Perjalanan panjang itu mengasyikkan
Tujuan sudah jelas, peta dalam genggaman, aktivitas setelahnya sudah terbayang.
Setelah melewati hamparan sawah dengan latar belakang pegunungan megah, hutan nan rindang, juga jembatan dengan sungai berkelok di bawahnya
Kini engkau mendapatkan sambutan berbeda.
Sudah di depan mata.
Turunan curam, panjang, berbatu, lagi dihiasi dengan kelokan tajam meminta keputusan
Kendaraanmu sudah terhenti
Jalanmu sebelumnya juga tikungan
Yang mengantarkanmu pada puncak seluncuran ini
Kau buka lagi petamu
Benarkah yang ini?
Adakah alternatif lainnya?
Benarkah orang lain juga melewati jalanan yang sama?
Sunyi sekali di sini..
Ragam pertanyaan berkelebat meramaikan
Jika memang putar balik, bagaimana cara berputar di puncak turunan demikian?
Jika memang memutar arah, tidakkah sumber daya waktu dan tenagamu kali ini begitu terbatas?
Susah payah berputar, bisakah engkau pastikan di jalan lainnya tidak ada tantangan tajam sebagaimana yang di hadapan?
Bagaimana jika jalan terjal sekarang adalah rute percepatan yang disiapkan sang sutradara kehidupan?
Turun perlahan punya konsekuensi. Setidaknya rem, raga yang menahan, dan guncangan yang lebih panjang.
Turun dengan keyakinan juga. Kecermatan dan kesigapan memilih batuan mana yang akan jadi lajur kendaraan menjadi faktor penting penentu keselamatan
Sedangkan, di sini sepi dan rimbun sekali
Benar benar tidak ada orang di depan ataupun belakang
Engkau memutuskan turun
Menyusurinya dengan sangat pelan
Berharap di belakang tak ada orang
Sembari bersiap jika ada yang muncul mengagetkan di tikungan
Turunan masih setengah lagi, tapi tikungan sudah engkau lewati
Tersisa setengah jalan.
Di belakang warga lokal menyusul
Meluncur cepat
Beriring dengan kalimat awass pakk!
Agar ia tau, ada aku setelah tikungan itu
Seluncuran berhasil dilewati
Ketakutan berhasil ditaklukkan
Masih di jalan perkampungan suatu pegunungan
Semoga jalan selanjurnya lebih menyenangkan
Kurang lebih 5 menit berselang
Kenyataan ternyata berbeda dari harapan.
Di depan jalan benar benar berupa tanah bebatuan
Ingatan melayang
Ohh ini yang temanku sampaikan saat menjadikan tempat berangkatku sebagai tujuan.
Kini tempat berangkatnya adalah tujuanku
Bagaimana aku tau?
Foto pemandangannya persis sebagaimana yang
ia kirimkan.
Baik.
Sebagaimana ia berhasil sampai
Sebagaimana seluncuran tadi berhasil ditaklukkan
Sebagaimana kekuatan telah sang sutradara titipkan
Berteman untaian doa yang masih terngiang kala melepas keberangkatan
Meski berputar lebih mungkin dilakukan di sini dibandinkan puncak seluncuran
Kali ini engkau tak lagi mempertanyakan
Rintangan di depan harus dihadapi
Meski temanmu dengan motor offroadnya dan kau dengan matic apa adanya.
Di tengah getar oleh batuan jalanan, dari arah yang lain bapak, ibu, hingga adik adik melintas ke arahmu
Meningkatkan keyakinan, ada jalan yang lebih nyaman menanti di depan
1 kilometer jalanan pasir berbatu berhasil dilalui
Kini, jalanan pada potret pertama yang menyambut langkahmu selanjutnya
Dengan banyaknya masyarakat yang lewat
Dengan banyaknya papan objek wisata mengarahkan ke jalur yang sama
Terbayang bagaimana jika kebijaksanaan hadir pada sang pemegang kekuasaan
Tanpa permisi, lintasan kondisi saudara di Aceh dengan jalanan penuh lumpurnya hadir menemani
Terngiang keseharian warga pedalaman Kalimantan yang sering menggumpalkan roda kendaraan roda 2 biasa
Ditambah kenyataan pahit yang tidak membuka pilihan selain melewatinya setiap hari
Alhamdulillah kali ini engkau selamat. Dari perjalanan menantang imbas rute normal yang sudah dua pekanan dalam perbaikan..
Doa terlantunkan.
Ke depan, lebih banyak pemimpin yang hadir dengan kebijaksanaan pada setiap proses alokasi anggaran.
Kebijaksanaan yang mengutamakan keselamatan. Memprioritaskan kesejahteraan, Membawa kemaslahatan untuk mereka yang tak punya kuasa, mempercayakan, dan kelak meminta tanggung jawab kepadanya..











