Datanglah hari itu, hari yang dituliskan Sang Maha Perencana dengan tinta takdir yang tak bisa dihapus. Di tengah langkah hidup yang tenang, tiba-tiba tragedi itu mengetuk pintu; pengkhianatan dari seseorang yang selama lebih dari seperempat abad menjadi bagian hidup, menyatu dalam nadimu, nadiku.
Bagai diterpa angin kering yang panas, semua yang kupikir kokoh perlahan lenyap. Aku limbung, rapuh, dan runtuh dalam pusaran ketidakpastian. Bagaimana mungkin seseorang yang semestinya menjadi pilar ketentraman bagi keluarga kini malah menjadi badai yang menghempaskan segala rasa aman? Rumah yang kami bangun bersama kini diguncang gempa. Aku, dan anak-anak hanya bisa berdiri di atas puing-puing, memeluk ketakutan yang menyeruak sesak.
Aku menanti, berharap penjelasan datang untuk meredakan hati yang bertanya-tanya. Namun, yang kudapat hanyalah diam. Diam yang dingin, mengiris, seolah semua pertanyaan kami tak layak mendapat jawaban. Ia pergi, menghilang dari jangkauan, membiarkan kami berenang di samudra asumsi, mencoba merangkai kepingan-kepingan kebenaran yang tak pernah utuh.
Memandang kedua gadisku, permata hati kami yang kini bergetar dalam ketakutan. Tatapan mereka, penuh tanya dan luka, menembus dadaku seperti anak panah yang tak bisa kutahan lebih lama. Dengan segala daya yang tersisa, kugenggam tangan mereka, mencoba meredakan gemetarnya. "Ayah kalian," ucapku lirih, "membuat keputusan tanpa bermusyawarah, menambah penumpang gelap dalam biduk kita hingga oleng terguncang."
Air mata mereka tumpah, seperti yang aku tahu akan terjadi. Namun, di tengah kesedihan itu, aku tetap mencoba berdiri tegak, meski hatiku bergetar lebih hebat dari mereka. "Tapi kita di sini, bersama. Kita akan melewati ini. Karena meski kapal ini terguncang, kita masih bisa menjaga apa yang tersisa. Kita adalah rumah bagi satu sama lain. Mama gak akan kemana-mana…"
Getar dalam nadiku seolah meminta untuk menerima takdir ini dengan penuh kesadaran dan penerimaan. Tapi bagaimana? Bagaimana seseorang bisa menerima pengkhianatan ini sebagai bagian dari perjalanan hidupnya tanpa merasa terhempas? Bagaimana aku bisa merangkul luka ini sebagai sesuatu yang harus dicintai?