Hii semua
seen from China
seen from Estonia
seen from United States
seen from China
seen from Réunion
seen from China

seen from United States
seen from Bangladesh
seen from China
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States
seen from China
seen from United States
seen from China

seen from United States
seen from China
seen from Germany
Hii semua

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
[ Jakarta, 5 Januari 2018 ]
Jangan diam! Jawab aku!
Kenapa harus kamu?
Semuamua hal yang kamu punya buat aku tak mampu melirik mana lagi. Kamu penjarakan aku dari batin! Bukan dari lahir! Sadar? Jahat, lho. Banget.
Tapi emang nggak ada, sih, yang suruh untuk kenal kamu. Walau aku tau kamu lebih dulu. Sejak kapan itu? Sejak aku buka mata? Hah, apa iya? Kalau aku bisa milih, aku nggak ingin sebenarnya kenal kamu. Buat apa? Bikin susah!
Makin kemari, makin sadar aku. Waktuku untuk apa? Gerilyaku untuk siapa? Kamu lagi, kamu lagi! Semuamua hal pasti sama kamu dan untuk kamu. Kamu terus, terus kamu.
Siapa to, kamu?
Maksudmu apa sampai beraninya kamu terus ada bermalam-malam?
Maksudmu apa sampai teganya kamu terus bikin sesenggukan?
Maksudmu apa sampai lihainya kamu main bolak-balik rasa dalam kedipan?
Siapa to, kamu?
Nggak lihat, apa, usaha kerasku?
Nggak lihat, apa, aku dan segelintir jejak percobaanku?
Nggak lihat, apa, aku terus cari yang bukan kamu?
Tapi kenapa kamu harus beda selalu!
Siapa to, kamu?
Kamu tahu, mengenalku adalah sebuah kesalahan. Tentu tiada yang mampu tak bersepakat.
Membandingkanku adalah sebuah penyesalan. Kamu akan semakin temukan betapa lebihnya aku dibanding yang lain. Betapa aku menerimamu sesederhana mungkin. Mengajakmu menemukan dan menjelajahi fase-fase yang tak kau kira mampu untuk pahami dan ilhami. Seolah aku akan menjadi penjaramu dalam ragam pilihan kehangatan.
Sebaliknya, mengenalmu adalah suatu hal yang tidak mungkin. Aku tak akan sanggup memahamimu. Kamu si puan. Bagian dari mereka yang selalu ingin berkelana dalam pikiran, raga, dan karya. Kelak kalau ku kenal kau mendalam, tak ragu akan aku penjarakan bersama tumpukan kenyamanan. Maka, menyesalah! Karena itu yang banyak orang rasakan. Setelah mereka saling mengenal, denganku yang buat susah untuk melupa.
Satu, dua, tiga, ah, jelas lebih. Mungkin terhitung quadriliun sudah langkahmu bersamaku. Sejak tapakan pertamamu. Aku berikan ruangmu yang lalu kau telaah berbagai sisi dariku. Lihat? Apa pernah aku menekanmu? Menikammu? Memaksamu? Ramaiku berulah justru semakin membuatmu terpaku. Hingar bingarku justru semakin membuatmu kencang mendekapku. Tak bisa kabur. Kamu pasti kembali memilihku. Selalu.
Aku siapamu?
Sampai beraninya kamu selalu mengingatku tanpa tahu waktu.
Sampai teganya kamu membuatku terlihat seolah menjauhimu, bahkan mengusirmu.
Sampai lihainya kamu menyebarluaskan inginmu untuk pergi jauh dan meninggalkan kebersamaanmu denganku.
Ku bebaskanmu, tapi masih saja kau gerutu soalku.
Aku siapamu?
Apa kurang jelas, wujud kebahagiaan yang kusuguhkan?
Apa kurang jelas, jejak-jejak rahasia yang kusisihkan untukmu temukan?
Apa kurang jelas, aku yang tak bisa menolak ini, selalu siap menyambut siapapun untuk kembali padaku?
Cari lagi! Cari lagi! Cari lagi! Apa masih ada pembanding yang sebanding denganku?
Namun, aku dan keangkuhanku tak akan mau meminta maaf atas kehangatanku yang menyusahkanmu.
Ah, sial. Lagi lagi, yang ada hanya kamu dan kebenaranmu.
Benar-benar! Aku benci kamu, Jogja!
Tulisan ini ditulis saat gladi pengembaraan ke arah barat di hari ke-17, terhitung semenjak 18 Desember 2017. Dua rumah, dua keluarga, tiga puluh lima harapan, dan doa serta usaha yang tak terhingga.
22:46 Bila nak balik ni? Hahaha muka dah penat ni #menstagram #lelakiini #jejaka (at Taman Pulai Indah, Johor Bahru, Johor.)
