Dear all my truly dearest nymphs, Ngga terasa ya, ternyata sebentar lagi secara sah kita akan turun. Pasti kalian senang, kan? Haha. Saya juga, kok. Beban satu sudah tertunaikan. Tapi, entah mengapa rasa yang datang bukan hanya senang dan lega, lebih dari itu, sedih dan sedikit menyesal. Sepertinya banyak hal yang belum terselesaikan (memang). Justru di waktu-waktu akhir seperti ini, banyak ide-ide yang berdatangan: Cicaheum mau dibuat seperti apa, kurikulumnya kaya gimana, kita mau berkunjung kemana. Sedih, ya? Tapi bagusnya, hal itu memicu semangat saya untuk lebih banyak belajar.
Saya ngga tahu harus berterima kasih dalam bentuk seperti apa sama kalian. Kalau lewat lisan, besok pasti sudah lupa. Kalaupun lewat tulisan, mungkin suatu saat tintanya pudar, atau bisa juga kertasnya rapuh dimakan waktu. Maka dari itu, tuluskanlah hati kalian kalau saya sekedar berterima kasih lewat doa-doa yang saya panjatkan. Tolong jangan ukur seberapa banyak kalian membantu. Jangan pula banding-bandingkan kegabutan dan kesibukan kalian dengan BP yang lain. Bagi saya, kalian ramai di grup aja sudah seneng kok. Serius, deh! Oh iya, di sela-sela doa saya, saya juga menyumpahi kalian loh. Semoga sumpah saya dikabulkan sama Tuhan, supaya kalian nantinya mendapat kesempatan menjabat sesuatu dengan jabatan puncak, dan kalau bisa lebih mentereng daripada apa yang saya dapatkan kemarin.
Apakah sumpah saya jahat? Ngga, kok. Saya cuma ingin kalian pernah merasakan hal yang sama, setidaknya seperti apa yang pernah saya rasakan, atau mungkin lebih baik. Kalau sedikit diceritakan, apa yang saya rasakan (oke, sekarang saya berusaha untuk jujur): kebingungan yang tiada tara saat ada 3-4 jadwal bentrok daaan saya harus hadir di ketiga-tiganya, seringkali nangis karena takut bikin keputusan yang salah (haha ini kalian ngga boleh tahu), senantiasa senyum walaupun hati udah capek banget rasanya kaya dihujam beton (oke, ini alay), masih aja egois kalo ada hubungannya sama akademik, dan sederet kesalahan lain seperti kurang memperhatikan kalian, slow respon, dan lain-lain. Tahu nggak? Hal yang paling saya takutkan adalah kalau saya bukanlah menjadi teladan yang baik. Seyogyanya, pemimpin yang baik adalah yang mampu menjadikan mereka (dalam hal ini kalian) memperbaiki diri sehingga kalian menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Dan saya kira, saya belum mampu untuk hal ini. Seharusnya, saya mengamati dengan cermat perkembangan kalian dan punya raport pribadi akan hal ini. Entah, bagaimana bisa saya mempertanggungjawabkan hal ini dihadapan Tuhanku saat dihisab, (ini ngutip dari Kahim Nymphaea 2010, tapi kebenaran ini memang patut dipikirkan) semoga kita saling menguatkan dalam doa saja.
Mengapa saya mendoakan kalian untuk suatu saat berada di puncak adalah, secara implisit, saya mendapatkan hal-hal yang tidak bisa dinilai secara materi, dan pada titik yang paling penting: saya bisa mengenal diri saya sendiri. Sesederhana itu ternyata. Tapi hal itu ngga bisa didapatkan dengan cara-cara yang sederhana, bukan? Memang benar kalau kata orang kita ngga bisa mengetahui diri kita seperti apa. Kalau mau tahu bagaimana karakteristik kita, tanyalah temanmu atau siapapun yang mengenalmu. Tapi, sedih sekali nggak sih kalau yang paling kenal sama diri kita sendiri adalah teman kita? Padahal satu-satunya orang yang berhak kamu judge adalah diri kamu sendiri. Ketika kamu di puncak, kamu jadi tahu, gimana sih diri kamu ini? Apa sih jeleknya kamu? Apa baiknya kamu? Kamu akan terus mempertanyakan diri kamu sendiri dan berujung pada peningkatan kualitas dan nilai diri, dan pada akhirnya akan bermuara pada pertanyaan fundamental: Mengapa Kamu Diciptakan? Oh ya, satu hal yang saya tancapkan di otak atas perkataan Bu Sri (Kepsek Hayat School): siapa mengenal dirinya pasti mengenal Tuhannya.
Nah, selamat melanjutkan hidup kalian masing-masing. Terima kasih karena sudah menyediakan hati untuk saya berkaca dan memperbaiki diri. Jangan anggap saya orang yang paling baik diantara kalian, karena sebenarnya tanpa kalian sadari, sayalah yang belajar dan sesungguhnya saya malu kalau ngga bisa memperbaiki diri ketika dipertemukan dengan orang-orang yang baik. Pesan saya, camkan baik-baik: semoga jika suatu saat kesempatan untuk memimpin dalam kebaikan itu menyapa kalian, jangan ragu untuk menerimanya, ya! Karena kalian memang dipilih untuk itu. Hal itu nggak akan datang secara tiba-tiba. Secara ngga sadar, kalian telah menuai sesuatu dan harus bersiap dengan konsekuensi untuk memanennya. Percayalah, selalu ada yang menguatkan diantara kebaikan-kebaikan, dan kamu tidak akan pernah dirugikan. . ―You can’t always wait for the perfect moment. Sometimes you have to dare to do it, because life is too short to wonder what could have been.
“Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat. Dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” [At-Taubah:41] “Dan Kami tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya, dan pada Kami ada suatu catatan yang menuturkan dengan sebenarnya dan mereka tidak dirugikan.” [Al-Mu’minun:62] Much love, T.R.


















