung bermain bersama teman- temannya. Tanpa ia sadari sebuah bola basket memantul ke arahnya diikuti mahasiswa yang mengejar bola ke arahnya.
“Maaf, itu bola kami.” Kata pemuda itu pada Jihee saat ia sudah memegang bola itu.
“Benarkah? Siapa namamu?” Jihee bertanya asal.
“Jaebum,” Jawab pemuda itu santai.
“Tapi, tidak ada tulisan Jaebum di bola ini.” Jihee memeriksa bola dan tersenyum tipis pada pemuda itu.
“Baiklah noona, ?” Pemuda bernama Jaebum itu bertanya.
“Jihee.” Jawab Jihee sambil memeluk bola itu di pangkuannya.
“Noona Jihee, bola itu tentu saja tidak ada tulisan namaku, tapi satu- satunya yang sedang bermain basket di lapangan adalah aku dan teman- temanku. Jadi, berikan bola itu padaku.” Jaebum meintanya dengan sabar.
“Baiklah, tapi kau melupakan satu kata dalam meminta sesuatu pada orang lain.” Jihee menggodanya lagi.
“Ah, tolonglah~” Jawab Jaebum sambil tersenyum masam.
“Hahaha~ Kau masih muda, jangan cepat menyerah. Ambillah. Maaf, aku sudah mengganggu kalian.” Jihee berdiri dan memberikan bola itu pada Jaebum.
“Oh, terima kasih. Noona, tidak sedang mabuk, kan? Sebaiknya noona pulang, pacar noona mungkin tidak akan datang.” Usir Jaebum yang akhirnya mendapatkan kembali bolanya dan berlari kembali ke lapangan.
“Ch~ pacar apanya!” Jihee berbalik dan kaget saat melihat Nichkhun yang sudah berdiri di belakangnya.
“Kau sebaiknya pulang sekarang.” Putus Nichkhun sebelah pihak.
“Oppa! Kau mengagetkanku! Lagi pula ini belum dua jam.” Jawab Jihee kesal. Nichkhun hanya diam saja dan menatapnya kasihan.
“Baiklah, baiklah. Aku akan pulang.” Jihee akhirnya menyerah dan mengikuti Nichkhun tanpa menoleh ke belakang.
Seandainya Jihee menoleh ke belakang satu kali saja, Wooyoung pasti mengejarnya dan bukan malah berdiri mematung di tempatnya saat ini. Entah sudah berapa lama Jihee menunggunya. Jika bukan karena kecelakaan lalu lintas, Wooyoung pasti masih sempat menemui Jihee sebelum Nichkhun. Atau jika saja ia memutuskan untuk berlari dari taksinya menuju kemari lebih cepat, mungkin ia sedang berbicara bersama Jihee. Wooyoung akhirnya berjalan ke tempat duduk yang tadinya ditempati oleh Jihee. Ia memandang ke arah lapangan basket di mana mahasiswa yang bermain basket tadi sudah tergeletak dan berbaring di lapangan karena kelelahan.
Entah berapa lama Wooyoung membiarkan otaknya tidak bekerja sampai akhirnya posel di saku tasnya bergetar.
“Kau di mana? Pelatih mengajak semuanya untuk makan malam bersama. Kami ada di kedai biasa. Kau-“ Salah satu anggota timnya lah yang menelepon.
“Aku, ah, maaf. Aku tidak bisa ikut kali malam ini. Sampaikan maafku pada pelatih.” Wooyoung menjawab temannya dengan lesu.
“Ah, ya. Baiklah. Kau tidak sedang ingin melakukan hal bodoh kan?” Tanya temannya itu.
“Tidak, tentu saja tidak. Aku, masih bisa mengatasinya. Katakan saja aku diundang makan malam di rumah Minjun dan Hyeosoo.” Wooyoung menjawab cepat temannya dan mematikan ponselnya.
Wooyoung memandang lapangan basket kampusnya dulu sebelum akhirnya berdiri dan pulang ke apartemennya.
Wooyoung duduk di ruang tamu apartemen minjun sambil melirik kaku ke arah Hyeosoo yang menyiapkan sarapan untuk Minjun dan tamu tak diundangnya.
“Apa yang terjadi?” Minjun bertanya dengan suara paraunya, tampak Minjun yang masih mengantuk. Masih terlalu pagi untuk Minjun bangun saat Wooyoung sudah duduk di ruang tamu sahabatnya.
“Aku lapar.” Wooyoung menjawab Minjun setelah mata mereka bertemu. Minjun segera saja melempar Wooyoung dengan bantal kursi.
