Tadi malam listrik padam.
Waktu itu aku lagi shalat isya di kamar. Anak-anak main di ruang tengah. Rara lagi asyik main jam tangan ayah yang sudah rusak (yang ada senternya itu), sambil main lego. Ghaisa sibuk menggunting kertas pakai gunting kecilnya. Ayah masih di kantor, pulang malam.
Rara langsung sigap, “Dek, tenang. Sini sama mbak, kita cari sumber cahaya.” Dia coba nyalakan jam tangan ayah—sempat nyala sebentar, lalu mati lagi. Akhirnya dia gandeng adeknya, pelan-pelan jalan ke arah kamar, ke aku yang masih di rakaat pertama.
Jujur, shalatku jadi nggak khusyuk. Tapi tetap kulanjutkan. Aku tahu ruang tengah aman, nggak ada yang berbahaya.
Lalu terdengar suara “duk”.
Ternyata kepala adek, kejeduk pintu.
Mereka akhirnya sampai di kamar, merambat sambil pegang lemari, lalu duduk di sampingku. Nggak lama, Rara mulai nangis, “Rara takut, Bundaaa… ini Rara sama adek, Bundaa…”
Adek awalnya masih berusaha tenang, “Tenang, Mbak…” tapi ya, akhirnya ikut nangis juga.
Aku selesaikan shalatku secepatnya.
Habis itu langsung kupeluk mereka. Nyalain lampu emergency, senter HP, buka pintu biar ada sedikit cahaya, sambil cari kipas portable. Sekalian chat ayah mereka, minta pulang lebih cepat.
Pelan-pelan kutenangkan mereka. Di tengah suasana itu, sebenarnya aku juga senyum-senyum sendiri—lucu banget lihat usaha Rara jadi “kakak pemberani”.
Sambil nunggu listrik nyala, kami beres-beres potongan kertas hasil karya adek yang berserakan. Lalu pindah ke kamar, baca buku kisah nabi dan rasul.
Tiba-tiba adek nangis lagi, “Ayah mana… mau sama ayah…”
Aku coba tetap tenang. Dengerin dulu, lalu bilang, “Adek sedih ya… sabar ya, insyaAllah sebentar lagi ayah datang.”…dan ya, malah makin kenceng nangisnya.
Sekitar 30 menit kemudian, listrik akhirnya hidup. Ayah belum kunjung pulang dari kantor. Sudah lebih dari pukul 8 malam.
Kami lanjut baca buku sebentar, lalu siap-siap tidur. Lampu dimatikan, doa dibaca.
Nggak lama, ayah pulang. Langsung masuk kamar, nemenin adek yang masih sesenggukan.
Malam yang sederhana, tapi hangat—meskipun sempat gelap.
Palangka Raya, 28 April 2026