“What have I done for the last four months?”
Begitulah teks yang saya cuitkan di Twitter saya.
Saya bingung, mengapa skripsi saya tak kunjung usai setelah kegiatan lapangan berakhir. Fyi, saya melakukan lapangan pada September akhir 2017.
Jadi apa yang saya lakukan selama empat bulan terakhir (Oktober-November-Desember-Januari awal)? (Sengaja memasukkan Januari awal biar semakin banyak penyesalan yang saya pikirkan.)
Oktober:
Mempersiapkan pergi ke India, konsultasi pasca lapangan, dan liburan di India.
Bulan ini saya agak kewalahan mengurus persiapan kegiatan volunteering alias kerelawanan di India. Selain berusaha untuk aktif dalam grup volunteering (padahal ujung-ujungnya kurang aktif karena pada dasarnya saya kurang suka membuka telepon genggam), saya membeli berbagai kebutuhan pribadi, tim, dan anak-anak India yang menjadi sasaran kegiatan. Tak lupa saya mengurus dokumen-dokumen yang diperlukan agar dapat berangkat dan bertahan hidup disana. Saat pikiran saya terpecah menjadi tiga fokus: skripsi, liburan di India, dan kegiatan volunteering di India. Saya berusaha mengerjakan skripsi, namun kurang maksimal karena saat pengerjaan, pikiran saya sudah melayang ke persiapan menuju India, sehingga pada akhirnya saya paksakan untuk mengerjakan skripsi dan saya paksakan pula untuk konsultasi agar terdapat progress skripsi. Liburan di India saya lakukan pada minggu pertama disana. Salah satu teman saya membuat itinerary, sedangkan saya hanya mengecek dan mencoba menambahkan tempat baru jika dalam jadwal, tidak banyak tempat yang akan dikunjungi dalam sehari. Volunteering? Saya mencoba belajar Bahasa Hindi, diantaranya angka 0-10, sapaan, ucapan terima kasih, dan percapakan saat perkenalan. Selain itu, sangat banyak barang yang saya bawa karena mama saya membantu packing, sehingga pakaian dilebihkan hingga setengah dari pakaian yang terpakai disana dan pernak-pernik lainnya yang mampu menambah berat bagasi. Konsultasi pasca lapangan dilakukan saat pertengahan bulan, sedangkan liburan di India berjalan pada akhir bulan.
November:
Volunteering di India dan TPA.
Volunteering berjalan pada awal bulan. Sepulang dari India, saya berkutat dalam organisasi yang baru saya ikuti, yakni Taman Pelajar Aceh (TPA). Merasa bahwa adanya tanggung jawab dalam setiap pilihan yang saya ambil, saya mencoba untuk aktif dalam divisi yang saya pilih, yakni Divisi Advokasi. Mengingat umur saya yang lebih tua dibandingkan dua anggota saya, mereka dan Koordinator PSDM menunjuk saya sebagai koordinator. Semakin berat amanah yang saya pikul, namun semakin bersemangat diri ini untuk terus mengembangkan jiwa kepemimpinan, sehingga saya mencoba aktif di dalam organisasi ini. Di akhir bulan, tiba-tiba ada rapat kerja untuk menyusun program kerja selama setahun kedepan, sehingga progress skripsi saya cenderung stagnan.
Desember:
TPA dan CAC
Ada kegiatan yang mendadak harus diikuti oleh TPA sebagai IKPMD Aceh, yakni Pawai Nitilaku dan Pentas Seni yang diselenggarakan oleh Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Keluarga Alumni Gadjah Mada (KAGAMA). Tiba-tiba saya ditunjuk oleh ketua sebagai koordinator kegiatan. Mengingat bahwa saya kuliah disana dan selama ini belum pernah sekalipun berpartisipasi dalam kegiatan Nitilaku, saya mengambil amanah tersebut. Sulitnya berkoordinasi dengan beberapa paguyuban kabupaten membuat saya kewalahan. Mungkin karena mereka mengandalkan prinsip lantak laju (Mengambil kesempatan untuk mengikuti suatu kegiatan. Meskipun dalam prosesnya terdapat kesulitan, kegiatan tersebut pasti berhasil diwujudkan). Karena tidak terbiasa dengan sistem demikian, saya kewalahan dalam menjalani prosesnya. Setelah kegiatan terlaksana, komunitas yang saya ikuti, Coin A Chance Yogyakarta, mengadakan pengangkatan adik asuh baru. Karena saya datang dalam rapat persiapan, saya terpilih sebagai koordinator survei. Akhirnya saya menggelar survei, dengan atau tanpa anggota-anggota saya yang super sibuk.
Skripsi saya kerjakan pada pertengahan bulan, namun progress skripsi tetap tergolong stagnan.
Januari awal:
CAC
Survei calon adik asuh berlangsung hingga awal bulan ini. Alhamdulillah setelah ini, insyaAllah saya siap menyongsong kehidupan ber-skripsi ria dan mengikuti berbagai kajian di Yogyakarta.
Ini semua adalah kesalahan saya. Selama empat bulan terakhir tidak menyentuh skripsi, saya lalai melakukan berbagai aktivitas di luar kampus, sehingga saya terdistraksi.
Mulai besok, insyaAllah saya mengerjakan skripsi sekitar 6 jam per hari!