Pendidikan Fitrah Seksualitas
Diskusi tema kedua lebih fokus membahas tahap perkembangan seorang anak relasinya dengan fitrah seksualnya. Karena anak-anak lahir ke dunia dengan pemikiran yang bersih, tugas orang tuanya lah yang menanamkan benih-benih fitrah yang sesuai.
tahapan awal dimuali dari usia 0-2 tahun. Anak-anak difokuskan untuk dekat dengan ibunya, karena di usia ini, kegiatan anak mayoritas seputar pemenuhan kebutuhannya untuk bertahan hidup. Terumata ASI sebagai sumber makanan awalnya. Ibu, dengan sifat “pemberi” naluriah akan memberikan kebutuhan anaknya. Lewat proses inilah, kedekatan itu harus dipupuk.
Tahapan selanjutnya usia 3-6 tahun, adalah usia dimana anak menjadi pendengar yang buruk tapi peniru yang ulang. Egosnetrisnya mulai berkembang. Di tahap ini mereka harus mulai mengenali identitasnya. Peniruan ini penting baginya, mereka akan mulai memahami dirinya sebagai perempuan atau laki-laki, dari kaitannya dengan apa yang ia lihat sehari-hari. Bagaimana ayahnya sebagai laki-laki dan ibunya sebagai perempuan.
Tahapan usia 7-10 tahun adalah tahapan saat anak mulai berpikir kritis. Dia akan dengan leluasa menggunakan logikanya untuk menilai sesuatu. Maka, sebaiknya di usia ini, anak laki-laki dekat dengan ayahnya, anak perempuan dekat dengan ibunya. Mereka akan belajar karakter yang kuat, pola pikir dan cara pandang yang sesuai gendernya, peran laki-laki dari ayahnya dan perempuan dari ibunya.
Tahapan usia 10-14 tahun adalah tahapan usia puncak fitrah. Anak-anak telah sampai pada masa baligh, masa proses reproduksinya disempurnakan oleh Allah secara alamiah. Maka proses pemisahan mulai terjadi lagi, seperti pemisahan kamar anak lelaki dan perempuan. Anak laki-laki didekatkan dengan ibunya untuk melihat cara pikir seorang perempuan dewasa, supaya menyiapkan mentalnya untuk membentuk rumah tangga dengan wanita pilihannya. Begitupun dengan anak perempuan dekat dengan ayahnya.
Bagaimana jika anak terlahir dari keluarga yang tidak lengkap, entah karena meninggal, perceraian, dll? Harus tetap hadirkan sosok keduanya, lewat keluarga besarnya atau walinya. Jika tidak ada juga maka peran negara harus ikut andil. Sebab anak-anak yang terpenuhi hak-hak masa kecilnya adalah investasi berharga bagi suatu bangsa. Bukankah Rasulullah pun terlahir sebagai seorang yatim? disusul kemudian beliau menjadi yatim piatu. Maka, kakeknya hadir memberikan sosok laki-laki yang baik dan ibu susuannya pun memberikan sosok perempuan yang baik. Kakeknya (Abdul Muthalib) adalah lelaki terbaik di kaumnya, dan ibu susuannya (Halimah) dipilihkan dari golongan perempuan-perempuan yang baik.
Penting bagi saya, menghadirkan contoh bagi Bara dan adik-adiknya kelak. Sebuah amanah yang berat, tapi menjadi fitrah dan bernilai ibadah. InsyaAllah.