Menjadi Ibu, Ikhtiar Menanamkan Keimanan Menuai Keberkahan
Malam ini, seperti malam-malam biasanya di Kota Cantik Bumi Tambun Bungai, aku mengambil ponselku kemudian menghubungi ibu. Sepertinya aku salah memilih hari, ibu memiliki jadwal kajian dan memutuskan mengakhiri obrolan kami. Seperti biasa, beliau membiarkan telepon tetap menyala, dan yang aku lakukan, seperti biasa pula, selalu menunggu sampai 1 jam ini berakhir. Entah sambil mendengar percakapan beliau dengan bapak, atau sekedar mendengar suara sayup-sayup suara TV yang bising, atau kadang suara gemerisik jangkrik di belakang rumah.
Ingatanku melayang, mengingat semua jasa ibu kepada kami, ketiga putrinya yang sekarangpun sudah menjalankan peran sebagai ibu, ibu anak dua. Ditengah dinginnya malam di sudut desa tepi pantai, ibu selalu bangun disepertiga malam, menghamparkan sajadah untuk shalat malam dan berdoa untuk anak-anaknya. Lebih dari itu, setiap pagi, beliau selalu menyiapkan bekal untuk kami bawa ke sekolah, dari SD sampai SMA. Beliau ingin memastikan apa yang masuk kedalam perut anak-anaknya hanya makanan yang halal dan toyyib. Putri beliau yang masih belum tau apa-apa dulu ini sering mengeluh karena berbeda dari teman sepantarannya, tidak bisa jajan bebas. Uang saku terbatas, ketika SMA hanya cukup untuk naik bus pulang-pergi.
Sungguh besar jasa seorang ibu, apalagi ketika bulan Ramadhan datang. Ibu selalu bangun pukul 2 dini hari untuk menyiapkan sahur, dan ketika pukul 3 sore sudah mulai menyiapkan hidangan buka puasa. Tak heran, Allah secara khusus menyebutkan ibu dalam Al Qur’an. Mulai dari mengandung, dengan segala kelemahan yang terus bertambah. Mual muntah di trimester pertama, sampai rasa tidak nyaman pada lambung yang mulai terdesak di trimester ketiga. Tak lupa, tetes demi tetes ASI yang ibu berikan selama dua tahun dengan penuh perjuangan.
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun.Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Akulah kembalimu.” (QS. Luqman : 14)
Ketika memutuskan untuk menjadi ibu, berarti siap dengan segala tantangan yang mungkin datang. Sekarang, giliranku untuk meneruskan hal-hal baik yang beliau ajarkan kepadaku. Untuk putri tercintaku Nadhira, putri kecil yang sudah bisa ikut shalat disamping bunda, dan adik Ghaisa yang sudah bisa tersenyum menatap bunda Kadang lelah terasa, ketika harus berkutat dengan pekerjaan, urusan domestik rumah tangga, dan beberapa amanah yang Allah titipkan. Belum lagi target ibadah harian yang kadang masih belum bisa maksimal, apalagi di bulan Ramadhan. Menjadi ibu, ikhtiar tanpa henti, mendidik generasi rabbani yang berpegang erat pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.
___
Palangka Raya, Kota Cantik.
12 Januari 2024
Menghitung hari menuju Ramadhan. Usia Ghaisa tepat 3 bulan. Barakallahufik ✨










