
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Germany

seen from Hong Kong SAR China
seen from Singapore
seen from Japan
seen from United States
seen from Brazil
seen from China

seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Japan
seen from Japan

seen from Sweden
seen from Türkiye

seen from United Kingdom
seen from Italy

seen from Saudi Arabia
seen from Russia

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Hei, Tuan Pendekar Pemetik Bunga!
Aku membuka jendela, bau tanah basah menguar seketika terbawa angin yang berebut masuk ke kamar. Tadi malam hujan lebat, membuat tidurku jadi sangat nyenyak. Sambil memperhatikan langit dari balik jendela, perut kuberbunyi, lapar. Dengan lekas aku membuka kulkas mini yang berada di samping tempat tidur, kosong. Hanya ada sisa sarden yang belum diolah serta sekaleng jus kemasan yang sudah tiga hari di dalam kulkas.
Mari keluar membeli makanan, cetusku dalam hati. Lalu segera kuambil jaket dan mengenakan jilbab sorong, mengambil dompet dan turun ke bawah menuju mini market di ujung gang dekat rumah kosku. Setiba di mini market itu, aku langsung memilih beberapa makanan untuk dibeli dan dibawa pulang. Ada sekitar sepuluh menit kuhabiskan waktu hanya untuk menimang-nimang makanan mana yang enak dimakan sewaktu duduk santai sambil menonton film dari laptop dan makanan mana yang lebih padat untuk mengganjal perut di tengah malam.
Di meja kasir seorang pemuda yang umurnya mungkin dua tahun atasku diam-diam memperhatikan gerak-gerikku. Agak risih, tapi aku mencoba untuk tidak terlalu peduli. Sudah menjadi kewajibabnya untuk menjaga barang-barang di mini marketnya agar tidak diambil dan diselundupkan ke dalam jaket atau dibawa lari begitu saja.
Setelah aku berhasil mengumpulkan beberapa makanan dan minuman, aku membawanya ke atas meja kasir.
“Sudah ini semuanya, Nona?” tanya laki-laki itu.
“Sudah,” jawabku sambil memperhatikan nama yang tersemat di baju seragamnya.
“Pendekar Pemetik Bunga?”
“Iya?”
“Itu nama?”
“Anggap saja begitu,” jawab laki-laki itu sambil mengambil biskuit yang ada dalam belanjaanku.
“Rasanya pernah baca nama kamu,” aku mencoba mengingat-ingat.
“Dalam satu cerita pendek?” ia mengambil sekaleng softdrink dan menghitung harganya.
“Mungkin. Ah, iya! Mengapa kamu tidak pernah datang lagi ke kafe itu. Menemui Puisi?” tanyaku seraya memperhatikan wajahnya. Memang persis seperti yang diceritakan Puisi dalam sebuah cerita pendek. Si Pendekar Pemetik Bunga yang bermata sayu, hitam legam.
“Jangan terlalu percaya cerita pendek. Namanya juga karangan,” ia sudah memasukkan semua belanjaan ke dalam kantong, mengambil struk pembelian yang keluar dari mesin kasir dan memberikan struk serta kantong berisi belanjaan kepadaku.
“Tidak kasihan dengan Puisi yang masih menunggumu di kafe itu sampai sekarang?” aku mengambil kantong dan struk belanjaan tersebut.
“Tidak, karena dia hanya sekedar puisi.” Laki-laki itu tersenyum dan mengucapkan terima kasih seolah ingin menutup percakapan dengan segera dan mengusirku pergi. Aku pun segera pergi dari mini market itu dan berjalan menuju kosan yang baru lima hari aku huni.
Setelah hari itu, hampir tiap hari aku datang ke mini market itu untuk membeli segala macam keperluan. Selain makanan dan minuman, aku juga membeli peralatan mandi, perlengkapan kuliah dan beberapa perkakas rumahan. Mini market itu hampir menjual semua benda yang aku butuhkan. Aku tidak perlu kemana-mana untuk mencari benda-benda itu.
