Dulu saat masih kuliah, sering mendapatkan wejangan dari para konsulen bahwasanya menjadi dokter adalah menjadi bagian dari pekerja seni. Beliau lalu menambahkan, ketika jadi dokter, bertemu satu kasus, ada banyak pilihan terapi obat, tapi bagaimana meramu terapi untuk diberikan ke pasien semua seolah menjadi "seni" dari masing-masing dokter itu sendiri.
Semisal ada 3 pasien datang dengan keluhan sama, nyeri perut, barangkali terapi yang diberikan, edukasi yang disampaikan, hingga biaya yang harus dikeluarkan bisa jadi berbeda. Yang satu karena terlihat banyak masalah, maka saran untuk ke psikiater dan terapi anticemas mungkin menjadi pilihannya. Yang kedua edukasi tentang menjaga asupan makan yang baik dan pola waktu makan yang teratur mungkin jadi jawaban dari keluhannya. Dan terakhir, disarankan segera ke IGD RS karena perlu pemeriksaan rekam jantung lebih lanjut barangkali menjadi penanganan yang tepat untuknya.
Aku jadi teringat kisah seorang ulama ketika ditanya oleh 3 orang, makanah yang lebih mending, berbuat dosa besar atau berbuat dosa kecil, lalu beliau bisa memberikan 3 jawaban yang berbeda.
"Berbuat dosa kecil lebih mendingan dibandingkan melakukan dosa besar, karena dosa kecil itu lebih mudah untuk diampuni", jawab beliau pada orang pertama yang menurut beliau terkadang suka tercemplung pada dosa-dosa kecil.
"Berbuat dosa besar lebih mendingan dibandingkan melakukan dosa kecil, karena ketika seseorang berbuat dosa besar dia akan bertaubat dengan tulus dan ketika hidayah menyapanya ia akan meninggalkan dosa-dosanya sekuat tenaga", jawab beliau pada yang kedua yang beliau tahu bahwa ia adalah seorang yang selama hidupnya banyak berbuat dosa dan berharap mendapatkan hidayah.
"Tidak berbuat dosa, baik besar ataupun kecil itu jauh lebih utama", jawab beliau pada orang ketiga, pada seseorang yang dalam hidupnya dipenuhi dengan ibadah dan kebaikan, dan saat itu terbesit untuk mencicipi sedikit kemaksiatan.
Ulama dengan kebijaksanaannya memberikan teladan bagaimana seharusnya semakin berilmunya seseorang, semakin bijaklah ia dalam menghadapi orang-orang yang ditemuinya.
Semoga dengan kita yang tak pernah letih untuk menimba ilmu, dari satu konferensi ke konferensi lain, dari satu simposium ke simposium setelahnya, dari diskusi kasus, presentasi kasus, dan audit kasus yang diadakan berkala, memberikan banyak ilmu dan kebijaksanaan yang berharga bagi kita.
Sehingga kita lebih bijak memilah dan memilih edukasi yang akan kita sampaikan kepada pasien-pasien kita, sehingga kita lebih banyak memiliki alternatif terapi yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasien-pasien kita.
Jadi dokter (dan manusia) itu berarti menjadi Long life learner. Semoga Allah mampukan.