
#phm#ryland grace#rocky the eridian#project hail mary spoilers
#batman#dc#dc comics#bruce wayne#batfamily#dick grayson#batfam#tim drake#dc fanart


seen from United States
seen from Yemen
seen from United States
seen from Czechia
seen from Switzerland
seen from Switzerland
seen from United States

seen from Switzerland
seen from Australia

seen from Switzerland
seen from Yemen
seen from Switzerland
seen from Yemen

seen from Malaysia
seen from El Salvador
seen from Japan
seen from Brazil
seen from Kyrgyzstan

seen from United States

seen from Türkiye

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Sesi Menjawab | Kenapa Join Open Trip?
Seringkali orang bertanya, "kenapa sih kok join open trip, put?", "kamu ga takut join open trip?", "emang seru ya put open trip tuh?", "bukannya mahal yah put ikut open trip?", "kok berani sih ngetrip sendiri, put" dan masih banyak lagi pertanyaan yang seringkali saya dapatkan tiap kali selesai trip.
Hmm, sebenarnya saya adalah tipikal orang yang suka melakukan aktifitas dengan ritme dan timeline yang sudah saya atur sendiri. Jadi, selama ini, baik bepergian sendiri atau dengan yang lain, saya biasanya udah punya list perjalanan saya, yang hampir selalu terlaksana. Yah sekalipun ada yang meleset, yaah itu kondisional karena satu lain hal yang tidak bisa dielakkan.
Jadi, kenapa saya mau gabung open trip, yang nantinya saya harus menyesuaikan itinerary orang lain dan membaur dengan orang yang tidak saya kenal?
Sederhana saja jawabannya, iseng.
Tepatnya bulan November tahun lalu, saya ada agenda main ke Jogja dan pengin mengunjungi beberapa tempat yang belum pernah saya datangin. Karena memperhitungkan biaya dan minimnya informasi yang saya miliki kalo misal saya berangkat sendiri, jadinya saya coba cari referensi agen trip yang mana dalam 1 hari bisa ke beberapa tempat dengan harga yang bisa digapai. Alhamdulillah, nemu yang aman dan nyaman.
Lalu berlanjut ke trip-trip selanjutnya.
Selama ikut trip dengan beberapa agen trip, alhamdulillah selalu mendapatkan agen yang aman, amanah dan nyaman. Mungkin karena sebelumnya saya udah riset buat cari referensi agen trip nya, jadi pengalaman trip sama mereka selalu meninggalkan kesan yang baik. Dan semoga ke depannya akan selalu bertemu dengan agen trip yang baik.
Untuk pertimbangan biaya, sebenarnya itu tergantung penilaian masing-masing orang. Tapi buat saya pribadi, biaya trip yang diberikan oleh agen trip itu sudah termasuk biaya yang bisa digapai dan menguntungkan buat penikmat trip. Pernah saya coba kalkulasi trip yang dilakukan sendiri dibandingkan dengan diatur oleh tim trip, ada selisih lebih tinggi kalau diatur sendiri karena mungkin kalau dengan tim trip kan pembagi nya ada banyak sementara kalau sendiri, jatuhnya lebih mahal. Mungkin kalau kita sendiri, lebih baik ikut open trip untuk menghemat pengeluaran. Tapi kalau anggota trip kita banyak dan pengin waktu yang fleksibel, ya bisa coba atur sendiri tripnya.
Nah, kalau mempertanyakan apakah seru melakukan perjalanan dengan orang asing? hmm, saya sih fleksibel. Main sendiri, oke. Main rame-rame, juga oke. Jadi, kalau melakukan perjalanan dengan orang-orang yang baru dikenal, ya gpp juga sih. Karena dari situ, saya bisa nambah kenalan sambil menikmati perjalanan.
Melakukan perjalanan dengan orang yang baru kita kenal, terkadang bisa membantu saya untuk mengenal diri sendiri. Mungkin, banyak hal dari dalam diri saya yang mulai berubah karena perjalanan dan pengalaman hidup sehari-hari (alah). Nah, dengan perjalanan itu rasanya kaya menemukan diri sendiri. Yah mungkin, kita jadi gak jaim dan menjadi apa adanya kita karena melakukan perjalanan dengan orang yang tidak dikenal. iya ga sih?
Belakangan saya juga merasa, saat saya bertemu dan berkenalan dengan orang baru di perjalanan, saya punya pemikiran bahwa mungkin kita gak akan bertemu lagi. Disitulah saya berusaha merekam setiap momen perjalanan bersama sebaik-baiknya dan berpamitan dengan mereka selayak-layaknya karena mungkin itu pertemuan terakhir kita. hiks..