@amirulhakim164 Casual outfit™ MUA by @khaiazwan Shoot for private lessons and profile #blackandwhite #monochrome #bnw #outfitoftheday #ootd #makeover #mensfashion #menwithstreetstyle #men #menstyle #guy #jejaka #jejakamalaya #style #intrend #hipster #grunge
Jejaka Produktif #1
[ Senin, 2 Januari 2017 ]
Selingan liburan peralihan tahun ini adalah suatu penjelajahan ala kadarnya yang dikemas dalam wujud analisis minimalis. Berbekal handphone pintar, bensin, motor dan nawaitu, maka terealisasikanlah niatan Jejalan Kampung (red: Jejaka) perdana ini (formalitas, nying, padahal biasanya juga buang-buang bensin). Latar belakangnya hanya karena kelemahan diri akan rendahnya memori untuk merekam estetika dan konektivitas jalanan Jogja, modal waktu berlebih, dan kehadiran satu sahabat yang selalu memotivasi dan menemani (let’s say hi to Boty). Sebenarnya seolah tidak begitu ingin tahu tentang cerita setiap kampungnya, tapi ketersesatan memaksa untuk mencari tahu. Dan saya sedikit suka cara itu, paksaan.
Syukur kiranya karena dianugerahi takdir oleh Yang Maha Kuasa untuk bermukim selama 20 tahun di salah satu bagian negeri dengan penuh sejarah dan heterogenitas demografi. Berjuta kampung pun menanti untuk disambangi. Sudah pastilah seluruh umat di Indonesia mengetahui kota mana maksudnya. Kota pelajar dan kota budaya sebagai julukan lawasnya, mungkin dewasa kini perlu ditambahkan titelnya sebagai kota atraktif nan kreatif. Jejaka kali ini mengunggah tema ‘produktif‘ karena memang hasrat yang sedang ingin mencari pasokan inspirasi berlebih. Bukan kali pertama memang bagi saya untuk menyusuri kampung ini. Namun baru kali ini saya mencoba untuk meniliknya lebih dalam dari sebelumnya.
Perjalanan berawal dari arah utara Yogyakarta yakni jalan taman siswa lalu menyusuri perempatan tungkak ke arah barat merambah ke Jalan Kolonel Sugiono, Kecamatan Mergangsan, Kota Yogyakarta, yang kurang lebih berjarak 3 km dari pusat kota Jogjakarta. Hingga di seberang pom bensin (sisi utara jalan) terdapat gapura yang menunjukkan jalan masuk berukuran 5 meter dan bertuliskan Keparakan Kidul. Gapuranya sangat polos biasa saja tanpa goresan yang menunjukkan kemauan untuk menjadi pionir kreatifitas atau produktivitas. Suasana begitu aduhai di bawah pantauan megamendung dan sepoi angin yang acapkali menyapa di lenggangnya jalanan kampung. Satu-dua kali nampak coretan-coretan nakal bergaya remaja di tembok-tembok pinggir jalan. Jalanan itu sungguh .... biasa saja sebenarnya. Setidaknya sampai empat mata ini tertuju pada suatu spanduk baru yang masih jelas terbaca dan terawat, bertuliskan, “Selamat Datang di Kampung Kerajinan Keparakan Kidul”.
Hasil melansir dari website swadaya milik kampung Keparakan Kidul sendiri, konon memang kampung ini telah berdiri sejak 1985, setelah 5 tahun masa pembangunan ekonomi dan sosial yang dilakukan oleh salah satu penggerak di kampung tersebut. Namun sayangnya, belum berkesempatan untuk bisa bertemu dengan Beliau. Uniknya kampung ini, di awal jalan (hanya lurus dari jalan gang masuk utama) telah terpampang suatu petunjuk jalan yang dapat membuat pengguna jalan menentukan pilihannya, yakni sebuah peta yang memvisualisasikan jenis-jenis rumah dengan produksi yang merupakan gubahan penduduknya. Beragam sekali pastinya. Mulai dari rumah produksi tas, sandal, topi, hingga aksesoris kecil seperti dompet dan sabuk pun tersedia. Tak terelakkan bahwa memang pada awal abad 20 kampung ini didedikasikan untuk menjadi kampung produksi segala aksesoris berabahan dasar kulit. Namun seiring dengan berkembangnya modal ekonomi, sosial, dan pasar, maka kini kampung Keparakan Kidul dapat memproduksi berbagai kebutuhan dalam aspek konveksi dengan bahan dasar yang lebih variatif.
[...]

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Jejaka Produktif #3
[...]
Setelah beberapa kali melalui penggal jalan berbeda namun masih dalam satu kampung, maka terkemukakanlah bahwa ciri jalannya memang kecil namun bersifat rindang dikarenakan tanaman di sekitar. Lokasinya yang dekat sungai membuat masyarakat sadar akan pentingnya ruang terbuka dan juga drainase sehingga terlihat banyak green space (bukan green open space) di kawasan kampung dan di setiap jalan juga terdapat drainase. Bahkan di salah satu jalan utama kampung pun terdapat saluran selokan kecil (got – red) yang digunakan sebagai jalur lintasan limbah pengolahan kulit. Namun sayangnya ujung dari saluran sanitasi itu masih menuju sungai yang akhirnya menjadikan daerah trsebut masih tergolong tercemar. Selain itu, dari segi bangunan pun sudah menggambarkan kelas ekonomi penduduk yang cukup berlainan dengan penduduk sekitar sungai pada umumnya di Jogjakarta.
