A Thread: Gitu Aja Baper
Langit Madiinah
"Halah, gitu aja baper."
"Lebay banget sih,"
"Biasa aja kali, yang lain juga biasa aja."
"Aku woles aja tuh, kamu nya aja yang baperan."
"Lagian itu kan boleh, gak dilarang dalam islam, ini juga cuma bercanda."
βοΈβοΈβοΈ
Pernah mendengar yang seperti itu? Mungkin sering.
Mudah memang untuk menghindari rasa bersalah dengan berkata seperti itu. Saat oranglain menahan rasa sakit hati dengan ucapan demi ucapan yang tak kunjung diperbaiki. Lalu ketika tak tahan lagi, tak bisa menerima dan memilih jujur bahwa hati terluka, justru ditambah lagi sakit hatinya dengan ucapan-ucapan di atas yang membuat luka kian menganga.
Sudah jatuh, tertimpa tangga. Sudah tersayat, dibubuhi garam pula. Sudah menahan rasa sakit karena suatu perkataan, bercandaan ataupun perbuatan, eh ditambah lagi rasa sakitnya karena disalahkan.
Andai saja bisa menjadi robot yang tak punya perasaan, mungkin lebih baik jadi robot saja. Tak perlu merasa takut, tak perlu merasa sakit hati, tak perlu merasa senang, tak perlu merasa sedih, tak perlu merasakan marah, tak perlu merasakan apa-apa.
Tapi berandai-andai pun bukan solusi. Pada kenyataannya kita adalah manusia yang punya hati, lantas mau bagaimana lagi? Bukankah ini adalah takdir Allah yang harusnya kita sadari dan syukuri?
βοΈβοΈβοΈ
Ibarat A bisa kuat makan mie ayam dengan sambal 10 sendok, namun B hanya bisa tahan 1 sendok. Lalu keduanya sama-sama diberikan sambal 5 sendok. Setelah sama-sama makan, B bersegera mencari minum karena tak tahan ketika A masih santai menikmati makanannya. Lantas A berkata pada B, "Halah gitu aja kepedesan, biasa aja kali. Itu belum seberapa. Aku aja biasa aja nih."
Atau ibarat C adalah orang yang pernah mengalami kecelakaan hebat sehingga bagian tulang kakinya sempat patah. Sedangkan D adalah orang yang belum pernah kecelakaan. Lalu D ingin bercanda dengan menendang kaki C yang pernah patah itu dan "Awww!! Sakiiit!" C menjerit kesakitan. Lantas D berkata, "Dih lebay banget sih, pelan-pelan juga nendangnya. Lagian aku cuma mau nge-prank aja, bukan beneran mau nendang."
Atau juga ibarat E, dia masih bisa senyum-senyum dan berkata "gak apa-apa" ketika bukunya, lantai rumahnya, lemarinya dicoret-coret. Tapi ia tak bisa menerima jika tembok rumahnya yang dicoret-coret. Dia masih menoleransi yang lain, namun tembok itu pengecualian karena amat sulit baginya membersihkan nya lagi. Bayangkan jika kita coret-coret temboknya, terus bilang "gini doang marah, tinggal dihapus aja." Yakali kita mau ngehapusin, tapi biasanya ditinggal pergi gitu aja, kan?
Atau terakhir, F dapat makanan cireng, G juga. G dapat cireng gampang, karena tinggal ngeluarin uang 2000an. Setelah G cirengnya habis, dia masih lapar dan mengambil cireng F sambil cengengesan, "Buat aku aja ya." Lalu F marah dan G bilang "Yaampun cuma cireng, gitu aja marah. Tinggal beli aja lagi napa." Padahal dia gak tahu, F bisa dapat cireng itu perjuangannya luar biasa. Dia harus menempuh perjalanan jauh tanpa kendaraan, harus berjalan kaki, kepanasan, kehujanan dan uang yang dia pakai itu uang terakhir sehingga gak mungkin beli lagi.
See?
Kita gak pernah tahu, barangkali oranglain gak punya daya tahan dan daya banting yang sama dengan yang kita rasa.