Setelah hampir dua bulan lamanya aku tinggal daerah itu, hari itu ketika aku baru saja pulang membawa barang belanjaan dari mini market itu aku terkejut dan menemukan sesuatu yang aneh. Saat memeriksa uang di dompet, aku menerima uang pecahan lima ribu yang bertulisankan “Boleh kenalan? Ini no. hp saya,” aku menyergit melihat uang itu. Apa ini kerjaan si kasir bermata sayu? Si Pendekar Pemetik Bunga? Lalu aku putuskan untuk menyimpan uang itu ke dalam laci.
Setelah selang waktu lima hari aku mondar-mandir membeli beberapa barang di mini market itu, aku merasa ada yang aneh pada si kasir. Pada si Pendekar Pemetik Bunga. Ia terlihat gelisah setiap kali aku datang dan bertransaksi dengannya. Kadang ia mencuri-curi pandang ke arahku. Kadang ia jadi sering salah hitung uang belanjaan. Kadang ia salah memasukkan barang. Kadang ada barang belanjaanku yang lupa ia hitung.
Tiba-tiba aku ingat tentang uang lima ribu yang ada tulisannya itu. Jangan-jangan memang dia sengaja menulis pesan itu untukku. Aku segera pulang ke kos, membuka laci meja belajar dan kembali membaca tulisan di atas uang kertas tersebut.
“Hei, boleh kenalan? Ini no. hp saya.”
Setelah selang waktu satu jam lamanya akhirnya aku tahu harus menulis apa. Lalu aku putuskan untuk membeli makanan ringan dengan memakai uang ini, esok hari.
*
Aku menghampiri mini market itu pagi ini, dengan uang lima ribu yang berisi pesan aku menebus dua buah makanan ringan. Dengan tenang aku pergi ke meja kasir. Laki-laki itu tengah berdiri sambil memperhatikan lacinya yang berisi uang. Mengetahui aku akan membawa barang belanjaan ke mejanya, ia langsung menutup laci itu dan bersiap-siap meladeniku. Si Pendekar Pemetik Bunga itu tampak lebih grogi dari hari sebelumnya. Ia terlihat tidak ahli menyembunyikan kecemasannya di depanku. Aku tersenyum masih dengan keadaan yang tenang.
“Berapa semuanya?” tanyaku.
“Lima ribu rupiah.”
Lalu dengan lekas aku memberikan uang lima ribu yang berisikan pesan itu, segera kuraih kantong belanjaan yang sudah berisi makanan ringan pilihanku. Dengan langkah cepat, aku langsung beranjak dari mini market tanpa mempedulikan dia.
Setibanya di kamar kos, aku tak bisa berhenti tersenyum. Ada kepuasan yang menyeruak dalam hati. Aku ingin membalaskan dendam Puisi yang sampai sekarang masih menunggunya di kafe. Seandainya Puisi tahu bahwa laki-laki yang ia tunggu itu tidak peduli sama sekali dengan dia, pasti Puisi berhenti menunggunya dan mencari si Pendekar Pemetik Bunga yang telah berani-beraninya menamainya Puisi sehingga hal itu membuat hatinya luluh.
Setelah hari itu aku tidak berani belanja di mini market itu dan lebih memilih belanja di supermarket besar dekat pasar, tapi ini sudah lewat tiga bulan mungkin saja si Pendekar Pemetik Bunga sudah patah hati dan tidak peduli lagi denganku. Aku pun memberanikan diri untuk belanja di mini market itu karena hanya mini market itu tempat belanja paling dekat dengan kos.
Ternyata kasirnya masih si Pendekar Pemetik Bunga. Sekarang giliranku yang grogi dan merasa bersalah. Tapi aku tetap mencoba untuk tidak peduli. Setelah memilih barang-barang yang akan aku beli, aku membawanya ke meja kasir. Si Pendekar Pemetik Bunga itu tersenyum padaku. Aku hampir saja salah tingkah.