“Kau pikir tempatku ini apa? Dasar Jang Wooyoung.” Minjun meneriaki Wooyoung dan menoleh ke arah Hyeosoo yang sudah tidak kelihatan di dapur.
“Aku terlambat menemui Jihee, lagi.” Wooyoung yang menyadari tatapan Minjun segera saja mengatakan masalahnya.
“Jang Wooyoung, Jang-Ssi, sahabatku Wooyoung. Lalu?” Minjun bertanya dingin padanya.
“Jihee bilang dia ada urusan dan tidak bisa menemuiku. Padahal ia menungguku malam itu.” Wooyoung bersandar di sofa menatap lesu ke arah Minjun.
“Tidakkah kau berpikir bahwa ia memberimu kesempatan lain?” Minjun akhirnya berargumen.
“Aku rasa tidak. Ia malah memintaku hadir di pernikahan Nichkhun.” Wooyoung berdiri dan bertolak pinggang.
“Ah, itu juga kesempatan, kan?” Minjun mencoba menahan diri untuk meneriaki Wooyoung bahwa Nichkhun tidak menikah dengan Jihee.
“Jangan membodohiku, Jihee hanya ingin pamer kalau ia menikah bersama Nichkhun.” Wooyoung meledak meski suaranya ditahan karena Hyeosoo sudah kembali ke ruang makan.
“Benarkah?” Tanya Minjun santai.
“Kau punya alasan lain?” Wooyoungmenatap tajam Minjun.
“Entahlah. Tapi aku masih harus memberikan undangan pernikahan Nichkhun yang dikirimkan Jihee ke kantorku padamu.” Minjun berdiri dan berjalan ke arah ruang makan.
“Tidak perlu! Aku tidak akan pernah datang!” Jawab Wooyoung.
“Wooyoung-ssi, kau tidak akan sarapan bersama kami?” Hyeosoo yang memegang piring berisi kimchi memanggilnya makan dengan bertanya.
“Ah, ya. Maaf, aku akan segera bergabung. Aku, akan ke kamar mandi dulu.” Wooyoung membungkuk dan akhirnya menghilang ke kamar mandi di bekat taman.
“Hallo” Minjun menjawab ponselnya di runang kerja yang penuh gambar rancangannya dan beberapa manekin yang dibalut kain.
“Minjun-ah,” Wooyoung menjawabnya dari seberang telepon. Wooyoung sedang di Jepang untuk pertandingan terakhir musim pertama tahun ini.
“Oh, Wooyoung-ah. Kau baik- baik saja? Bagaimana dengan pertandingan? Maaf, aku tidak bisa melihatmu bertanding.” Minjun bertanya santai, meski ia akhirnya sadar entah sudah berapa lama ia tidak mendengar kabar dari Wooyoung sejak terakhir kali ia memberikan undangan pernikahan Nichkhun dan Eunah.
“Kapan dan di mana pernikahan Jihee dan Nichkhun berlangsung?” Wooyoung bertanya padanya dan terdengar sangat terburu- buru.
“Huh? Kau tidak membaca undangan itu?!” Demi Tuhan Minjun ingin sekali memukul wajah Wooyoung saat itu.
“Aku meninggalkannya di apartemen dan aku menelepon dari Osaka. Sore ini aku pulang.” Wooyoung menjawab Minjun santai.
“Nichkhun akan menikah malam ini dan untuk kau ketahui, aku menghadiahkan dua buah tiket liburan ke Swiss yang keberangkatannya setelah acara pernikahan mereka.” Minjun menjelaskan kondisi yang Wooyoung hadapi tanpa memberikan kenyataan penting padanya.
“Yaa! Kim Minjun! Kenapa kau tidak mengatakannya lebih cepat?!” Wooyoung meneriaki Minjun. Untungnya ia sedang di dalam taksi dan kemudian segera membungkuk pada supir taksi tersebut.
“Aku pikir kau sudah membaca undangan Nichkhun! Kau bodoh!” Minjun balas meneriaki Wooyoung.
“Undangan! Undangan! Aku tidak perlu membaca undangan itu!” Wooyoung mematikan ponselnya meski amarahnya masih menguasainya. Tak hanya itu, Wooyoung juga panik karena mungkin tidak akan ada lagi kesempatan untuknya.
Sementara Jihee dan Nichkhun bersama Eunah yang sedang meminum teh di ruang kerja Minjun tampak kaget. Tapi Jihee hanya tersenyum masam.
“Jihee, aku rasa ia pasti datang.” Eunah menggenggam tangannya meyakinkan teman kuliahnya itu.