Oke.
Jadi itulah alasannya kenapa belakangan ini saya ikut open trip untuk beberapa trip yang ingin saya kunjungin. Semoga ke depannya banyak trip-trip lagi yang bisa saya ikutin. aamin.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Catatan Pendakian Prau : Hujan, Dingin & Awan Sunrise yang Memukau
Tepat seminggu yang lalu, saya menghabiskan akhir pekan dengan ikutan trip ke Prau. Dengan persiapan yang kilat, kurang dari 2 jam dari keberangkatan, saya akhirnya selesai mengemas bekal untuk perjalanan nantinya.
Setelah ashar berangkat dari stasiun Blimbing naik kereta lokal menuju Stasiun Waru . Sebenernya sih nanti dijemput tim tripnya menjelang tengah malam, tapi karena ada janji sama temen di Surabaya, makanya datang lebih awal. Setengah 7an malam, saya turun di Stasiun Waru trus meluncur naik ojek online ke tempat janjian kita. Bayangin bawa carrier dkk masuk mall, udah pasti mengundang perhatian, tapi yaudah gpp,. Hehe.
Setelah makan dan puas ngobrolnya, saya pun menuju titik kumpul. Pas itu lumayan deres hujannya, jadi saya sedikit melipir di minimarket sambil nunggu mobil jemputannya. Alhamdulillah pas sampai hujan reda, jadi ga basah pas masukin barang ke mobil.
Perjalanan dari Sidoarjo ke Wonosobo alhamdulillah lancar. Beberapa kali berhenti, di rest area, di masjid temanggung dan satu atau dua lokasi lainnya (agak lupa karena sambil tidur). Jam 9an kita sampai parkiran PatakBanteng, disitu kita dikasih waktu kurang lebih 30 menit untuk siap-siap. Yaudah, langsung cari tempat makan buat sarapan dan bawa bekal makan siang, trus ke kamar mandi bentar.
Pas ngumpul semua, kita diberi arahan dan berdoa dulu sebelum mulai pendakian.
Pendakian ke Gunung Prau bisa melalui beberapa jalur :
1. Patak Banteng (Wonosobo)
2. Via Dieng (Wonosobo)
3. Via Wates
4. Via Dwarawati & Igimrranak
Nah, kali ini saya ikut jalur Patak Banteng yang katanya ramah buat pendaki pemula. Baiklah, mari kita buktikan.
Dari basecamp, untuk mempersingkat waktu pendakian, kita naik ojek ke pos 2 dengan biaya Rp 40.000. Selama naik ojek, saya nyebut istighfar terus. Lha gimana nggak, jalanannya kurang lebih 1 meteran dan menukik ke atas. Trus kadang ada motor dari arah lawan. Jadi yah begitulah. Tapi alhamdulillah aman, pengemudinya emang pro sih.
Setelah naik ojek, saya jalan sendirian ke area pos 2. Jalanan lumayan ramah. Pas sampai, disambut belasan orang dari rombongan lain yang sibuk foto-foto. Yaudah saya duduk bentar dan nunggu temen trip saya lainnya.
Lima belas menit kemudian, beberapa teman trip saya datang dan ngajakin untuk jalan bareng. Yaudah ngikut. Kita ambil jalur baru, yang lagi-lagi menurut yg lain kalau jalurnya ramah pendaki baru. Dan alhamdulillah lancar meskipun jalannya mulai naik.
Setelah jalan sekitar 1 jam-an, saya udah mulai ngerasa engap. Jadi beberapa kali saya menepi. Karena sering berhenti, saya yang awalnya ada di depan mulai dilewatin teman trip saya. Dan, karena saya ngerasa lambat, yaudah saya info ke teman2 trip yang sejak pos 2 nemenin saya jalan untuk jalan duluan.
Gak berapa lama kabut semakin pekat dan disambung datangnya dengan air hujan.
Awalnya saya berusaha jalan terus dan bertahan gak pakai jas hujan. Tapi karena makin deras hujannya, saya pun berhenti bentar buat pakai jas hujan dan nutupin carrier. Pas itu ada pendaki lewat, "kok sendirian?".
"Nggak kok, yang lain ada di depan."
"Oh kirain sendirian. Yaudah, hati-hati mbak."
