*MENGUBAH SOSOK JIWA*
Suatu ketika mereka berdua, tokoh sufi Rabiah dan Hasan al-Bashri, berdiskusi di bawah pohon membahas hal-hal spiritual di tepi danau tak jauh dari sebuah pasar yang ramai. Hasan al-Bashri terpikat dengan kecantikan Rabiah, sehingga tiba waktunya untuk shalat, Hasan al-Bashri membentangkan sajadah dan meletakkannya di atas air. Sambil berdiri di atas sajadah yang ajaibnya mampu mengambang. Hasan al-Bashri dengan santai mengundang Rabiah untuk bergabung dengannya, berharap membuatnya terkesan. Namun, Rabiah menggelar sajadahnya, bertengger di atasnya, melayang di atas Hasan al-Bashri, dan mengundangnya untuk bergabung dengannya.
Dia menggoda Hasan al-Bashri, âBukankah ini yang kau inginkan, agar orang-orang di pasar melihat kita dan terpana dengan kemampuan kita?â Rabiah pun melanjutkan, âHasan al-Bashri, apa yang kau lakukan itu bisa dilakukan seekor ikan. Apa yang kulakukan, bisa dilakukan ngengat. Kau lupa bahwa panggilan hidup kita lebih sulit dan lebih penting: berusaha untuk mengubah sosok kita.â
Pada diri manusia terdapat proses berpikir atau menalar. Al-idrak dalam bahasa Arab. Kata al-idrak berarti naik tangga atau sampai. Berbeda dengan hewan, menalar ini hanya ada pada manusia. Dalam terminologi modern menalar ini adalah suatu kesadaran. Manusia dengan berbagai potensinya bisa bergerak menaiki anak tangga dan sampai pada suatu tujuan. Ada proses sadar yang bergerak terus-menerus menuju kesempurnaan yang hakiki dan menempatkan manusia pada tempat yang mulia. Tetapi, hal ini tidak akan terjadi jika manusia hanya fokus pada motif-motif egois, atau berupaya menutup diri dari fitrah sucinya sebagai manusia.
Pada diri manusia ada kecenderungan-kecenderungan yang bersifat suci dan altruis. Kecenderungan-kecenderungan rohani inilah yang sesungguhnya merupakan fitrah pada manusia sehingga menempatkan manusia pada kemuliaan yang lebih tinggi di hadapan makhluk yang lain. Ada kesadaran kita untuk senantiasa bergerak terus-menerus dari satu anak tangga menuju satu anak tangga kesadaran berikutnya, sehingga hal ini membuat kita berubah menjadi sosok yang lebih mulia. Inilah fitrah kita sebagai manusia. Senantiasa ada dorongan untuk menemukan kesempurnaan yang hakiki. Kecenderungan inilah yang membuat kesadaran manusia terus mengalami metamorphosis dan transformasi pertumbuhan kesadaran diri dengan âMenjadikan manusia sebagai makhluk yang mengetahui, rasional, dan memahami alam indrawiâ, kata Ibn Sina. Artinya, mengetahui alam indrawi sebagaimana yang sebenarnya, agar kita menjadi tahu tentang diri kita sendiri, dan tahu tentang alam rasional yang tersembunyi di alam indrawi yang berada di luar dirinyaâ. Dengan kata lain, saat kesadaran diri kita terus bergerak naik menyempurna, maka akhirnya kita akan bisa mengetahui rahasia alam-alam lain dibalik alam duniawi. Sosok jiwa pun ikut berubah menjadi lebih mulia dan suci.










