TAFAKUR LUKA
Di sudut senja yang muram itu aku tafakur. Pada langit yang menggurat merah, pada hitam siliuet kehidupan menjelang malam pada adzan yang tak lagi memanggil kedamaian. Lengkung langit mengelabu, buram dalam hamparan debu. Terus dilukai oleh bisingnya peradaban, mempolusikan nyala cinta di dada. Yang dicemari. Yang terkontaminasi. Aku masih tafakur. Pada bayanganku yang kian menjauh, ku genggam hati yang terlanjur merapuh, ku renggut paksa pada liangnya yang melahirkan kosong, ku cengkram dengan penuh dendam hingga berdenyar darah bergetar. Karena pada kedalaman lubuknya, segores luka pernah ada.