Sesekali pendaki itu nengok ke belakang, mungkin gak tega ngeliatin saya yang sendirian pas hujan deres itu. Hhe
Gak berapa lama muncul satu orang teman trip. Kita akhirnya jalan bareng. Pelan-pelan naik, takut kepreset dan terperosok kubangan air. Trus muncul teman yang lain dan seorang tim trip. Kita jalan beriringan. Tim trip ngarahin kita bertiga (semua cewek) jalan sendiri, sementara beliau nya nungguin yang masih ketinggalan di belakang.
Jalanan makin nanjak. Hujan makin deres. Jarak pandang makin samar. Dan hawa dingin yang menusuk. Kita bertiga berusaha jalan terus. Kadang saya yang di depan. Kadang saya di tengah. Kadang saya di belakang. Susah buat saling tunggu-tungguan. Yang jelas, kita berusaha jalan sambil saling ngeliatin kemana yang lainnya gerak.
Beberapa meter di depan, keliatan ada pendaki yang buru buru mendirikan tenda di tengah hujan deras. Rasanya pengin ikutan nyempil di tenda nya saking ga kuatnya nahan dingin pas itu. Tapi, yaudah, tetep ditahan sambil jalan terus.
Dua teman tadi istirahat bentar ditemani tim trip di belakang, sementara saya berusaha jalan setelah diberi arahan tim trip lainnya kalau area kemping kita udah dekat. Trus yaudah saya jalan ngikutin komando sendirian. Ternyata, sempat salah tanjakan. Beruntung dikasih info temen trip lainnya. Jadi ga sampai nanjak jauh.
Pas sampai tenda, ada temen yang udah sampai duluan. Yaudah, saya langsung ganti baju karena udah basah kuyup. Sekalipun udah pakai jas hujan, tapi qadarullah hujannya deres sampai masuk2 di baju. Selesai ganti baju, langsung gelar matras dan sleeping bag. Pas mau makan pakai bekal yang dibawa dari parkiran tadi, ternyata bekalnya ketukar sama temen yang belum datang. Yaudah, saya kruntelan di sleeping bag sambil nungguin dia datang.
Gak berapa lama dia datang dengan kondisi yang lebih parah basahnya. Sedih banget. Trus yaudah, kita barengan di tenda, makan dan menghangatkan diri. Alhamdulillah hujan mulai reda. Tapi kita ga ada tenaga untuk main keluar. Apalagi hawa nya dingin menusuk. Walhasil, kita cuma berdiam di kamar dan sesekali keluar pas lagi butuh aja.
Sepanjang malam, saya dan teman trip yang setenda berjuang melawan dinginnya Prau. Hand dan Foot warmer yang saya bawa ternyata ga berfungsi. Jadi yaudah saya bertahan dengan inhaler dan minyak kayuputih. Terus nyemil biar ga kosong dan berharap kekenyangan trus ketiduran. Dan ternyata, mata terus terjaga sampai tengah malam, yaudah saya menghabiskan waktu untuk nonton podcast dan kartun, sambil ngobrol ngalor ngidul dengan teman setenda.
Sekitar jam 2 atau 3, kita sempet ketiduran dan kebangun pas shubuh. Awalnya udah ga ada nyali untuk keluar. Tapi karena kedenger suara ramai, yaudah saya akhirnya ngintip dan masyaAllah udah banyak orang di luar buat nikmatin sunrise. Yaudah saya ikutan keluar dan ambil foto. Niatnya sih sebentar, tapi lha kok keterusan..haha
Setelah nikmatin sunrise, saya dan salah satu temen trip jemur semua perlengkapan kita yang basah, mulai dari pakaian, tas sampai sepatu. Berharap pas ntar turun tuh ga terlalu berat bawaan kita.
Kira-kira jam 9, setelah sarapan dan packing, kita perjalanan turun gunung. Pokoknya diburu-buru aja jalannya dan ga ada keinginan untuk ambil foto lagi karena takut hujan. Dan alhamdulillah sebelum dhuhur udah sampai parkiran. Trus mandi, makan dan solat sebelum perjalanan pulang ke Sidoarjo.
Eh, sempat mampir juga ke tempat oleh-oleh di wonosobo dan tempat makan di... mana ya (hhe lupa). Yaudah, pokoknya kita sampai di sidoarjo jam 11an malam. Trus, saya lanjut perjalanan ke Malang. Sekitar jam set.2an sampai Malang. Istirahat bentar, jam set,3an tidur terus bangun lagi deh buat kerja pagi nya.. hahaha
Pendakian ke Prau kali ini Subhanallah dinginnya tapi kalau ingat perjalanan dan apa yang ditemuin pas sampai di area perkemahannya.. MasyaAllah sih.