“Ini, kembaliannya lima ribu rupiah,” cetusnya sambil mengulurkan uang lima ribu berserta struk belanjaan dari tangannya.
“Terima kasih,” jawabku.
Aku langsung bergegas pergi dari mini market itu dan berjalan menuju kos. Setiba di kamar kos, kuambil uang kembalian itu dari dalam dompet dan melihat bahwa itu masih uang yang sama dengan uang yang berisi pesan tersebut.
“Saya tunggu sampai kamu jadi punya saya,” ujarku sambil mengeja pesan baru dari si kasir itu. Dari si Pendekar Pemetik Bunga.
Lalu kembali kubaca pesanku yang sebelumnya, “Maaf, aku sudah ada yang punya.”
Aku tersenyum membaca pesan-pesan di atas uang kertas lima ribu tersebut. Sekarang dialah yang berada dalam posisi Puisi. Selamat menikmati penantian, Tuan Pendekar Pemetik Bunga!***
Aku SECRET ADMIRER-nya gowithepict
Padang, 23 Mei 2015 15.15 WIB
Sumber gambar: koleksi pribadi
Cerita sebelumnya tentang pendekar pemetik bunga dan puisi di sini
This is yours imajee
Dari sini nih ~
Pendekar Pemetik Bunga
Sebuah Cerpen,
:Pendekar Pemetik Bunga Tiba-tiba teringat ceritamu ketika malam itu, bertahun-tahun yang lalu.
Tentang sepasang semut hitam yang mengitari bibir cangkir tehmu yang telah dingin. Di malam hujan. Di kafe itu, kau duduk di hadapanku. Di atas meja ada setangkai bunga krisan dengan vas dari botol bening yang memberikan kita jarak. Kau tersenyum seraya bercerita tentang musik-musikmu, tentang idealismemu dan tentang sepasang semut hitam yang beberapa menit lalu, di waktu itu saling mendekap di atas bibir cangkir tehmu. Aku mendengarkanmu sambil menikmati secangkir kopi susu yang tinggal setengah dengan ampas yang tebal.
Mungkin orang lain akan melihat kita berdua sebagai sepasang kekasih yang baru saja jatuh cinta. Padahal kita berdua adalah orang asing. Aku bahkan tidak mengenal namamu, sampai saat ini. Yang aku tahu kau selalu menyebut dirimu dengan nama “Pendekar Pemetik Bunga.” Ketika pertama kali aku mendengar nama itu terucap dari mulutmu, aku tertawa. Cukup lama. Sampai akhirnya aku berhasil mengatur napas, dan lupa menanyakan namamu yang sebenarnya. Anehnya, kaupun tak pernah bertanya perihal namaku. Kau malah menciptakan nama baru untukku, Puisi. Kau bilang aku indah seperti sebaris puisi pendek yang romantis. Gombal!
Ia mencoba menyentuh seekor semut hitam yang masih bertengger di bibir cangkirnya dengan seekor semut hitam lainnya. Sambil tersenyum ia menatap sepasang semut hitam itu lalu berkata kepadaku; “Andai kita bertukar posisi dengan mereka di sana. Alangkah damai dan romantisnya hidup ini, ya?” lalu ia tiba-tiba meluruskan pandangannya dengan lekas ke dalam mataku.
Aku salah tingkah, badanku mendadak panas dingin dibuatnya. Matanya begitu indah. Seolah memancarkan cahaya yang aku sendiri tidak pernah melihatnya dari mata laki-laki selain dia.
“Apa ada yang ingin kamu tanyakan padaku? Puisi?” pertanyaannya seketika membuyarkan keterlenaanku.
