Adalah hal yang salah sebenarnya ketika kita mati-matian melakukan sesuatu demi untuk membuktikan bahwa diri kita ini lebih oyi daripada yang lain. Sebenarnya juga gak ada yang begitu peduli dengan hal itu. Sesekali melihat dan bertanya kepada kita, mungkin iya. Tapi apakah itu termasuk bentuk kepedulian mereka? Belum tentu. Mungkin cuma abang-abange lambe (basa-basi).
Lagian lo ya, pasti akan tambah berat rasanya kalo masih harus ditambah sama keharusan untuk membuktikan diri kita lebih baik dari yang lain. Wong memuaskan keinginan diri kita sendiri aja udah berat dan kadang gak ada habisnya, kan?
Westala, yang penting kita tahu kemampuan kita seperti apa. Bagian mana yang bisa ditingkatkan, dan bagian mana yang butuh bantuan orang lain. Selama kita selalu berusaha ngasih yang positif, gak memaksakan kehendak ke orang lain, dan selalu berusaha membawa diri ke kondisi dan situasi yang lebih baik, nyaman, dana man, itu sudah cukup.
Who cares, coba? Gak ada. Kadang kita menganggap banyak orang yang menuntut kita untuk bikin sesuatu yang seperti ini, seperti itu, menuntut hal yang lebih dari kita. Padahal aslinya itu hanya pikiran kita sendiri aja yang bilang kayak gitu, kan. Sampai akhirnya mempengaruhi perilaku kita, memaksa kita untuk melakukan pembuktian sana-sini, yang akhirnya malah gak membawa kita ke mana-mana. Sampai akhirnya kita tersadar, bahwa orang lain sebenarnya tetap menerima dan bisa menikmati apa yang kita bagikan. Bahwa orang lain mengapresiasi kejujuran bukannya settingan.
NB: tulisan ini merupakan kesimpulan yang saya ambil berdasarkan hasil obrolan saya dengan mas @ianiwismoyo, seorang type designer yang sekarang berdomisili di Jakarta.
*maafkan grammar saya yang keliru ya. Namanya juga terlalu fokus sama intinya ya gini ini sampai lupa detail yang lain. (alasanmu, mid)
_____ Bandung, 230218 @dimazfakhr















