dosen pembimbing saya
Saya ingin bercerita tentang dosen pembimbing saya di S2.
dari dulu, saya punya antipati dengan dengan seseorang yang berusia jauh lebih tua dari saya. bukan hanya jauh lebih tua, namun yang juga merupakan seseorang yang lebih superior dari saya. contohnya saja orang tua, guru, dosen, atau atasan. antipati nya dalam artian, bahwa saya cenderung tidak bisa akrab dengan sosok/figur tersebut. akrab yang saya maksud di sini juga adalah, 'akrab' secara nyaman dalam berinteraksi.
dari sejak S1, saya merasa kesulitan saat menyelesaikan tugas akhir, karena bawaan antipati saya tersebut. terlebih, saya adalah pribadi yang academic achiever walaupun otak semakin ke sini semakin berkurang watt nya. jadi lah saya menjadi pribadi yang perfeksionis namun di satu sisi kurang dapat menyampaikan konsep perfeksionis saya kepada dosen pembimbinga, karena terhalang stereotip antipati.
saya mencoba banyak hal untuk dapat mengatasi permasalahan saya ini. saya mencoba ikut bermain dengan gaya dosen saya yang cenderung supel. saya mencoba untuk mempersiapkan hati dan mental dari jauh jauh hari sebelum bertemu dosen yang lumayan kaku. dan lain sebagainya. sampai di S2 ini, saya bertemu dengan dosen yang secara kepribadian (dan mbti mungkin) sangat mirip dengan saya.
di satu sisi, karena saya menganggap mbti kita sama, saya jadi mengenal betul karakteristik dan kepribadian beliau, walau saya belum pernah berbincang panjang lebar. saya paham betul kekuatan beliau dan kelemahan beliau. di awal masa pembimbingan, saya di cerca habis habisan. tulisan saya dibilang berantakan dan sangat ciri khas saya. secara logika, karena saya mengenal karakteristik beliau, saya bisa menerima omongan beliau itu. terlebih, secara de facto, memang tulisan saya berantakan. mungkin bagi saya saat itu, secara subjektif tidak se-berantakan itu juga. namun tentu saja, jika dinilai secara objektif, benar, bahwa tulisan saya berantakan.
intinya saya bisa menerima omongan beliau secara logika.
namun di usia saya yang 27 tahun pada saat itu, ternyata saya terluka. ternyata saya sakit hati dengan ucapan itu, yang mana menurut logika saya 'nonsense' 'kenapa saya musti terluka?'. tapi pada faktanya, karena satu ucapan tersebut, saya kehilangan kepercayaan diri, dan ujungnya saya menunda mengerjakan revisi tulisan tersebut, hingga satu semester lamanya. saya tidak punya keberanian untuk melangkah, menghadap ke beliau, dan kembali mendengarkan omongan tersebut. walaupun belum tentu saya akan mendengar omongan yang sama kembali.
setahun lamanya saya berbaikan dengan diri saya sendiri. saya mencoba berbincang dengan teman seperjuangan dan yang sama-sama dibimbing oleh beliau, tentang bagaimana mereka melewati sesi bimbingan dengan dosen saya ini. saya meng-iya-kan segala ucapan bahwa beliau baik, karena secara logika saya bisa menangkap niat baik beliau, walaupun oleh hati saya, masih belum ikhlas untuk menerima hal tersebut. saya juga mencoba untuk tidak menggubris rasa sakit hatinya, dan hanya fokus untuk maju melangkah, walaupun ternyata masih jatuh kembali.
akhirnya satu semester berlalu, dan saya putuskan untuk menghadapi beliau apapun yang akan terjadi. saya bertekad untuk tidak lari kembali, karena kebetulan sudah kepepet juga dengan batas akhir studi saya. karena saya sangat mengenal beliau, sebanyak saya mengenal diri saya, saya tidak berencana untuk mendekati beliau secara pendakatan personal. saya tahu, untuk tipe kepribadian seperti beliau, saya hanya perlu memperlihatkan ketepatan waktu, tugas-tugas yang selesai, walaupun apa yang saya sudah lakukan tersebut masih salah. saya percaya bahwa beliau bisa diluluhkan dengan kuantitas saya bertemu beliau, dibandingkan dengan kualitas saya bertemu beliau.
dan ternyata benar. apa yang saya niatkan kemudian saya jalankan. alhamdulillah Allah beri kemudahan saya untuk melalui. Alhamdulillah Allah beranikan saya untuk menghadapi ketakutan saya. Alhamdulillah juga Allah menyelesaikan proses ini dengan banyak hal yang bisa saya syukuri atas pertemuan saya dengan beliau.
setiap saya menghubungi beliau, saya tidak berusaha melebih lebihkan dengan berbasa basi. benar benar singkat sesuai dengan apa yang menjadi urusan saya terhadap beliau saja. dan beliau pun kemudian juga tidak berusaha berbasa-basi dengan saya, yang which is sangat saya syukuri juga sebenernya. hingga hari ini, saya menyerahkan laporan pamungkas, laporan yang sangat sangat terakhir saya kepada beliau. di ucapan terima kasih saya yang terakhir, beliau memberikan emote heart kepada saya. sesuatu yang tidak bisa saya bayangkan satu tahun yang lalu, saat beliau masih samar mengenal saya dan saya pun masih takut menghadapi beliau.
saat ini beliau sedang sakit. cukup parah hingga beliau tidak aktif masuk kerja selama 2-3 bulan ini. padahal sebelumnya beliau sangat sangat aktif, tidak pernah absen, berada di kampus. di tengah kondisi beliau yang masih sakit atau masa pemulihan, beliau masih memperhatikan mahasiswanya dengan rutin memberikan waktu bimbingan secara online seminggu sekali. sesuatu yang bahkan dosen dosen lain yang sehat wal afiat masih sering datang ke kampus pun, tidak lakukan. saya sangat mengagumi dedikasi beliau, dan dari lubuk hati saya yang paling dalam, saya ingin mendo'akan kesehatan beliau. semoga beliau selalu diberikan kesehatan yang panjang, dan rejeki yang berlimpah aamiin yaa Rabbal alamiin