Jadi, next kemana lagi ya?
Menuruni Tebing Curam Demi Menikmati Pesona Tumpak Sewu
Ternyata, salah satu skill yang harus dikuasai oleh manusia dewasa adalah mampu berpikir taktis di saat paling kritis.
Akhir bulan April lalu, saya menerima kabar kalau jadwal trip ke Gunung Lawu yang rencananya akan berangkat di awal bulan Mei itu dibatalkan. Padahal kali ini saya udah mulai semangat persiapannya. Dari keliling kampung, naik turun tangga dan olahraga semampunya. Yah, sekalipun ga tiap hari. Tapi 3 minggu sebelum keberangkatan, saya udah mulai usaha nyiapin bekal pas ntar nak ke Lawu. Qadarullah, Allah berkehendak lain.
Di hari yang sama, ketika informasi pembatalan trip saya terima, saya pun coba cari opsi yang lain. Karena saya pikir, sayang aja kalau ada hari libur tapi saya hanya rebahan di kamar. Setelah beberapa agen saya hubungi, akhirnya saya memutuskan gabung trip Tumpak Sewu. Sebenernya, destinasi itu sudah masuk daftar yang akan saya datangin. Tapi ga nyangka, Allah mengabulkan lebih awal.
Singkat cerita, saya dijemput di rumah jam 3 pagi menuju titik kumpul teman trip lainnya. Karena satu lain hal, saya dioper ke mobil lain dimana disitu udah mulai padat teman tripnya. Setelah menjemput dua orang di daerah jl merdeka malang, kita langsung meluncur ke lokasi. Sempat mampir ke masjid untuk shubuhan bentar sih. Setelah itu, gas lagi.
Sepanjang perjalanan, saya ga bisa tidur seperti teman trip lainnya. Tapi, saya pun ga bisa menikmati pemandangan sekitar. Tau kenapa? Karena saya lagi masuk angin :( Mungkin karena kondisi saya yang kurang fit atau belum sempet sarapan, makanya perut saya rasanya penuh dan terus mual. Yaudah, saya tahan sambil terus berharap segera sampai tujuan.
Oh ya, sekedar informasi, ada beberapa rute kendaraan menuju lokasi :
1. Dari Malang: Kota Malang - Bululawang - Dampit - Ampelgading-Pronojiwo
2. Dari Surabaya: Surabaya-Pasuruan - Probolinggo - Lumajang - Pronojiwo.
Nah, saya tuh ikut rute dari Malang.
Kurang lebih 2 jam, akhirnya kita sampai tujuan. Setelah menunggu semua teman trip berkumpul, kita diberi arahan sebelum mulai treking ke destinasi wisatanya.
Jadi, trip kali ini tuh kita ga cuma Tumpak Sewu, tapi juga ke beberapa lokasi yang emang jaraknya ga terlalu jauh. Awalnya kita ke Panorama Tumpak Sewu, air terjun Tumpak Sewu, Goa Tetes dan Telaga Biru.
Oke. Setelah briefing dan bersiap diri, kita berjalan beriringan ke destinasi wisata pertama. Yap. Panorama Tumpak Sewu. Dari gapura ke lokasi, sekitar 10 menitan. Disitu jalannya masih aman dan sekelilingnya ada beberapa orang yang jualan makanan dan aksesoris atau oleholeh.
Jadi, panorama tumpak sewu itu adalah spot foto dari atas Air Terjun Tumpak Sewu. Disini, para pengunjung bisa ambil foto yang epik karena emang view nya juga epik. Gimana nggak, kita bisa ngeliat gimana kerennya aliran air terjun tumpaksewu dari sisi atas. Makanya ga heran kalau banyak yang antri foto di situ.
Setelah puas ambil foto, kita pun lanjut menuju dasar air terjun tumpak sewu. Nah, kali ini trekking nya mulai menantang sekitar 30 - 45 menit dari lokasi panorama. Jadi kita menuruni tangga bambu yag curam di dinding tebing. Sebagian ada pegangan besi nya, sebagian lagi pegangan tali tambang. Selain itu, jalanannya juga licin. Makanya saya udah ga banyak ambil foto atau video pas itu. Fokus.
Setelah menuruni tangga, kita pun menyusuri sungai dangkal yang berarus lumayan sedang. Menyeberangi jembatan kayu kecil sebanyak dua kali. Terus menyeberangi aliran sungai ke spot foto yang diinginkan. Karena takut terbawa arus, jadi kita nyebrangnya sambil pegangan.