“Yaah~ Minjun-ah, bagaimana menurutmu?” Nichkhun bersedekap dan menatap Minjun penuh tanya.
“Entahlah, aku hanya bisa berharap Wooyoung memiliki sedikit kepercayaan diri untuk meminta Jihee kembali. Jihee-yah~ aku serahkan semuanya padamu.” Minjun tampak tidak tega menyaksikan Jihee saat ini.
“Tidak apa. Aku seharusnya berterima kasih karena kalian sudah banyak membantuku. Aku hanya bisa berharap pada takdir. Mungkin ia mau berbelas kasihan pada diriku.” Jihee berusaha tersenyum pada mereka.
“Tidak perlu. Aku memang harus membantu kalian. Aku akan mengirimi alamat dan waktu acara pernikahan mereka, kau tenang saja. Percayakan pada kami.” Minjun meyakinkan Jihee kemudian mengangguk pada Nichkhun dan Eunah.
Wooyoung masih mengenakan pakaiannya setelah konferensi press di Jepang. Ia tidak tidur selama di pesawat dan terus berharap Jihee tidak menikah dengan Nichkhun. Bahkan berharap sesuatu mengacaukan pernikahan mereka. Berkali- kali ia memesan alkohol ringan di pesawat untuk sekedar menenangkan dirinya. Sampai akhirnya ia tertidur.
Wooyoung akhirnya tersadar saat supir taksi membangunkannya di depan sebuah hotel. Kepalanya masih terasa berat. Ia berusaha mengingat bagaimana ia bisa ada di dalam taksi. Wooyoung dibangunkan oleh pramugari saat pesawat akan segera mendarat kemudian teman satu timnya membantunya turun dan mengantarkannya ke taksi. Wooyoung hanya membarikan ponselnya kepada supir taksi itu untuk menunjukkan tujuannya. Wooyoung membiarkan kepalanya sedikit tenang sampai akhirnya membayar taksinya.
Ia kini berdiri di hadapan sebuah lobby hotel yang megah. Tampak berderet- deret ucapan selamat di dalam lobby hingga ke terasnya. Wooyoung memperhatikan jam di tangannya dan menimbang- nimbang lagi apakah ia harus mendatangi pernikahan Jihee dan Nichkhun yang sudah berlangsung lebih dari satu jam. Ia melangkah menuju lobby dan sebuah bar. Ia meminta setengah lusin kaleng bir ringan dan membawanya ke arah kolam renang.
Wooyoung duduk di salah satu kursi di tepi kolam renang itu dan membuka kaleng pertamanya.
“Yah~ Sung Jihee, selamat!” Wooyoung berkata pahit mengucapkan selamat pada Jihee ilusi yang ada di hadapannya.
“Ah, di mana mempelai laki- lakinya, Nichkhun, di mana?” Wooyoung kemudian menghabiskan kaleng pertamannya dan menatap Jihee ilusi yang duduk di sampingnya.
“Kau masih suka menggambar? Ah, ya. Itu sudah pekerjaanmu, kan?” Wooyoung membuka kaleng kedua dan meminumnya lagi.
“Apa yang kau lakukan di kolam? Kau sudah bisa berenang sekarang?” Wooyoung menanyai Jihee ilusi yang duduk memasukkan kakinya ke dalam kolam. Ia berdiri dan membawa kaleng ketiganya menuju Jihee Ilusi sambil melepaskan sepatunya satu persatu.
“Apa begitu menyegarkan?” Wooyoung ikut duduk di samping Jihee ilusi dan memasukkan kakinya ke dalam kolam. Sementara Wooyoung menghabiskan minumannya yang kesekian Jihee ilusi sudah menceburkan diri ke dalam kolam dan menghilang di dalamnya.
“Yah! Kau bahkan sudah bisa menyelam? Sung Jihee!” Wooyoung mulai menceracau.
Jihee yang asli tanpa sengaja melihatnya dari atas balkon lantai dua yang mengarah ke kolam renang. Ia menyadari wooyoung menggenggam kaleng bir dan ada beberapa kaleng lagi di tempat duduknya. Jihee menyusul Wooyoung ke kolam sementara Minjun dan Hyeosoo menangkap sikapnya. Nichkhun dan Eunah yang sudah mulai bergabung dengan tamu undangan melihat Minjun dan Hyeosoo yang keluar menuju balkon sementara Jihee sepertinya menuju pintu keluar.
“Sepertinya Wooyoung sudah di sini.” Bisik Eunah pada Nichkhun sambil berjalan dan menyapa para tamu undangan.
