Tak Perlu Bersandiwara
Kalem dan lembut.
Kedua kata ini mungkin tidak mendeskripsikan seorang An Yue yang dikenal orang-orang di pelatnas. Dari rambut pendeknya dan teriakannya di lapangan, semua orang memiliki kesan bahwa ia adalah seorang yang tegar, seseorang yang terus menegakkan kepala apapun situasinya.
Namun tidak begitu kesan yang dimiliki seorang lelaki bermata karamel pada wanita ini. Dari balik sorot mata An Yue, He Jin Ting dapat melihat semua kelemahan yang selama ini ditutupi.
"Memenangkan Piala Sudirman bukan apa-apa! Yang penting semuanya sehat dan melakukan yang terbaik, kan?" Kata An Yue tersenyum pada teman-teman seperjuangannya sambil membagikan tatapan paling hangatnya pada satu persatu anggota timnya, tak terkecuali Jinting.
Benak Jinting kalut. Tiongkok kehilangan poin terakhir di partai kelima pada posisi 2-2 melawan Indonesia malam itu karenanya. Kini mereka harus puas dengan medali perak di tangan mereka setelah dua edisi mencoba berulang kali. Mendengar perkataan An Yue yang begitu lepas dan ceria tanpa terasa membuat Jinting meremas ujung jersey merahnya dengan keras seraya keluar dari arena menahan cucuran air matanya.
Semua kerja kerasnya sejak lima tahun lalu bersama An Yue sia-sia dan degupnya makin kencang seakan ingin diterjemahkan menjadi sebuah teriakan di ujung nafas.
"Kamu di mana?" Sebuah notifikasi berbunyi menampilkan nama seseorang yang paling dikecewakan oleh Jinting. Ayah. Sosok yang paling tidak ingin dia hadapi sekarang malah menyelinap ke dalam pikirannya. Ia teringat pesan ayahnya sebelum berangkat ke pelatnas hari itu: anak ayah akan jadi pahlawan!
Ketika Jinting hanya bisa menangkupkan kedua tangannya pada wajahnya, sebuah kehadiran mengusiknya dari kepiluan. Ia adalah sosok jangkarnya, menariknya kembali ke tepian ketika pikirannya melayang dan tenggelam dalam samudra yang berbahaya.
"Jinting, aku sudah cari kamu dari tadi. Kamu di sini rupanya. Boleh aku duduk di sini?" Suara lembut itu dengan segera membuat hati Jinting kembali mencelos dengan kegetiran. Jinting serta merta membuang mukanya dan terus bergelut dengan narasi yang dibuat oleh otaknya sendiri. Sampai pada akhirnya keheningan itu dipecah oleh kalimat yang terucap dari An Yue sembari memegang pundaknya.
"Kamu tahu, Jinting? Memenangkan Piala Sudirman sudah menjadi impianku sejak kecil. Ketika aku berumur delapan tahun, orang tuaku mengajakku menonton Piala Sudirman secara langsung, dan ketika itu tim Tiongkok memenangkannya. Dari situ aku jatuh cinta pada bulu tangkis secara instan. Sekarang aku sedang berada di sini, di tengah-tengah negara yang asing untuk memperjuangkan martabat negara kita dalam elit bulu tangkis, lagi. Dulu aku sempat kecewa dengan hasil seperti ini. Juara dua sama saja dengan kegagalan, pikirku ketika itu. Namun setelah dua edisi mencoba, aku pikir fakta bahwa aku turut andil dalam tim hebat ini saja sudah cukup membuatku bangga. Anggap saja edisi ini pemantapan! Kita bisa rebut kembali Piala Sudirman dua tahun lagi!" kata An Yue sambil menunjukkan senyum meskipun maniknya nyaris mengkhianatinya secara gamblang.
Sial. An Yue seperti tidak mengenal Jinting saja, pikir lelaki itu. Sudah bertahun-tahun mereka mengenal satu sama lain dan sebenarnya An Yue tidak perlu menyembunyikan pil pahit yang ditelannya. Segala kemenangan mereka nikmati bersama, dan segala kekalahan mereka tanggung bersama. Tidak ada satupun luapan perasaan An Yue yang Jinting lewatkan selama ini. Segala tangisan dan tawa pada raut wajahnya tak pernah luput dari fokus Jinting. Tetapi terbesit dalam benak Jinting bahwa ini adalah kemenangan dan kekalahan terakhir yang dapat mereka bagi bersama. Ya, pelatih sudah memutuskan untuk memisahkan mereka dari formasi ganda campuran dan memindahkan fokus mereka pada ganda putra dan ganda putri.
"Buat apa kamu berpura-pura kuat? Ini aku, An Yue. Kamu tidak perlu memasang figur yang tegak dan tangguh di depanku. Aku tahu kamu kecewa. Ini semua salahku." Ujar Jinting cepat, menyambar ujung kalimat An Yue dan membalasnya dengan cadas. Sebelum Jinting menimpalinya lagi, kepala An Yue mendarat di pundak Jinting.
"Jinting, jangan salahkan dirimu sendiri. Kita berjuang bersama-sama sebagai tim di sini. Kita saling menopang dan menutupi kekurangan satu sama lain. Aku bukan tidak tahu segala kerja keras yang kamu curahkan untuk setiap pertandingan, khususnya pertandingan ini. Jadi kumohon jangan merasa bersalah." Ujar An Yue pelan dan melan.
Dengan begitu, tembok pertahanan mereka berdua runtuh. An Yue yang dikenal sebagai seseorang yang tegar tak perlu lagi berpura-pura di depan sosok Jinting. Pula Jinting tak perlu menutupi kekecewaanya yang dia peram selama ini.
Malam itu mereka habiskan dalam dekapan satu sama lain, tangkupan tangan Jinting pada tangan An Yue membagikan kehangatan, kepala yang bersandar di pundak sang lelaki akhirnya mendapatkan kenyamanan. Jinting mungkin tidak tahu, tetapi ia tak pernah gagal membongkar segala pikiran An Yue yang kusut. Kata-katanya membuat An Yue ingin kembali berjuang, kembali bangkit; jika bukan untuk Tiongkok, ya untuk mereka berdua, impian mereka berdua yang mungkin tidak akan lagi dapat diraih sebagai sepasang pasangan ganda campuran. Jinting adalah jangkarnya, tempatnya untuk pulang.
"Janji dua tahun lagi kita tetap berjuang mengangkat Piala Sudirman bersama?" Tanya An Yue mengafirmasi.
"Ya, janji." Jinting menjawab penuh keyakinan sambil membulatkan tekad dalam dirinya sendiri untuk membuat wanita ini tersenyum paling lebar dua tahun lagi.
Malam itu, sebuah balada menemani perasaan Jinting yang berkecamuk. Balada itu berbunyi:
Jadi, jika ini adalah perpisahan kita
Kebersamaan sedikit demi sedikit terkikir oleh waktu
Akan kutemukan sebuah pohon dan mengukirkan nama kita di sana
Sehingga jika salah satu dari kita tersesat
Sebuah tanda akan memandu kita kembali ke sini.
Karena tempat ini
Jarak berarti sejauh apa diriku dari tempat ini
Di tempat ini bersemayam pusat bumiku.
Kita, adalah satu-satunya rumah yang kukenal
Mungkin magnet hati ini akan lelah
Dan mereka akan kembali kepada cinta suatu saat nanti.
---
(Sudirman Cup 2021)
Catatan:
Terinspirasi dari pecahnya pasangan bulu tangkis ganda campuran Tiongkok: He Jiting dan Du Yue.
Lagu dalam tulisan berjudul Kilometer Zero oleh Ian Pangilinan













