Ini Cerita Saya, Cerita Senja di Sunda Kelapa
Ditulis oleh: Nadila Nurwijayantri
Sore itu saya dan teman saya, yaitu Gita mengunjungi Pelabuhan Sunda Kelapa. Tentunya kami mengunjungi tempat ini bukan tanpa tujuan, kami kesini untuk tugas liputan tentang Sunda Kelapa. Pelabuhan Sunda Kelapa berlokasi di Kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara. Pelabuhan ini dikenal sebagai salah satu tujuan tempat wisata yang berada di kawasan Kota Tua Jakarta. Cukup membayar tarif hanya Rp 2.500/orang, kami pun dapat menikmati sisi baharinya Indonesia. Pasalnya selain melihat laut lepas, umumnya puluhan kapal pinisi akan bersandar di pelabuhan ini. Jika pintar mengambil angle foto, kita dapat “mencetak” banyak foto menarik, mulai dari suasana pantai utara Jawa, sisi unik kapal pinisi hingga aktivitas bongkar muat barang yang terjadi di sini.
Rute busway dari kampus kami ke Pelabuhan Sunda Kelapa sangat mudah. Dari Halte Gor Soemantri naik transjakarta ke arah Monas. Setelah sampai ke halte tujuan akhir Monas, kami pun transit dan melanjutkan menuju halte Jakarta Kota. Sesampainya di halte tujuan akhir Jakarta Kota, kami masih lanjut menumpangi angkutan umum M15 jurusan Tj.Priok-Ancol. Sampai di pintu masuk Pelabuhan Sunda Kelapa, kami langsung turun dari dari angkot dan berjalan 10m ke loket pintu masuk.
Menariknya, di Pelabuhan Sunda Kelapa kita juga dapat menyewa jasa sampan atau perahu kecil milik para nelayan. Dengan sampan yang disewakan tersebut, kita dapat berkeliling sembari menikmati suasana yang ditawarkan Pelabuhan Sunda Kelapa. Biaya sewanya pun sekitar Rp 50.000 rupiah saja. Akan bisa lebih murah jika kita pintar menawar. Sebelum kami berangkat kesini, kami merencanakan untuk menumpangi sampan atau perahu kecil sambil mengambil foto dan video terbenamnya matahari disana. Setelah lamanya kami tawar menawar dengan pemilik sampan, akhirnya kami cukup membayar Rp 30.000.
Dengan menaiki perahu, kami dapat melihat permukiman penduduk di balik perahu-perahu yang bersandar. Banyak juga perahu yang berlalu-lalang membawa penumpang menyeberang dari pemukiman penduduk ke pelabuhan atau sebaliknya. Terlihat juga perahu-perahu yang membawa air bersih. Ada juga yang mencari ikan. Saat itu yang saya rasakan adalah seolah sedang tidak berada di Jakarta.
Kami pun dibawa oleh tukang perahu sampai di ujung luar pelabuhan dan ombak pun mulai terasa lebih kuat. Cemas juga jika air hitam itu masuk ke dalam perahu atau perahu ini terbalik. Membayangkan harus berenang di air yang hitam, kotor dan berbau busuk tersebut benar-benar membuat hati ini cemas, saya pun juga tidak bisa berenang. Ditambah lagi tukang perahu yang membawa kami sudah agak tua.
Saat sedang menaiki perahu di tengah-tengah pelabuhan, saya langsung mengeluarkan kamera dan mengabadikan suasana itu dengan memotret dan merekam video. Suasana sore makin terasa saat saya mengabadikan langit senja di sore itu. Akhirnya perahu kami menepi dan kami pun naik ke daratan. Setelah mengucapkan terima kasih, kami pun berlalu dari situ.
Perjalanan liputan kami tak hanya sampai menaiki perahu, kami pun lanjut berjalan semakin jauh ke arah bagian dalam Pelabuhan Sunda Kelapa. Semakin jauh memang semakin debu. Debu-debu ini dikarenakan banyaknya kontainer yang berlalu lalang. Tetapi hal ini tak kami hiraukan. Toh kami sudah biasa terkena debu dan panas-panasan saat liputan. Mungkin karena kami perempuan dan hanya berdua saja, sepanjang perjalanan tak henti-hentinya ada suara-suara yang mengganggu dan mecoba menggodai kami dengan genit. Tapi lagi-lagi tak kami hiraukan. Justru kami balas dengan senyuman dan teguran sapa agar mereka menghargai kami. Mereka pun merespon dengan baik ketika kami menyapa.
Satu lagi, di sini kita juga dapat menikmati romantisnya senja ala pelabuhan ibu kota. Bedanya, moment matahari tenggelam di Sunda Kelapa akan berhiaskan siluet indah dari puluhan pinisi yang berjajar rapi di pinggir dermaga. Tinggal cekrek, cekrek, upload! Jadi jangan heran lagi ya jika menemukan banyak foto menarik yang diambil dari pelabuhan ini.
Tak terasa sudah pukul 17:33, beberapa menit sebelum waktu berbuka puasa. Waktu sudah tidak memungkinkan kita untuk melanjutkan liputan karena Pelabuhan Sunda Kelapa hanya buka sampai jam 18:00 sore. Kami pun terpaksa untuk pulang dan melanjutkan liputan di sini esok hari.



