“Sepertinya benar. Tolong ingatkan aku untuk memukul wajahnnya karena sudah membuat Jihee mengerjarnya.” Balas Nichkhun yang berbisik pada Eunah.
“Hee!? Kau mau membuatku malu?” Eunah bergumam dan menatapnya kaget.
“Aku tidak akan melakukannya jika kau malu.” Nichkhun kembali menatap Eunah dan menjawabnya pelan.
“Akan kupikirkan lagi, nanti.” Eunah kemudian kembali menyapa tamu undangan bersama Nichkhun.
Sementara Jihee akhirnya mencapai kolam renang dan melihat punggung Wooyoung yang turun. Lelaki yang masih memiliki tempat khusus di hatinya itu tertunduk lesu di pinggiran kolam renang. Hatinya sakit dan ia tidak mau melihat Wooyoung lebih menyedihkan daripada ini lagi. Jihee mendekati Wooyoung saat Wooyoung juga berdiri dan melepaskan jasnya. Saat Wooyoung menoleh, kedua mata mereka bertemu.
“Yah! Sung Jihee, aku baru akan menyelam- Uh,” Wooyoung mendekati Jihee, berharap Jihee bukan ilusi.
Jihee tetap berdiri di tempatnya dan menatap Wooyoung tanpa bergeming. Ia menyadari Wooyoung sudah cukup berilusi di bawah pengaruh alkohol. Wooyoung tidak pernah suka minuman beralkohol. Ia hanya sesekali meminumnya pada acara penting tertentu. Setidaknya itu yang dikatakan Minjun saat mereka mengobrol tanpa ada Wooyoung, Nichkhun ataupun Eunah. Wooyoung hanya berjarak lima belas centimeter dari wajahnya dan Jihee bisa mencium aroma keras dari nafasnya.
“Kau minum?” Jihee akhirnya membuka mulutnya dan Wooyoung menutupnya sedetik kemudian.
Bibir keduanya bertemu. Wooyoung mencium Jihee yang asli dan bukan ilusi. Wooyoung menarik wajahnya dari Jihee dan tampak merasa aneh.
“Sung, Jihee?” Wooyoung menanyai Jihee yang keningnya berkerut di hadapan Wooyoung.
“Ya, ini aku. Jang Wooyoung.” Jihee menjawab Wooyoung. Wooyoung sempat kaget, namun kali ini ia tidak menyia- nyaikan kesempatannya.
Tubuh Jihee dipeluknya dalam dekapannya. Minjun dan Hyeosoo bersorak dari atas balkon. Beberapa tamu yang mengenal keduanya juga ikut bersorak. Eunah dan Nichkhun yang bergabung belakangan ikut menyoraki mereka berdua. Wooyoung memberikan jarak antara dirinya dan Jihee untuk mentap Jihee sekali lagi.
“Maafkan aku, Jihee. Kau satu- satunya wanita dalam hidupku.” Jihee hampir memeluk Wooyoung karena malu sekaligus senang. Tapi Wooyoung menahan bahunya.
“Tidak bisakah kau-“ Wooyoung memandang ke arah balkon karena melihat senyum Jihee yang setengah tertawa, setengah kesal.
“Nichkhun tidak menikah denganmu?” Wooyoung menatap polos ke arah Jihee.
“Sepupuku, Nichkhun, menikahi Eunah, teman kuliahku di Italy.” Jawab Jihee sambil menahan kesal.
“Sung Jihee, syukurlah! Aku mencintaimu!” Wooyoung kembali memeluk Jihee dan tersenyum malu pada mereka yang melihat ke arahnya.
“Aku juga mencintaimu, Jang Wooyoung. Hanya saja, tolong jangan biarkan aku pergi lagi.” Gumam Jihee dan Wooyoung mengangguk padanya.
“Aku akan berusaha sebaik mungkin, jadi tolong jangan menyerah menghadapiku.” Wooyoung memandang Jihee, memegang kedua pipinya dengan kedua telapak tangannya yang lebar, Wooyoung mincium kening Jihee, matanya, hidungnya dan bibirnya.
Wooyoung dan Jihee mungkin tidak sempurna bagi satu sama lain. Tapi keduanya menyempurnakan bagi satu dan yang lainnya. Jika saja mereka berhenti untuk berharap dan menyerah sebelum mencapai akhir, Mereka tidak akan menemukan akhir bahagia seperti ini. Jadi, tolong bantu Jihee dan Wooyoung yang kalian temui di dunia kalian agar setiap Jihee dan Wooyoung dapat memiliki akhir yang bahagia, Karena setaip orang pasti ingin bahagia.