Kepulangan Tuan Putri
Entah apa yang membuat tuan putri tertahan disana. Ingin pulang, kembali pada kediaman penuh ketenangan, tapi dunia seolah menghukumnya, keadaan belum mau dia kembali. Sebab dulu inilah pinta sang tuan putri, "seandainya aku bisa pergi dari tepat ini, maka aku akan pergi" kalimat itu terngiang-ngiang di benak sang tuan putri.
Bertahun tahun yang lalu seperti sebuah keajaiban, dia benar-benar pergi dari tempat itu. Ya akhirnya si tuan putri telah bebas.
Apa sebenarnya yang membuat tuan putri ingin sekali pergi?
Jenuh, muak, semua berputar pada hal yang sama, tuan putri ingin tantangan, dan banyak hal lain memicunya untuk beranjak dari zona nyaman yang selama ini melingkupinya.
Lalu kini, semua itu tlah didapat, beserta bonusnya; kehilangan yang bertubi-tubi, merasa sendiri ditengah lautan manusia, ditinggal berulang kali, memendam kesedihan, kekhawatiran akan banyak hal, kebingungan dalam setiap langkah, banyak sekali ketakutan, hingga kesakitan tuan putri.
Tuan putri kecewa pada dirinya sendiri. Ingin rasanya dia bersikap egois, tapi sungguh tak bisa, dia telah merasa bersalah terlebih dulu. Setakut itu membuat orang lain kecewa, hingga dia kian terbebani oleh perasaannya sendiri.
Tuan putri dibutuhkan disana, dia mengerti, tapi dia tak bahagia, terlalu banyak paksaan. Dia sangat tahu bahwa dirinya juga dibutuhkan, tapi tidakkah ada yang mengerti bahwa dia juga membutuhkan. Tuan putri kecewa!
Dalam deras hujan bersambut air mata, sang putri memohon ampun, barangkali dahulu dia terlalu sombong, menganggap remeh perjalanan orang lain, melalaikan rasa syukur yang seharusnya dia jaga.
Yang dia tak tahu bahwa kehidupan luar sangatlah keras. Dia terlanjur keluar dan dia bertekat untuk kembali, seterjal apapun jalannya. Dunia telah membuatnya babak belur, kini dia menuntut balas atas itu, dunia harusnya tahu bahwa bukan seperti ini maksud dari pintanya.
"sebentar, ada yang harus kubawa dari sini.! Aku telah melalui hari dengan penuh tekanan, mengumpulkan duri-duri tajam yang melukai. Padahal sebelum ini hariku bagai di negeri dongeng, aku melakukan apapun sesukaku, orang orang menyambutku. Aku tahu ada yang salah, aku tidak bodoh untuk tahu bahwa tak selamanya manusia berada diatas, roda kehidupan itu benar-benar ada. Tak ada yang bersalah disini setiap orang akan mendapati rodanya berputar suka tidak suka. Bagaiman bisa kamu akan sampai pada tujuan bila rodamu tak berputar.
Aku akan kembali dengan pelajaran berharga, aku akan kembali membawa serta hasilnya. Aku akan pulang karena sedari awal kutahu disini bukanlah tempatku. Sampai disini aku memang melalui banyak hal, tapi bukankah itu sepadan dengan hasil hasil yang ku peroleh. Aku berharap banyak dari hasil tsb, yang akan membawaku pulang dengan raut berseri membingkai wajah serta dalam keadaan hati yang selamat.
Dia berubah, tuan putri berubah. Kini dia bukan lagi si tuan putri, kini dia menjelma menjadi sesosok bidadari dunia tanpa sayap.
Jalan terjal yang dilaluinya untuk kembali membawanya pada bingkai kehidupan baru yang menentramkan, entah apa yang telah dilakukannya. Dadanya seakan penuh oleh untaian-untaian lirih penuh kebaikan.
Hingga dia tahu arti kembali yang sesungguhnya, arti pulang yang sebenarnya.
---
20 Januari 2019
Allaah yang akan menuntunmu. Percayalah apa yang tak baik menurutmu belum tentu itu buruk buatmu. Allaah lebih tahu baik buruknya sesuatu. Dialah Allaah yang Maha Mengetahui, luasakan prasangka baikmu, sebab Allaah tak pernah dzolim pada hambaNya.