Dan yah, alhamdulillah kita akhirnya sampai di Air Terjun Tumpak Sewu.
Sambil menunggu temen trip ambil foto, saya pun duduk di tepi sungai nikmatin air terjunnya. Kalau dipikir-pikir, saya udah lama ga main ke air terjun. Makanya pas ke Tumpak Sewu ini rasanya ga bisa berkata-kata dengan penciptaan Allah ini :")
Trus, kita menuju ke lokasi selanjutnya, Goa Tetes dan Telaga Biru. Masih di area yang sama dan searah jalur kita kembali ke basecamp atau parkiran.
Kalau di Air Terjun Tumpak Sewu saya masih berusaha jaga diri biar ga kebasahan (takut masuk angin), di dua lokasi terakhir saya udah berserah diri dan malah keasikan main-main air sampai basah kuyup.
Setelah puas ambil foto, kita kembali naik tangga untuk pulang. Sepanjang jalan pulang, saya gak mau nengok bawah karena ngeri aja saking curamnya. Tapi alhamdulillah terlewati. Setelah sampai pangkalan ojek, kita naik ojek ke lokasi awal kita datang. Sekitar 5 menitan lah. Trus kita bersih bersih diri dan makan bakso disana.
Setengah jam kemudian, kita siap siap pulang. Nah kali ini saya naik mobil yang pertama kali jemput saya di awa keberangkatan. Dan Alhamdulillah, menjelang ashar udah sampai rumah.
Menikmati Pendakian Bukit Premium : Trekking Minimum View Maksimum
Berselang dua minggu setelah main ke Merbabu, saya ikut open trip ke Bukit Premium bareng dua teman saya, mbak keshia dan bu nisma.
Bukit Premium (nama aslinya Bukit Keciri) terletak di lereng Gunung Bromo, tepatnya di Dusun Kandangsari, Desa Mororejo, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan. Bukit ini berada di ketinggian sekitar 2.235 mdpl dan sedang viral-viralnya karena pesona padang sabana hijau yang luas dan lanskap pegunungan yang mempesona.
Karena muncul terus di sosial media, saya dan bu nisma udah pengin main kesana. Tapi alhamdulillah baru kesampean bulan April lalu.
Singkat cerita, kita bertiga ikut open trip dengan titik kumpul di Malang. Setelah shubuhan, saya udah standby di Terminal Arjosari menuju lokasi pendakian. Open trip yang kita ikutin khusus perempuan. Jadi semua partisipan dan tim trip nya perempuan. Kecuali supirnya yang laki-laki.
Kurang lebih 1.5 jam perjalanan dari Malang ke lokasi. Mungkin kalau ga sering berhenti, bisa sampai lebih cepat.
Selayaknya perbukitan, jalanannya emang subhanallah. Tapi alhamdulilah terhibur dengan view di sepanjang perjalanannya.
Sekitar jam 7 kita udah sampai lokasi. Setelah urusan administrasi dan pertoiletan, kita pun mulai mendaki. Meski disambut dengan jalanan berbatu yang terjal, tapi masih aman untuk pemula. Jadi meski ada opsi untuk naik ojek ke pos 1, kita milih jalan kaki sambil ngobrol dan ambil foto.
Nah, sampai di pos 1, ada warung yang jual makanan dan minuman. Nyaris aja kita tergoda sama bakso yang nangkring di etalase. Tapi karena keinget perjalanan masih lama, yauda kita tahan dan berharap bakso nya masih ada sampai ntar kita turun Bukit nya.
Terus, yauda, kita jalan sampai pos 2.. jalan terus sampai ke arah bukitnya. Beriringan. Rame-rame. Ada spot bagus, kita ambil foto.
Yaudah gitu aja terus.. sampai ga kerasa akhirnya kita sampai di area paling ujung Bukit, dimana kita bisa ngeliat area Bromo dan sekitarnya.
Setelah puas nikmatin pemandangan dan ambil foto, kita langsung turun. Saya sih mikirnya gimana biar segera sampai pos 1 biar bisa ngebakso. Tapi sayangnya dapat info kalo baksonya udah habis. Yaudah, akhirnya kita nge mie instan rame-rame di pos 2.
Sekitar jam set.12an setelah makanan habis, kita kembali melanjutkan perjalanan balik ke parkiran. Dari pos 1, kita turun naik ojek dengan biaya 20rb. Setelah semua ngumpul di parkiran, trus kita otw pulang ke malang.
Next main ke bukit mana lagi ya? Hehe