Kemarin, di tengah kegalauan nyelesain desain poster pameran setelah direvisi, tidur atau ikut pengenalan prodi keliling studio, akhirnya...saya memilih yang ketiga.
Banyak yang tambah mantap setelahnya, ada yang tambah galau, tapi saya makin cinta pada pilihan saya :")
Pengen cerita sedikit soal kunjungan ini...
Studio pertama yang saya kunjungi, Kriya. Berhubung mereka sedang ada pameran di CC Timur, ke sanalah mereka berpresentasi.
Yang dipamerkan di situ adalah image analysis, tugas kriya yang sebelumnya pernah juga saya lihat di pameran kriya tahun lalu. Intinya, memilih satu image dan meriset image itu sampe ke dalam-dalam, buat membuat hasil produk kriya yang pas untuk image yang diriset. Yang bikin menarik adalah buku image board di tiap karya -mereka benar-benar menggambarkan lifestyle dari si pemakai produk dengan image tersebut, bukan hanya pakaian, tapi juga makanan, hobi, minat, mobilnya gimana, dan sebagainya.
Itu rasanya kayak bikin character design, menarik banget. Tapi bukan cuma itu, mereka juga harus bikin videonya. Rasa-rasanya sih, mungkin kalau buat dijual, semacam commercial trialnya ya. Tapi bagus-bagus banget semuanya.
Sekarang saya menyesal kenapa ga pernah bawa kamera ke mana-mana OTL Karena ada yang menarik perhatian saya, judulnya Oriental Bloom. Dia bikin kriya untuk interior, lampu meja berbentuk lampion yang dihias pake mika keras.
Huahaha, berasa bangga ras sendiri gitu. Tapi segala sesuatu yang bersifat oriental dan kecinaan memang selalu menarik perhatian saya belakangan ini, apalagi sejak travel ke Cina tahun lalu dan ngeliat kemajuan desain buat kota. Saya suka soalnya desain Asia Timur itu selalu menjurus ke yang imut-imut, dan itu bener-bener field saya. Haha~ :3
Buatannya Chyndar yang Polychromatic Jungle juga super lucu, apalagi videonya bagusss banget. Menarik temanya. Kemudian, seorang wali, sambil tersenyum simpul, menunjuk ke arah sebuah panel yang didominasi warna hitam, dan bilang, "Itu buatannya Edo, loh." Dan sontak semua anak langsung kaget. Langsung memburu panel itu. Temanya Edo, Black Bold Line. Kayaknya, karyanya sih kriya interior juga, berupa lampu berdiri gitu.
Gak banyak yang bisa diceritain sih, soalnya kayaknya emang enakan dilihat. Tapi kriya itu menarik, sayang saya yakin gak bakal bisa tahan sama kegiatan rajut-sulamnya. Padahal saya paling suka nirmana batik dan bikin motif. Pengen mempertimbangkan kriya buat pilihan kedua, tapi... keterampilan tangan yang super imbisil ini gak bisa diharapkan OTL
Setelah insiden lari-lari ke studio karena tas masih saya tinggal di TPB sementara kata temen-temen TPB udah mau dikunci (Untungnya belum dan tas selamat!) akhirnya saya menyusul rombongan menuju gedung SR, menuju ke studio ke dua, DESAIN PRODUK!
Saya selalu mikir DP itu keren banget. Rasanya... mereka semua kuat, nukang, cerdas, tapi tetap santai, ga se-strict DI. Nanti janji banget bakal sering-sering main ke DP, soalnya tugas-tugasnya juga sepertinya menarik. Intinya kuat, nukang, dan cerdas tapi santainya itu lah, bikin attracted. Nukangnya jangan lupa loh ya, nukang /dilempar ember/ Tapi itu bikin keren juga!
Lalu, kami ke studi-studio Seni Rupa, dari intermedia, keramik, grafis, terus lukis.
Kalau diceritain semua sih bisa, tapi malas. Tapi ada beberapa quote yang oke sih dari senior-senior yang ngenalin prodinya:
"Intermedia lahir dari kebosenan-kebosenan seniman buat make media yang itu-itu aja. Jadi yah, kalau kalian udah mulai merasa kalian bosenan, gak bisa tahan sama media itu-itu doang, intermedia memang buat kalian."
"Keramik itu keren loh. Dia mengandung empat elemen alam. Dia dibuat dari tanah, dicampur air, kering kena udara, terus dibakar pakai api."
<<Quote di atas KEREN SEKALI loh buat saya. Sampai mau bikin character anak seni keramik rasanya.
