(DUA PULUH)
Takdir
Takdir tak mengenal "seandainya". Takdir datang seperti ombak yang tak bisa kita tahan, menyapu bersih yang perlu pergi, menyisakan yang harus tetap tinggal.
Meski begitu, tak mudah bagiku untuk memahami takdir perjalanan hidupku.
Apa kau pikir itu mudah? Jangan memintaku melupakan masa lalu jika engkau sendiri yang merancang kebohongan untuk menyelimuti keadaanmu yang sesungguhnya. Jangan memintaku mengerti, jika pemahaman itu harus menafikan luka yang kau tinggalkan, seolah-olah hatiku ini batu yang tak bisa pecah. Begitu buruk kau perlakukanku selama ini. Aku bukan anak kecil yang bisa ditenangkan dengan permen manis, sementara kenyataan yang pahit kau sembunyikan di balik senyummu. Tak sadarkah kau telah hancurkanku?
Aku pernah begitu tulus, dan itu bertemu dengan tipu dayamu. Aku pernah begitu percaya, dan itu bertemu dengan kebohongan yang kau bangun rapi. Seandainya saja takdir berjalan lain, mungkin aku akan lebih baik dari sekarang. Seandainya saja kau tak memperdayaku, mungkin aku masih berdiri tanpa tertatih untuk bisa percaya. Tapi, takdir tak mengenal "seandainya". Takdir datang seperti ombak yang tak bisa kita tahan, menyapu bersih yang perlu pergi, menyisakan yang harus tetap tinggal.
Ada masa di mana aku menolak kenyataan, marah pada kehidupan, mempertanyakan segala hal yang terjadi padaku. Aku bergumul dengan rasa sakit, berusaha mencari celah untuk lari dari ketetapan yang menyakitkan. Hingga aku lelah, hingga aku tersadar bahwa menolak takdir sama seperti berusaha menghentikan angin dengan genggaman tangan.
Aku akhirnya tunduk. Aku akhirnya mengerti bahwa takdir, seburuk apa pun di mataku, adalah cara Tuhan melindungiku. Bahwa jika sesuatu diambil, itu bukan untuk menyiksaku, tetapi untuk menyelamatkanku. Aku berhenti bertanya "mengapa ini terjadi padaku?" dan mulai bertanya "apa yang bisa kupelajari dari ini?"
Kini, aku melangkah lagi. Aku tinggalkan kecewa di belakang, aku gantikan dengan harapan dan doa. Aku bangkit, bukan untuk membalas, tetapi untuk membuktikan bahwa aku lebih besar dari luka yang kau toreh dan aku tahan selama ini.
Aku mengangkat dagu, menatap ke depan, karena jalan masih panjang. Aku tak akan tenggelam dalam kepedihan, karena aku tahuātakdir yang satu telah selesai, dan takdir yang lain telah menungguku di persimpangan berikutnya.
Semoga di ujung jalan, aku sampai dengan selamat, dengan hati yang lebih utuh, dan akhir yang lebih indah.