“Aku? Hmm,… apa kamu hanya kebetulan saja mampir ke kafe ini? Karena hujan?” aku menyentuh cangkir kopi susuku. Hangatnya merembes ke telapak tangan. Membuatku selalu sadar untuk bersikap wajar pada laki-laki yang baru saja aku kenal.
Ia lagi-lagi tersenyum sambil memandangku. “Sebenarnya kamu pasti tahu, Puisi. Bahwa di dunia ini tidak ada yang katanya kebetulan. Tuhan tidak mungkin menciptakan wanita secantikmu, karena kebetulan.”
Aku tertawa saat ia mengatakan kalimatnya yang terakhir. Lagi-lagi ia melayangkan senyuman mautnya padaku. Lalu kembali ia melanjutkan kata-katanya; “Atau seseorang tidak mungkin membuat orang lain mati dengan pisaunya karena kebetulan. Kebetulan itu hanyalah semacam kata-kata untuk menghibur, aku rasa. Atau hanya kata yang akan selalu menjadi bagian dari alasan-alasan yang klise. Seperti seorang mantan kekasih yang tiba-tiba bertemu dengan mantannya lalu ia mengatakan kebetulan bertemu. Pasti Tuhan punya alasan dan rencana mengapa mereka dipertemukan. Jadi benar kebetulan itu tidak ada. Tuhan tidak bermain dadu untuk menciptakan ini semua, Puisi.”
“Jadi kau ingin mengatakan bahwa pertemuan kita ini bukanlah sebuah kebetulan?” aku memotong penjelasannya dengan lekas.
Sejenak ia berhenti lalu meneguk kembali larutan teh di cangkirnya. Sepasang semut hitam yang tadi saling mendekap di atas bibir cangkirnya kita sudah hilang entah kemana.
“Ya, kita memang telah ditakdirkan akan bertemu. Pada jam ini. Dan di luar, memang seharusnya hujan begitu. Dan tahukah kau, Puisi, kedua ekor semut itu pun bukan secara kebetulan tiba-tiba ada di tepi cangkirku. Mereka berjalan, bergandengan. Beriringan dan memiliki tujuan. Sama sepertiku yang mampir ke kafe ini, untuk menghangatkan diri dari cuaca yang buruk di luar. Dan kau, untuk…”
“Aku kemari, untuk menikmati secangkir kopi susunya. Kopi susu di kafe ini paling nikmat menurutku,” jawabku sambil memamerkan deretan gigi dan tersenyum.
“Ah, ya! Begitulah. Kita semua hidup untuk meraih berbagai macam tujuan.”
Malam itu aku ingat, hujan di luar cukup deras. Membuat kita berdua enggan saling meninggalkan kafe karena tidak mau basah. Padahal saat itu malam sudah pukul sembilan. Berarti sudah hampir empat jam kita duduk berdua. Jika tadi, bangku kafe sesepi pukul sembilan ini, tentu kau tak akan mau memaksakan diri duduk di bangkuku yang kosong. Mungkin itu semua memang harus terjadi. Sepertinya Tuhan telah merencanakan sesuatu pada kita, atau padaku saja. Sayangnya kau tidak pernah tahu rencana Tuhan itu. Karena itu aku ingin memberitahumu.
Tapi empat jam pertemuan itu sudah lama berlalu. Berbulan-bulan yang lalu. Dua tahun yang lalu. Dan sampai saat ini hampir setiap hari aku duduk dan memesan kopi susu di kafe itu, berharap bisa bertemu kembali dengan Pendekar pemetik bunga.
100713
ps: semoga si “pendekar” sudah lupa dengan cerita sepasang semut di bibir cangkirnya. semoga tidak ada yang tahu dengan namanya yang sebenarnya. jika dia membaca ini, semoga dia tidak ge-er!
Aku jatuh cinta pada gowithepict
Padang, 9 Mei 2015 10.01 WIB
Gambar diambil dari sini
This is yours imajee
Dari sini nih ~