Pengalaman Trekking 2 Hari 1 Malam ke Kampung Suku Baduy Dalam
Libur Natal tahun lalu, awalnya saya sudah ada rencana untuk trekking ke Ranu Kumbolo. Setelah menelusuri beberapa agen trip, pilihan saya jatuh ke salah satu agen trip khusus wanita. Jadi pas agen tersebut info kalau ada slot kosong di waktu yang sama dengan yang saya rencanakan di awal, tanpa mikir panjang, saya langsung reservasi.
Udah bayar uang muka dan mulai mempersiapkan beberapa keperluan trekking. Pun, mengumpulkan beberapa informasi apa saja yang harus dipersiapkan saat perjalanan ke sana nantinya. Qadarullah, awal bulan November ada berita erupsi di Gunung Semeru yang membuat status kawasannya menjadi tidak aman untuk dikunjungi. Dari pihak agen trip yang saya ikutin tidak menginformasikan rencana pembatalan atau perubahan jadwal trekking, jadi intinya kita masih berusaha menunggu sampai jadwal kita untuk trekking ke sana ada kepastian.Â
Di sela menunggu kepastian, saya pun berinisiatif cari alternatif destinasi lain untuk menghabiskan waktu liburan saya di akhir tahun. Terus akhirnya, saya menemukan agen trip lainnya yang menawarkan trip ke Bandung. Kebetulan saya memang belum pernah kesana. Saya coba mengulik apa saja yang ditawarkan. Setelah diskusi, saya coba ditawari destinasi lain. Trip ke Baduy. Karena masih awam, saya coba tanya beberpa teman yang sudah ada pengalaman ke sana. Dan ujungnya, saya coba reservasi trip ke Baduy sebagai rencana cadangan, kalau nantinya trip saya ke Ranu Kumbolo kandas.Â
Menjelang dua minggu sebelum keberangkatan, saya masih mencoba optimis untuk bisa ke Ranu Kumbolo, sekalipun ada pemberitahuan kalau kawasannya ditutup sampai batas waktu yang belum ditentukan. Jadi, saya fokus untuk bisa kesana dengan bolak balik melihat info aku resmi kawasan gunung Semeru. Dan yah, akhirnya masih belum waktunya ke Rakum.Â
Baiklah. Mari bercerita tentang pengalaman saya trekking 2 hari 1 malam ke Kampung Suku Baduy Dalam.Â
Tanggal 25 Desember 2025 sore, saya sudah menunggu rombongan trip di Stasiun Gubeng Surabaya. Waktu itu hujan cukup deras dan jalanan lumayan padat. Setelah menunggu beberapa waktu, saya diarahkan untuk naik bis di arah luar stasiun. Di situ, saya mulai bertemu dan berkenalan singkat dengan teman trip saya.Â
Sepanjang perjalanan, saya tidak banyak berinteraksi dengan yang lain. Sibuk mengutak atik gadget saya, sambil sesekali melihat pemandangan malam di jalan tol dari Surabaya ke Jawa Barat. Saat singgah di pemberhentian untuk ishoma, saya pun asik sendiri sambil mengamati orang-orang di sekitar saya. Terus besok pagi nya, kita udah sampai di Rangkasbitung. Istirahat sebentar untuk mandi di masjid dan sarapan di sekitar alun-alun nya.
Lalu, kita naik mobil ke kampung Baduy. Selama hampir 2 jam perjalanan, salah seorang warga Baduy memberi penjelasan tentang budaya Suku Baduy. Jujur, awalnya saya tidak banyak mengulik tentang Suku Baduy tersebut. Jadi, saat dijelasin, saya benar-benar menyimak, dan "oh gitu ya."Â Â
Setelah sampai di Terminal Ciboleger, kita kembali ishoma dan numpang charge karena setelah itu, kita ga dapat asupan listrik sama sekali. Sembari istirahat, kita diberi arahan kalau tim trip nya bakalan dibagi berdasarkan destinasi yang kita pilih di awal trip : Baduy Luar atau Baduy Dalam.Â
Jadi ada perbedaan trip Baduy Luar dan Baduy Dalam.Â
- trekking sekitar 2-3jam
- masih ada sinyal dan diperbolehkan menggunakan hp
- ada beberapa rumah yang memiliki kamar mandi dan ada juga yang ke sungai
- masih diperbolehkan menggunakan menggunakan bahan kimia (shampo, sabun, pasta gigi, dll)
- sama sekali tidak diperbolehkan menggunakan HP dan mendokumentasikan kawasan Baduy dalam
- Tidak ada kamar mandi, jadi mandi nya di sungai dan tidak boleh memakai bahan kimia apapunÂ
Saat reservasi di awal, saya pilih untuk opsi Baduy Luar. Tapi, pas momen pembagian tim trip, saya memutuskan pindah haluan, ke Baduy Dalam.