Salah satu aturan jejaka adalah tidak melalui jalan yang sama sebanyak dua kali. Maka dari itu, jalan masuk yang telah disusuri tidak menjadi jalan keluar untuk pulang. Maka kami memutuskan untuk lanjut mengegas memasuki wilayah kampung yang semakin padat dan sarat akan gang-gang berukuran minim. Bukan masalah tentunya, sebelum kami menghadapi kenyataan bahwa takdir memaksa kami bertemu dengan para sahabat manusia yang pastinya akan ditemui di kawasan permukiman pinggir sungai: A n j i n g !!
Banyaknya anjing di kawasan bantaran kali memang sepatutnya mengindikasikan kawasan yang sarat akan kriminalitas dan memang banyak hewan cenderung lebih nyaman tinggal di habitat yang dekat dengan sumber kehidupan, yaitu air. Namun, ada yang berbeda. Mereka tidak menggonggong jika ada orang asing yang melewatinya, bahkan walau hanya berjarak 10 cm sekalipun anjing-anjing tersebut tetap terdiam. Artinya, kampung ini sepertinya memang aman. Seolah minim sekali jumlah anjing yang memiliki tuannya. Mayoritas bertuan secara kolektif, ya kampungnya sendiri secara gantian memberi makan mereka. Keberadaan anjing bukan karena alasan keamanan. Hingga kami dipertemukan pada suatu jalan yang memang cukup sempit, banyak motor dan sepeda yang melakukan park on street, dan tingkat aksesibilitas jalan cukup tinggi melihat dari warga yang kerap kali berlalu-lalang membuat kegelisahan semakin memuncak. Hanya satu motor yang dapat mengakses jalan ini. Maka jika berpapasan, tentunya akan mengharuskan salah satu untuk mengalah.
Tak disangka memang pada akhirnya kami memilih untuk tetap melalui jalan penuh halilintar tersebut. Warga pun semakin mencoba meyakinkan dengan berkata bahwa tidak ada jalan lain sembari membantu menenangkan dengan mengatakan bahwa anjingnya tidak mengapa. Seakan tahu bahwa itulah ketakutan yang lumrah dinyatakan para pengguna jalan tersebut. Jadi bismillahirrohmannirrohim, saya dan Boty pun melalui jalan horror tersebut meski sembari mengekspresikan rasa ketakutan bercampur dengan keharusan untuk tidak menghilangkan sopan santun dihadapan para petua, “Bu.., niki jan boten napa-napa to bu?”, “Duh.., Pak niki kok nyeraki kula nggih segawon e”, “Wah.., Pak, nuwun sewu, niki boten saged dipindah kemawon po segawon e?”. Alhasil, syukuron wa alhamdulillah, kami berhasil keluar dari gang horor sempit tadi dengan tidak kurang suatu apapun. Setelah keluar ternyata kami masih disambut dengan saudara seperkampungan milik Keluarga Keparakan, yakni Kampung Keparakan Lor. Suasana di sini masih tetap produktif dengan berbagai varietas usaha yang lebih beragam dari pada di Keparakan Kidul. Jika di Keparakan Lor ini, lebih terkenal dengan bakpia kumbu putih identitasnya yang tidak banyak ditemui di pusat oleh-oleh di Jogja. Sayangnya, waktu telah menunjukkan batas kami untuk harus segera kembali melaksanakan lanjutan aktivitas lain. Oleh karenanya, pada kesempatan berjejaka ini memang belum banyak dapat mengkaji mendalam mengenai kampung saudara dari Keparakan Kidul ini.
Sedari awal memasuki kampung memang productive vibes nya sudah nampak jelas. Namun karena yang diusung adalah asas profesionalitas, jadi interaksi sosialnya memang terlihat lebih minim daripada kampung-kampung dengan heterogenitas akitivitas pada umumnya. Berbekal dari list nama warga yang saya peroleh dari kenalan di kampung lain, memang saya sengaja mencoba menanyakan rumah warga satu dengan yang lain dan nyatanya beberapa masih belum begitu mengenal dan tidak mengetahui rumahnya. Atau bisa jadi juga karena mungkin yang saya temui adalah pekerja di rumah produksinya, bukan warga tulennya. Namun jejaka kali ini memang menggugah bagi saya karena melihat orang-orang yang mampu bertahan melawan krisis ekonomi dan rukun bersatupadu dalam memerangi kematian kreatifitas warga kota yang biasanya cenderung berpasrah pada dunia jasa, komersil, dan perkantoran. Warga kampung lain pun turut mengakui kehebatan kampung Keparakan Kidul dalam daya tahannya menguatkan bisnis UMKM yang diborong seluruh penduduknya ini. Unik memang. Salut memang. Sayangnya, minim dokumentasi memang. Nah, jadi demikian sekiranya, gambaran Jejaka Produktif kali ini. Semoga dapat membantu membuka pintu produktivitas bagi individu ataupun kampung-kampung lain di nusantara.
Engkaukah Jejaka itu ????