#CeritaMalam: Hujan Bersama Bapak
Sore itu langit Bandung mendung, tak ada petang secantik biasanya. Pulang ‘ngeles’ SBMPTN di daerah Buah Batu. Saya kehabisan ongkos karna beberapa kali salah angkot saat mencari rumah si anak les tersebut. Sudah menjadi hal biasa bagi saya untuk menelpon Bapak saat genting seperti ini.
“Pak, bisa jemput gak di Buah Batu. Ini kehabisan ongkos”.
Jam menunjukan pukul 5.
“Bisa. Tungguin disitu sampai bapak datang”.
Tiba-tiba hujan deras, sangat deras. Bandung pasti banjir kalau hujannya kaya begini, pikir saya. Ternyata benar, Bapak kejebak banjir dan macet. Untung saat itu tidak sedang sholat, saya menunggu sampai jam 7 malam. Sesekali menggerutu karna malu terus-terusan berdiri meneduh di depan pos polisi. Beberapa tukang parkir bertanya-tanya dan sudah ratusan angkot yang lewat menawari dengan bunyi klakson. Sudah jam 8, saya mulai kesal.
“Hallo pak masih dimana?”
“Kejebak banjir sama macet, pokoknya tungguin sampai Bapak datang”
Bukan khawatir, malah mengumpat. Astagfirullah..
Bapak sampai di tempat saya berdiri jam 21.00. Bayangkan nunggu dari jam 5 sore sampai jam 9 malam! Berdiri meneduh di pos polisi. Ah bercampur kesal ini.
Saat Bapak datang, saya cemberut. Lalu Bapak bilang,
“Bapak tadi pas Atun nelpon langsung jalan, tapi banjir, muter ke jalan lain juga banjir, belum lagi macet”.
Tapi saya yang karakternya keras kepala malah diam tanda tak terima alasan apapun. Kami bergegas pulang. Saat mau naik motor, Bapak memberikan helm nya.
“Nih pake biar gak kehujanan”.
Deg! Saya tiba-tiba malu, astagfirullah merasa bersalah dengan perlakuan tadi ke Bapak.
Kaca matanya kebasahan, karna tidak memakai helm. Bapak berhenti sejenak, menyeka embun di kaca matanya. Lalu berjalan kembali. Belum sampai disitu perjalanan kami.
Saat melewati Muara (setelah Tegallega), Bapak memutuskan untuk melawan arus, jadi kami berada di jalur kanan, menyalahi aturan, tapi kata Bapak di jalur kiri banjir. Dan ternyata, jalur kanan pun banjir!
Kami berusaha melewati banjir di depan TPS (Tempat Pembuangan Sampah) dekat Tegallega. Sampai akhirnya motor pun mati karna kemungkinan banyak air yang masuk ke mesin motor. Saat itu ketinggiannya sudah selutut.
“Pak, Atun turun aja ya. Nanti didorong”
“Jangan!!! Biar Bapak aja, Atun duduk aja”.
Kalian tahu apa yang dilakukannya?
Bapak dan juga saya masih tetap di motor, kakinya terus berjalan sambil menarik badan motor. Padahal badan saya lumayan berat, belum lagi posisi kaki yang seperti dayung mencoba berjalan di air. Karna kami mogok disekitar TPS, otomatis airnya bau menyengat. Tapi ah beliau tanpa ragu terus berjalan sejauh 10 meteran maju sampai menemui jalan yang tidak kebanjiran. Saya terus berpegangan erat. Tanpa sadar saat Bapak menarik kaki nya dengan nafas yang kelelahan, tetes hujan yang hangat dari pelupuk mata membersamai gerimis yang turun pada malam itu. Harus seperti inikah pengorbanan seorang Bapak untuk anaknya?
Kalau nonton iklan rokok, tentang anak yang selalu minta dijemput oleh Bapaknya, saya selalu terharu. Seperti kisah saya dan Bapak. Lagu Ayah dari Seventeen juga seringkali membuat luruh.
MasyaAllah, begitu mulianya perjuangan beliau. Lantas saya yang hanya telat dijemput, berani memperlakukan Bapak seperti tadi? Astagfirullah.. Astagfirullah.. Semoga Allah mengampuni saya dan merahmati Bapak. Terimakasih atas pelajaran berharga di hari itu Pak, disaat hujan bersama Bapak. Bapak is my hero! :*
(Bacalah selalu saat kamu merasa lagi 'kesal' dengan Bapak ya, Tun)
Bandung, 15 April 2019
@janatunrahmilah

