Sempat ditawari juga, apakah mau pakai jasa porter atau tidak? Dengan tegas, saya menjawab, "No, thanks! " Wkwkw.. Ga gitu juga jawabnya. Tapi, "Gak, kak. Saya bawa sendiri aja", (dalam hati si pemandu pasti ngebatin : ga tau dia gimana medannya, lihat aja ntar. he he he).Â
Sekedar informasi, porter yang memberikan layanan untuk para pengunjung itu berasal dari warga Baduy itu sendiri. Tidak hanya pria dewasa, tapi juga wanita dan anak-anak. Sebenarnya ga tega melihat anak kecil bawa barang berat, tapi info dari pemandu lokal itu sudah biasa dan jadi cara mereka mendapatkan penghasilan.Â
Sekitar jam 1 siang, kita mulai untuk trekking ke Baduy Luar. Melewati 9 kampung sebelum menuju ke Baduy Dalam. Kurang lebih jalan 5 km dengan naik turun dari kampung 1 ke kampung 4. Untuk tim yang ambil opsi Baduy Luar akan tinggal di rumah singgah kampung 4. Sementara tim Baduy Dalam melanjutkan perjalanan ke kampung 9. Di sepanjang jalan Baduy Luar itu, kita melewati rumah warga yang menjual aksesoris khas Baduy. Jadi, buat yang berminat, bisa juga beli langsung disana.
Setelah sampai di Kampung 9, kita akan melewati jembatan batas (Tembayang). Disini, kita diminta untuk memastikan HP dan dilarang untuk mendokumentasikan apapun. Terus kita jalan beriringan melewati jalur yang mulai menanjak. Awalnya, saya udah optimis bisa melewati trekking ini dengan cepat. Tapi, setelah masuk jalanan setapak, tanjakan curam dan berbatuan, saya mulai ngos-ngosan. Karena takut oleng, saya duduk di pinggiran dan membiarkan orang lain melewati saya. Bahkan, teman seperjalanan yang saya kenal di trip ini pun saya minta untuk jalan duluan daripada nungguin saya yang udah engap-engapan napasnya.Â
"Gpp, Sar. Kamu tinggalin aja. Aku mau istirahat dulu bentar. Ini sama adek juga."Â
Kebetulan ada anak belasan tahun yang jadi teman trip saya waktu itu. Dia bersama ibunya juga pindah haluan dari Baduy Luar ke Dalam. Dan waktu itu, saya duduk istirahat sama si adek yang lagi kram kakinya. Setelah insiden adek yang kram, saya pun memutuskan untuk jalan bareng dia terus. Sementara Ibu si adek udah sampai depan.Â
Selain saya dan si adek, ada seorang kakak perempuan yang ada di trip yang sama, dua orang laki-laki asal Jakarta dari agen trip lain dan pemandu lokal yang menjadi sweaper sekaligus penanda kalau kita ada di barisan terakhir. Setelah mencapai puncak dari tanjakan, ada beberapa orang yang lagi istirahat selain kita, termasuk Ibu si adek dan porter nya.Â
Setelah istirahat sejenak, kita pun melanjutkan perjalanan. Pemandu lokal nya sempat bilang kalau bentar lagi sampai dan setelah ini ga ada tanjakan curam. Dan polosnya, saya percaya.
Di sela gerimis dan hari yang mulai gelap, saya, si adek, ibu si adek dan porter nya, kakak perempuan, 2 pria dari Jakarta dan pemandu lokal berjalan beriringan. Qadar ullah ibu si adek terjatuh dan cidera. Jadi, pemandu dan porter si Ibu fokus jagain si Ibu. Sementara, saya, si adek, kakak perempuan dan 2 pria dari Jakarta tadi mencoba memahami arahan untuk jalan terus. Pas mulai gelap, semua berbagi tugas. Ada yang jadi penerang, penunjuk arah dan pemberi informasi kondisi medan yang kita lewatin. Saya pun jalan sambil pegangin tangan si adek. Pas ada saung, kita pun duduk sambil ngobrol bentar.Â
"Sama nih dek.. Ini kita ngapain yaa sampai sini.. Hahaha"Â
"Tadi katanya mau sampai, tapi ga sampai-sampai. Dikibulin terus. "
Terus salah satu dari pria itu nasehatin kita yang lagi mengeluh.