Kita juga gak pernah tahu, barangkali oranglain pernah punya luka fisik ataupun trauma psikis di masa lalu yang gak pernah kita duga.
Kita gak pernah tahu, barangkali oranglain menoleransi banyak hal tapi punya satu hal yang dia jaga betul-betul, dan kita yang salah kenapa menyentuh hal yang justru paling tidak disukainya.
Kita juga gak pernah tahu, apa saja yang sudah dilalui, diperjuangkan dan dikorbankan oranglain demi sampai di posisi mereka sekarang ini. Sehingga mereka ingin benar-benar merasakan hasil jerih payahnya yang bagi kita mungkin mudah untuk didapatkan sehingga kita anggap sepele.
βοΈβοΈβοΈ
Dan tahukah? Indahnya Islam adalah dalam perang pun ada aturannya, tidak boleh bar-bar seenaknya. Meskipun perang, tidak boleh membunuh wanita, anak-anak, hewan, merusak tanaman dan fasilitas umum.
Begitupun dalam interaksi antar sesama manusia pun ada aturannya. Bercanda pun ada aturannya: Tidak boleh berdusta, tidak boleh menghina, tidak boleh menyakiti perasaan orang lain.
"Kan dalam Islam juga gak dilarang, lagian cuma bercanda." Gak dilarang apa berarti harus dilakukan? Gak dilarang apa berarti bisa bebas dijadikan bahan guyonan? Bercanda apa berarti boleh menyakiti perasaan orang lain? Emangnya gak ada bercandaan yang lain? Apa gak ada ucapan lain yang lebih berguna?
βοΈβοΈβοΈ
Ust. bendri pernah berkata dalam ceramahnya, suatu ketika seorang sahabat Nabi berkata "Andai kulihat istriku berduaan dengan lelaki lain, maka akan kutusuk lelaki itu dengan bagian pisau yang tidak tumpul." lalu Rasulullah Saw berkata "Apakah kalian takjud dengan kecemburuan nya? Sesungguhnya aku lebih cemburu darinya, dan Allah lebih cemburu dariku."
Maa syaa Allah, Rasul gak bilang "Hey kamu, dosa tau! gitu aja main pisau, lebay." Tapi Rasul memaklumi perasaan sang suami. Dan justru menjelaskan bahwa cemburu adalah bagian dari cinta dan itu perasaan yang biaa dipahami.
Saya pun baru mengerti, mengapa ketika Siti Aisyah R.A menjatuhkan piring di depan para tamu, yang diucapkan Rasul adalah "Ibumu sedang cemburu." artinya Rasul memahami dan meminta para tamu memaklumi perasaan istrinya. Bukan justru marah pada Siti Aisyah dengan berkata bahwa itu tidak sopan, memalukan, berlebihan, dsb.
Dalam hal lain, ketika memanggil nama, Islam menganjurkan untuk memanggil oranglain dengan nama yang baik dan jangan memanggil dengan panggilan yang tidam disukainya. Maka bukankah Islam begitu menjaga dan memanusiakan manusia?
Terakhir, ketika ada tiga orang, janganlah dua orang saling berbisik tanpa ikut mengajak orang ketiga berbicara sebab itu bisa membuat sedih orang ketiga tersebut. Maa syaa Allah, sebegitu detail, sebegitu lembut, sebegitu apik nya, kan ya?
βοΈβοΈβοΈ
Maka, dengan tangan bergetar dan hati berdebar-debar, saya menuliskan catatan yang semoga sedikit berfaedah ini. Agar berusaha lebih memahami lagi posisi oranglain. Agar berusaha tidak seenaknya dalam berbuat dan berkata. Agar tidak menyepelekan urusan orang lain. Dan agar lebih bisa menjaga perasaan sendiri juga orang lain.
Alhamdulillah.. Astaghfirullah.. Wallahua'lam bish shawwab.
Cianjur, 13 April 2021
#StatusBerfaedah #GituAjaBaper #NoteToMySelf











