Yuk, Lebih Mengenal Dunia Anak #1
Diskusi daring oleh : Gema Indonesia
Pemateri : Rismaya Nurmalasari (Guru SDI Abu Seno)
Sebelum mulai membahas tentang anak, pada pengantar ini saya ingin membahas mengenai siapa yang akan memiliki peran penting dalam setiap fase kehidupan anak.
Mereka adalah ayah dan ibunya.
โชโซโชโซโชโซโชโซโช
Mengapa membahas ayah ibu dulu?
๐ Karena anak tidak hanya diurus atau diasuh secara fisik saja, tetapi jiwanya juga perlu dibangun. Sehingga sejak sebelum menikah alangkah baiknya membekali dengan berbagai ilmu mulai dari agama, soal kerumahtanggaan, anak dan lainnya.
๐ Pernikahan adalah penyesuaian diri seumur hidup. Menyesuaikan diri dengan pasangan, keluarga dan kerabat pasangan, kehadiran anak pertama, kehadiran anak kedua, pekerjaan baru, dan sebagainya.
๐ Sebagian orang tua tanpa sadar melakukan pola asuh yang sama seperti orang tuanya dahulu.
Contohnya : sewaktu kecil dia benci banyak dilarang oleh ibunya, tetapi setelah punya anak dia juga malah banyak melarang anaknya atau yang terjadi bisa sebaliknya terlalu permisif.
Biasanya hal ini terjadi karena pengaruh dari luka psikologis di masa kecilnya. Selain berpangaruh pada pola asuh terhadap anak, luka psikologis yang belum sembuh atau belum tuntas juga bisa mempengaruhi bagaimana seseorang memperlakukan pasangannya.
Sedikit banyak perilaku seseorang dipengaruhi oleh masa kecilnya, dimana pada masa kecil itu seseorang mendapat input informasi dan pengalaman pertama dari keluarga, siapa lagi kalau bukan dari ayah dan ibunya.
๐ ๐ ๐ ๐ ๐ ๐
Ayah dan ibu memiliki peran yang berbeda, sesuai dengan fitrahnya untuk menjadi role model anak ketika dewasa kelak.
๐จ Ayah โก maskulin, akal, logic, figur raja tega ( bukan kejam yaaa)
๐ฉ Ibu โก feminitas, rasa, hati nurani
Oleh karena itu, peran ayah dan ibu menjadi sangat penting sebab yang dididik dan dibesarkan adalah calon suami, calon isteri, calon ayah serta calon ibu.
Beda zaman, maka beda pula menghadapinya.
Zaman sekarang anak-anak sudah mengenal gadget dan internet.
Itu berarti jika anak-anak sudah kenal gadget, dia bisa mendapatkan akses informasi tanpa batas.
Mulai dari hoaks, LGBT, pornografi, bahkan cyber bullying
Sebelum mulai membahas anak, saya ingin bercerita sedikit mengenai kasus-kasus yang saya temui sependek pengalaman saya dengan anak-anak.
Sebut saja mereka A, B, C, D, E, F, dan G.
Apakah teman-teman tau games online berikut?
15 games online ini dilarang oleh Kemendikbud, dan memang rating permainan ini 18+.
A ini sejak TK sudah memainkan seluruh games online tersebut, ditambah sekarang dia bermain mobile legend dan PUBG.
Terbayangkah teman-teman, di masa golden age A mendapatkan input agresi?
Bahkan games GTA dia sudah tamat memainkannya, mungkin sebagian teman-teman yang pernah main ingat bahwa dalam games ini untuk mendapatkan poin harus berbuat kejahatan terlebih dahulu.
Mulai dari merampok, merusak kendaraan, vandalisme, dan suatu prestasi jika sampai dikejar polisi.
Poin itu adalah reward. Apakah reward menyenangkan?
Tentu saja reward menyenangkan dalam permainan tersebut, namun dalam kehidupan nyata hal itu tidak berlaku.
Selain bermain games online, anak ini perilakunya cukup mengejutkan :
mencuri uang di warnet sebesar 50.000
memanipulasi orang dewasa
memerosotkan celana anak laki-laki dan perempuan di sekolah
meludahi, mencubit, menggigit guru
berkelahi dengan kakak kelas
jika teman tidak sengaja menyenggol, dia akan memukuli dan menendang secara membabi buta
mengidolakan geng XTC, dan menuliskannya di tembok sekolah
Saat ini A sedang melakukan terapi konseling dan fisioterapi, karena ada gangguan pada penerimaan rangsang di otaknya.
Hal itu bermula dari apa?
input negatif sejak kecil
kekerasan ayah (pernah datang ke sekolah dengan bekas tamparan ayahnya)
kedua orang tua sibuk bekerja, sehingga d irumah dia ditinggal bersama ART yang setiap hari memberikan uang untuk pergi ke warnet.
selalu menjadi yang terbaik
Tetapiโฆ Dia menyukai sesama jenis.
Setelah ditelusuri ternyata, adanya peran yang tertukar antara ayah dan ibunya.
Ayah yang idealnya sosok yang maskulin dan sosok yang menegakkan disiplin, digantikan oleh ibu yang idealnya feminim dan mengolah rasa.
Ada apa sebenarnya ini? Apa yang terjadi?
Untuk menjawabnya, kita simpan dulu kasus diatas. Dan kita lanjutkan dulu tentang anak ๐