Setelah menikah, ada banyak penyesuaian dan penyepakatan terhadap apa-apa yang menjadi nilai dalam keluarga kami. Salah satunya adalah soal menghabiskan makanan. Menghabiskan makanan yang sudah tersaji di piring makan masing-masing menjadi satu hal yang sangat ditekankan oleh Mas kepada saya.
Kita sudah paham bahwa berkah makanan ada di suapan dan butir-butir terakhirnya, kan? Sayangnya dalam banyak kesempatan berkunjung ke restoran/food court misalnya, sering terlihat piring-piring dengan makanan tersisa di atasnya yang ditinggalkan begitu saja di atas meja; menunggu dibersihkan oleh petugas kebersihan atau pramusaji restoran tersebut. Sedih melihatnya, mengingat di tempat lain banyak orang yang tidak bisa makan karena tidak ada makanan.
Maka, menghabiskan makanan di piring menjadi satu hal yang coba kami tekankan dan terapkan dalam keluarga kecil kami sebagai bentuk syukur kami terhadap rizki yang Allah berikan. Well, pada dasarnya kami berdua doyan makan juga sih hehe. Prinsipnya; kalau sedikit disyukuri, kalau banyak dihabiskan. Wkwk.
Tentu upaya menghabiskan setiap makanan yang terhidang ini perlu dilakukan dengan strategi, karena makan berlebih-lebihan hingga kekenyangan juga tidak baik dan bukan bagian dari adab makan dan minum yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Lalu, apa saja upaya kami untuk memenuhi prinsip ini?
1. Menyusun rencana menu mingguan
Setiap awal minggu, kami membiasakan diri untuk menyusun rencana menu mingguan yang disesuaikan dengan jumlah sesi makan di rumah. Bagaimana maksudnya? Jadi, kami membuat rencana jumlah sesi makan, misalnya minggu ini ada rencana sarapan di luar 2 kali, makan siang di luar 3 kali, dan makan malam di luar 2 kali, berarti untuk hari-hari tersebut tidak perlu dimasukkan ke dalam perencanaan menu.
2. Menyusun rencana dan jadwal belanja
Setelah tersusun menu harian pada minggu tersebut, perlu dibuat juga rencana dan jadwal belanja ke pasar. Kami mengagendakan belanja ke pasar 2 kali dalam satu minggu, biasanya pada hari Senin/Selasa dan hari Kamis/Jumat. Bahan-bahan makanan apa saja yang dibeli tergantung pada menu yang sudah disepakati sebelumnya.
Oh iya, untuk menu harian sebetulnya tidak terlalu banyak variasi sih hehe. Jadi sebetulnya bahan makanan yang dibeli itu-itu saja. Tapi dengan begini, kami jadi punya patokan jika beli kentang 1 kg, misalnya, akan cukup untuk berapa kali makan, 1 paket sayur sop di tukang sayur langganan cukup berapa porsi, 1 kg telur bisa habis dalam berapa kali makan, dsb.
Dengan menyusun rencana dan jadwal belanja seperti ini, kami meminimalisir jumlah bahan makanan yang dibeli sesuai dengan kebutuhan. Kami tidak akan belanja ke pasar dulu jika bahan makanan di kulkas dirasa masih cukup. Jadi harus sampai betul-betul habis dan tidak ada bahan makanan yang bisa diolah lagi, itu berarti waktunya kami harus belanja lagi ke pasar.
3. Memasak dengan porsi secukupnya
Untuk menghabiskan makanan dalam setiap sesi makan, tentu perlu didahului dengan sikap tidak berlebih-lebihan saat mengambil makanan ke dalam piring yang berarti juga tidak berlebih-lebihan saat memasak hidangan tersebut. Disinilah pentingnya perencanaan menu dan pembatasan item saat belanja. Saat memasak, saya jadi tahu bahwa sesi masak pagi/malam ini yang harus dimasak duluan adalah item A dan item B, sesuai dengan menu yang sudah direncanakan. Porsinya pun disesuaikan hanya untuk 2 porsi. Kalaupun yang dimasak lebih dari itu, maka masakan yang belum termakan disimpan dulu untuk sesi makan selanjutnya.
4. Berbagi dengan tetangga
Nah, ini juga tidak kalah penting yaa. Ketika memang berniat untuk memasak dalam porsi besar dan kita tahu bahwa kita tidak mungkin menghabiskan semuanya sendiri (atau berdua), berbagilah dengan tetangga kanan-kiri-depan-belakang :)
Kurang-lebih 4 poin diatas menjadi upaya kami dalam memenuhi prinsip menghabiskan makanan. Dan ternyata, satu prinsip (yang mungkin terlihat) sederhana ini turunannya jadi banyak juga, ya :D