"Untung mbak nggak jadi ke Rakum. Ke sini aja udah kaya gini. "
Setelah itu, kita lanjut lagi dan Alhamdulillah ga berapa lama kita sampai. Sekitar jam 8 malam kita sampai rumah singgah kita. Dan si adek sampai sujud di depan pintu karena syukurnya sementara saya udah rebahin tubuh di pelataran depan rumahnya. Terus, Sarah (teman seperjalanan yang udah sampai duluan) datang menyambut. Â
"Ntar Sar. Aku mau rebahan dulu disini."
Ga hanya karena capek tapi juga karena tubuh rasanya kotor sekali buat masuk rumahnya.Â
"Lah, tak pikir sepatuku tuh udah yang paling kotor. Ternyata, punya mbak putri jauh lebih mengenaskan. "
Yap, sepatu saya jadi korban berkali-kali masuk genangan lumpur. Dan baju saya penuh debu dan kena cipratan lumpur karena beberapa kali saya tiduran di jalan kalau pas lagi capek-capeknya.Â
Jadi, setelah puas rebahan di pelataran. Saya, Sarah, Adek dan beberapa teman trip wanita lainnya pergi mandi di sungai. Oke, sekali lagi, mandi di sungai. Awalnya ragu, tapi karena kondisinya gelap gulita dan saya udah ga sanggup dengan kondisi badan yang kotor, saya pun langsung meluncur aja ke sungai. Satu kata.. Masya Allah. Rasa capek trekking rasanya terbayarkan dengan rasa segar air sungai dan pemandangan kunang-kunang di sekitar area pemandian nya. Ini kalau boleh bilang, rasanya semua keberuntungan saya di tahun 2025 dibayar lunas saat itu (haha, alay).Â
Setelah selesai mandi, kita balik ke rumah singgah, terus makan dan tidur beralas tikar. Jujur, saya baru bisa tidur nyenyak setelah kaki ditempelin koyo kecil nya Sarah.Â
Sekitar jam 4 pagi bangun, balik ke sungai untuk cuci muka dan ambil air wudhu. Terus duduk anteng menikmati minuman hangat dan gorengan. Jalan-jalan ke sekitar area kampung baduy dalam dan kemudian sarapan sebelum akhirnya bersiap untuk trekking pulang.Â
Setelah diskusi kelompok, kita putuskan balik lewat jalur Cijahe biar sampai lebih cepat ke terminal Ciboleger. Dan emang benar, selain jaraknya tidak terlalu panjang, medannya juga ga se ekstrim sebelumnya. Jadi, alhamdulillah, saya dan teman trip lainnya bisa menikmati trekking pulang dari Kampung Baduy Dalam.Â
Sebelum dhuhur kita udah sampai di terminal Ciboleger, istirahat sebentar dan akhirnya perjalanan balik ke Rangkasbitung untuk pindah armada bus yang nantinya membawa kita kembali ke Surabaya.Â
Selama perjalanan pulang, hampir semua teman trip membaur satu sama lain. Sibuk cerita gimana pengalamannya selama treking dan menghabiskan bermalam di Rumah Singgah Suku Baduy Dalam dan Baduy Luar. Rasanya perjalanan pulang jauh lebih cepat dan berat. Cepat karena senyaman itu bersama dengan teman trip kali ini dan berat karena sedih akan melepas kebersamaan ini.Â
Saya turun awal di pom bensin dekat Tol Mojokerto karena setelahnya ada plan trip ke tempat lain. Pas turun dan pamitan,Â
"Sampai ketemu di trip selanjutnya yah, mbakput"
"Hati-hati yaa mbak.. Kabarin kalau ada rencana trip lagi"
"Mbakputri, semoga ada kesempatan trip lagi."
Ternyata batalnya rencana ke Rakum dan digantikan ke Kampung Baduy Dalam benar-benar semenyenangkan itu. Alhamdulillah, Terima kasih ya Allah atas semua takdir indah ini. Terima kasih untuk agen trip yang sudah memberi pengalaman yang susah dilupakan ini.Terima kasih untuk teman-teman trip yang seru. Terima kasih untuk orang-orang baik yang saya temui selama di perjalanan. Terima kasih untuk Ibu saya, yang mengizinkan anaknya untuk ikut trip ini.Â