Yuk, Lebih Mengenal Dunia Anak #3
#3 MATERI
Saya hanya akan membahas seputar anak pada fase 0-7 tahun. Karena pada fase ini mulai dibangun pondasi dan konsep dasar kehidupan seseorang.
Jika 0-7 tahun ini terlewati dengan baik, insyaa Allah menjadi awal yang baik untuk menghadapi fase selanjutnya.
Tapi sebelumnya, saya akan memperlihatkan sekilas tentang fase kehidupan menurut Rasulullah dan fase kehidupan menurut ilmu Psikologi beserta ciri-cirinya.
0 sampai 7 tahun
๐ธ Anak sebagai raja dalam bermain, kita turut bermain bersama anak untuk mengikat bonding
๐ธ Bagian otak yang lebih dulu berkembang adalah otak kanan โก berkaitan dengan emosi, kesenian, krearivitas
๐ธ Usia 3 tahun memiliki tingkat aktivitas tertinggi dari seluruh masa hidup manusia
๐ธ Wadah memori dalam otak baru terbentuk saat manusia berusia 4 tahun
๐ธ Perkembangan kognitif masih dalam tahap Praoperasional โก๏ธ kongkrit (sesuai yang anak lihat), pemikiran masih kacau, ย tidak terorganisasi dengan baik, belum paham konsep waktu (sekarang, nanti, besok)
Karena anak usia ini begitu kongkrit, jika kita menjanjikan ย sesuatu tetapi nanti, mereka akan menagih saat itu juga. Karena secara kognisi mereka tidak paham nanti itu kapan.
Usia 0 - 6 tahun โก jangan paksa anak untuk berbagi, masih dalam fase egosentris dan belajar mengenai kepemilikan.
Untuk bisa berempati dan berbagi, anak harus tuntas dulu fitrah individualisnya.
Pada fase ini juga anak mengalami masa negativistik.
Mungkin teman-teman sering menendengar jawaban mereka misalkan ketika disuruh makan atau mandi, mereka akan sering menjawab nggak mau.
Sebetulnya masa ini berfungsi untuk pertahanan dirinya kelak di masa yang akan datang.
Menjadikan anak ajeg dengan konsep dirinya, berani berkata tidak atas sesuatu.
Saya mengutip gambar dari kemendikbud mengenai usia ideal anak masuk SD.
Yup, 7 tahun adalah usia ideal untuk anak memasuki sekolah dasar.
Karena pada usia 7 tahun anak sudah matang secara motorik, emosi dan kognisi.
Bukankah Rasulullah SAW juga memerintahkan anak belajar shalat usia 7 tahun?
Shalat adalah salah satu ibadah yang menekankan disiplin, syarat, dan aturan lainnya.
Oleh karena itu, di usia 7 tahun anak dianggap mampu untuk menerima aturan selain dirumah yakni di sekolah.
Usia 7 tahun juga anak mulai bisa untuk fokus untuk konsentrasi meski maksimal berdurasi hanya 7-15 menit saja.
Apa jadinya jika anak masuk SD kurang dari 7 tahun?
Beberapa kasus memang tidak siap untuk di sekolah.
Biasanya soal kemandirian, seperti tidak membuka kaos kaki saat wudhu, BAK dibawah kucuran kran air, ketika waktunya belajar masih sibuk berlari ke sana ke sini.
Perkembangan itu sendiri terbagi menjadi :
perkembangan fisik
perkembangan motorik
perkembangan emosi
perkembangan bahasa
perkembangan sosial
perkembangan kognitif
perkembangan moral
Yang kalau dibahas satu persatu cukup banyak, karena tiap jenjang usia berbeda tugas perkembangannya.
Jadi untuk materi ini silakan melalui pertanyaan yang dibutuhkan ๐๐
Untuk pendidikan early childhood
Penekanannya pada proses belajar, dan bukan pada apa yang dipelajari
Bermain sangat penting dalam perkembangan anak, karena anak mencoba, menjelajahi, menemukan, menguji coba, berbicara dan mendengar
Belajar melalui permainan dan cerita/dongeng
Pendidikan juga dimulai dari yang ringan dan mudah
Contohnya : menahan diri untuk tidak buang sampah sembarangan, buang sampah pada tempatnya, memungut sampah-sampah kecil, membiasakan diri untuk bebenah
Bermain apakah hanya bermain?
Ternyata tidak, disebut Bermanin jika dalam melakukan aktivitas tersebut anak merasa nyaman, senang, bebas berekspresi dan berimajinasi, tidak merasa terpaksa, dan tidak terbebani target yang harus dicapai.
Jadi, sudahkah kita bermain yang benar bersama anak-anak? ๐
Dalam bermain tentu terjadi interaksi antara kita dengan anak, ini bisa menjadi salah satu kesempatan untuk memasukkan pesan yang ingin kita input pada anak.
Mensejajarkan mata dengan anak, agar anak tidak perlu menengadah
Mendengarkan dan menatap mata anak ketika anak berbicara.
Mohon maaf jika materi belum tersampaikan semua ๐
Mungkin 1 lagi yang penting dan harus menjadi peehatian bersama.
Labeling dan bullying yang anak terima pertama kali mirisnya didapat dari keluarga.
Contoh :
- pesek
- pendek
- hitam
- kamu anak pungut soalnya ga mirip ayah ibu
- banyak gaya
- males
- jorok
- manja
- dll
๐๐๐๐
Kalau orang tua yang mengatakan itu menyakitkan hati anak. Membuat konsep dirinya lemah.
Banyak dari orang dewasa bermaksud bercanda, padahal secara kognisi anak belum paham bahwa itu bercanda. Yang dia yakini adalah bahwa itu melukai hatinya.
Selain labeling dan bullying, terkadang kita sebagai orang dewasa menganggap lucu ketika menyalahkan jawaban anak. Padahal anak sedang menginput sebuah informasi, sedang membangun sebuah konsep di otaknya.
Contoh :
menyebut kemaluan menjadi burung, ketika anak melihat burung terbang dia menangis (cerita nyata)
anak menjawab penjumlahan dengan benar, tetapi orang tua menyalahkan jawabannya dan malah tertawa karena melihat ekspresi anaknya yang hendak menangis
๐๐








