U T S
“Anak zaman sekarang, disuruh ngarang malah mikir, disuruh mikir malah ngarang”(Kamaludin)
Di waktu UTS begini ngedenger quotes begini mikir juga. Ngawang-ngawang waktu duduk manis di kelas, menatap selembar kertas, memikir keras, dengan wajah yang memelas. Layaknya minta ampun, kepada sang dosen, setelah setengah masa kuliah di semester ini dihabiskan dengan duduk terdiam mendengar si dosen bicara pada laptop di depan mata, sambil jari memegang mouse, memainkan kursor di atas layar. Yang terpikir cuma bagaimana caranya, lekas selesai, dengan menjawab seluruh soal. Ah, tapi bukan itu masalahnya, kadang-kadang di kelas si dosen bicara tentang A, ngasih tugas tentang B, kuis tentang C, waktu ujian tentang Z. Itu baik untuk mengasah pola pikir. Tapi hubungannya jauh. Harus mencapai D, E, F, bahkan sampai X, W, Y, untuk mencapai si Z. Setelah dapat si Z, syukur kalau bener, kalau salah? matilah, mana si soal Z ini data yang dibutuhkan di Z1, kalau tak bisa jawab Z1? lewat! Z2, Z3, Z4, Z5 pun tak bisa terjawab. Alhasil, karena tidak mengikuti metode dosen, dari A loncat ke G, lanjut ke J, harus balik ke E, masuk ke G lagi, lanjut ke X balik ke J lagi, baru masuk ke Z. hasilnya? Setidaknya Znya sama, tidak masalah.
Ya, akhirnya balik ke quotes awal, disuruh ngarang malah mikir. Disuruh mikir malah ngarang.
Ditulis dalam keadaan besok UTS dan bingung harus bagaimana!