Oh ya, dijelasin sih bedanya kriya sama seni keramik. Sebenernya katanya gak ada bedanya, cuma kalau kriya dinaungi desain, jadi lebih ke pemenuhan keinginan klien dan konsumen, sementara kalau seni itu lebih bebas, karena asalnya seni kan juga untuk penumpahan emosi si artisnya. Tapi bukan berarti anak seni gak bisa bisa keramik yang punya fungsional dan cuma estetis. Kesalahan yang selama ini selalu ada di dalam otak saya.
"Kalian kenapa warna Fraktalnya pake warna primer?"
"Terus kenapa pake tali-tali juga?"
Setelah diinget-inget lagi... gak ada yang bener-bener menggugah sih. Cuma saya sempet kepikiran aja, Seni itu semacam menghargai sejarah dan perkembangan masa lalu. Kalau yang ada di masa lalu dibuang sama teknologi, seni yang menyimpan. Seni Grafis itu bukti nyatanya. Proses-proses cetak yang dipakai seni grafis itu proses cetak yang ditemukan di masa lalu. Udah gak praktis lagi kalau dipakai nyetak massal karena udah ada printer dan mesin, tapi dia masih punya sisi estetika, jadi seni yang menjadikan dia kembali berharga. Rasanya bagus ya :)
"Kenapa gw memutuskan masuk lukis, karena gw berpikir seni lukis itu ibunya seni rupa. Dan gw mau mempelajari seni rupa dari intinya dulu."
Pada teman saya yang bilang galau mau masuk grafis atau lukis >> "Kamu lebih suka garis, atau warna? Kalau gw, gw memang suka warna, jadi gw masuk lukis."
Dan orang yang ngomong ini, dia bikin lukisan dari foto yang sumpaaah kayak asli. Mainin cahaya, bayangan, dan bener-bener banyak warna di dalamnya. Salut sekali :)
Kemudian, kami maen ke DI. Bener-bener maen, karena rasanya di situ kami maen-maen doang. Karena DI memang selalu jauuuuh dari pertimbangan saya, jadi yah... cuma duduk dan mendengarkan wali-wali menjawab pertanyaan TPB.
Maaf ya, ulasan soal DI nya sedikit =w="
Lalu akhirnya, DKV! Hahaha. Ternyata, saya memang cinta sama prodi ini. Semua hal di dalamnya, semuanya hal-hal yang paling saya sukai. Ilustrasi, komik, typography, animasi, storyboard, commercial art... Mau orang-orang bilang DKV itu mainstream, mau mereka bilang DKV itu bisa dipelajarin di tempat les, DKV itu isinya otaku (<< kata salah satu senior di situ), tapi cinta pada DKV udah tumbuh dari SD, dan gak bisa dipatahkan dengan apapun (halah).
Terus di situ ada kakak kelas pas SMA. Saya pernah sempet tanya-tanya prodi sama dia, waktu semester 1 lagi galau karena nilai. Sumpah saya malu kalau inget betapa parnonya waktu itu, hahaha. Dia nanya, "Jadinya masuk mana nih?"
Dan saya jawab, "Sini, kak."
Dia dan teman-temannya bersorak. Hahaha, rasanya senang :')
Lalu, kami ke studio Seni Patung.
Entah kenapa, kesan pas ke sini mendalam sekali. Gak tau kenapa, apa karena studio segede itu cuma diisi patung-patung dan tiga orang saat itu? Atau karena penjelasannya yang kayaknya super...beyond knowledge? Rasanya orang yang masuk patung itu pasti udah punya pertimbangan masak-masak, punya pengetahuan soal bidangnya, punya gayanya sendiri. Dan yang enak, mereka ga meremehkan meski kami sama sekali gak tahu mereka lagi ngomongin pameran apa, artis siapa, dosen yang mana, karya yang mana. Mereka jelasiiin aja, entah cuek, bodo atau maklum, tapi rasanya lebih enak aja. Habis, kita emang gak tau siapa-siapa dan gak ke mana-mana, jadi yah, dikasih tahu sekarang aja biar tahu.
Lalu kami pulang. Dan saya mengerjakan poster lagi, sambil ngantuk-ngantuk dan marah-marah karena ngantuk dan lapar. Terus saya tidur, dan bikin poster lagi.
Semoga pameran sukses, dan saya bisa masuk DKV :')
Epilognya memang kaku dan gak nyambung, habis saya bingung harus nutupnya bagaimana. Lagipula, belum mandi dan makan dari pagi, jadi mau cari makan dlu.
Hahaha, intinya saya bersyukur sekali bisa masuk FSRD ITB. Gak sabar mau masuk gedung dan cari tahu di dalam itu seperti apa! :D